Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 16 Agu 2017 17:55 WIB

TRAVEL NEWS

Batu Bacan Meredup, Pulau Bacan Ikut Meredup

Wahyu Setyo Widodo
Redaksi Travel
Foto: (Wahyu/detikTravel)
Foto: (Wahyu/detikTravel)
Labuha - Tren batu akik pernah mengangkat nama Pulau Bacan di mata dunia. Namun kini seiring tren batu meredup, nama pulau ini pun ikut meredup.

Kios milik Graci Johan setengah tertutup. Dari luar, nampak tidak ada keramaian dan kesibukan yang berarti. Seperti sebuah toko yang hidup segan, dan mati tak mau.

Itulah kios tempat Aci, begitu dia biasa disapa, memamerkan hasil karyanya. Apalagi kalau bukan batu Bacan, batu Obi, dan batu-batu mulia lainnya, yang sudah selesai diasah dan dipasang ke gagang cincin.

Padahal beberapa tahun silam, pengunjung datang silih berganti ke Pulau Bacan. Keramaian sudah tidak perlu dibayangkan lagi di masa itu.

"Sekarang so sepi. Sudah tidak ada lagi yang cari batu. Sekarang yang cari batu, hanya yang benar-benar kolektor," ujar Aci Johan, kepada detikTravel di kiosnya, Selasa (15/8/2017).

Aci Johan dan Bacan hasil karyanya (Wahyu/detikTravel)Aci Johan dan Bacan hasil karyanya (Wahyu/detikTravel)
Pulau Bacan di Halmahera Selatan memang jadi salah satu lokasi terbaik untuk berburu batu akik. Batu yang dihasilkan dari pulau ini disebut sebagai Batu Bacan. Warnanya pun khas, hijau terang dan ada juga yang biru, dengan berbagai macam variannya.

Tapi yang perlu traveler tahu, batu Bacan sebenarnya tidak hanya dihasilkan di Pulau Bacan. Tetapi malah ditambang di pulau lain, yaitu Pulau Kasiruta, yang lokasinya tak jauh dari Pulau Bacan.

"Aslinya dari Pulau Kasiruta, ini banyak ditambang di sana. Cuma karena namanya susah, akhirnya lebih dikenal batu Bacan," ungkap Iksan, pemandu yang menemani detikTravel berkeliling Pulau Bacan dalam rangka acara 'Road to Widi International Fishing Tournament (WIFT) 2017'.

Cincin Batu Bacan Produksi Pulau Bacan (Wahyu/detikTravel)Cincin Batu Bacan Produksi Pulau Bacan (Wahyu/detikTravel)
Seiring meredupnya tren batu akik secara nasional, nama Pulau Bacan pun ikut meredup. Dari sisi ekonomi, pendapatan warga pun menurun drastis.

Dulu, satu cincin batu Bacan berkualitas top harganya paling mahal bisa mencapai Rp 50 Juta. Sekarang, cincin batu Bacan ini hanya laku paling mahal sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 5 Juta.

"Dulu waktu masih tren, penghasilan perajin batu Bacan bisa jutaan, sampai puluhan juta setiap bulannya. Sekarang penghasilan mereka turun drastis," imbuh Iksan.

Batu Bacan di Kios Aci Johan pun dibanderol cukup murah. Satu cincin batu Bacan yang sudah jadi, dihargai Rp 150 ribuan. Itu untuk cincin dengan batu berkualitas standar.

Aci Johan melayani pembeli (Wahyu/detikTravel)Aci Johan melayani pembeli (Wahyu/detikTravel)
Untuk cincin dengan batu Bacan berkualitas top, di kios Aci Johan harga paling mahalnya mencapai Rp 1 Juta. Harga itu berlaku juga untuk cincin batu Obi.

Meski harga dan pendapatan dari mengolah batu Bacan turun drastis, tetapi Aci Johan bersama beberapa perajin batu Bacan lainnya tetap setia dengan pekerjaannya. Di masa depan, mereka berharap suatu saat nanti, harga Batu Bacan bisa kembali naik, meski secara perlahan.

"Meski sudah nggak ngetren lagi, tetapi tetap masih ada kolektor dan maniak batu yang ke sini kok. Cuma mereka lebih selektif saja sekarang belinya. Hanya batu-batu berkualitas saja yang mereka beli," tutup Iksan. (wsw/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED