Setelah Hotel Santika, Java Banana, dan El Royale Hotel, kini hadir Grand Harvest Resort & Villas yang menawarkan berbagai kemewahan di tengah suasana sejuk persawahan.
Menteri Pariwisata RI Arief Yahya mengatakan, resort ini semakin menunjang perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Apalagi, telah ada penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi yang membuka lebar aksesibilitas dari dan menuju Banyuwangi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Ardian Fanani/detikTravel |
Arief menambahkan, keberadaan penginapan yang mengedepankan pemandangan alam menjadi daya tarik tertinggi wisatawan.
"Yang paling besar, sekitar 60 persen, wisatawan tertarik dengan nature (alam). Baru 35 persen tertarik pada culture (budaya), dan hanya 5 persen daya tarik dari mind made," ungkap Arief.
Grand Harvest Resort & Villas merupakan resort seluas 6 hektare yang dibangun di tengah persawahan Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Jaraknya hanya sekitar 35 menit dari Paltuding, pos terakhir menuju taman wisata alam Kawah Ijen yang tersohor dengan fenomena api biru (blue fire) nya.
Resort ini di desain sangat spesial. Rancangan desainnya menonjolkan ornamen khas Suku Using (suku asli Banyuwangi). Salah satunya, replika omprok (topi) penari Gandrung ukuran jumbo yang langsung bisa dilihat saat pengunjung memasuki gerbang utama.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pihaknya terus mendorong investasi hotel yang mengedepankan konsep sustainable dan yang mengusung arsitek khas Banyuwangi. Anas juga mengatakan pihaknya tidak sembarang memberikan ijin pendirian hotel.
Foto: Ardian Fanani/detikTravel |
Menurut Anas, hadirnya resor ini bisa membantu kebutuhan kamar hotel di Banyuwangi. "Setiap tahun kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat sehingga kebutuhan penginapan juga ikut meningkat. Kalau kita cek, setiap akhir pekan hampir semua hotel pada penuh, apalagi kalau pas ada even. Maka keberadaan resort baru ini akan sangat membantu memenuhi kebutuhan kamar di Banyuwangi, sehingga tidak ada lagi tamu yang kehabisan kamar," kata Anas.
Data menunjukkan, tingkat kunjungan wisatawan domestik, dari sekitar 500.000 wisatawan pada 2010 meningkat menjadi kisaran 4 juta orang pada 2016. Adapun wisatawan mancanegara naik dari kisaran 7.000 menjadi 75.000 wisman pada periode yang sama.
"Ini belum lagi ditambah dengan kunjungan instansi yang studi banding. Selama tahun 2016 lalu, terdapat lebih dari 24.000 orang yang mengunjungi Banyuwangi dari seluruh Indonesia untuk studi banding. Hingga Maret 2017 saja, sudah lebih dari 100 instansi pemerintahan dan swasta yang berkunjung ke Banyuwangi," paparnya. (bnl/bnl)












































Foto: Ardian Fanani/detikTravel
Foto: Ardian Fanani/detikTravel
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah