Kunjungan Wisman Tak Capai Target, Ini Penjelasan Lengkap Menpar Arief

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kunjungan Wisman Tak Capai Target, Ini Penjelasan Lengkap Menpar Arief

Ahmad Masaul Khoiri - detikTravel
Kamis, 01 Feb 2018 15:22 WIB
Kunjungan Wisman Tak Capai Target, Ini Penjelasan Lengkap Menpar Arief
Menpar Arief Yahya usai peluncuran Kalender Wisata Banyuwangi 2018 (Masaul/detikTravel)
Jakarta - Kunjungan wisman tahun 2017 naik 21 persen, tapi kurang dari target dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan alasannya.

Ditemui di Kementerian Pariwisata, Arief Yahya menyebut bencana alam di Bali beberapa waktu lalu memberi pengaruh yang besar. Bisa disimpulkan saat ini belum ada daerah seperti Pulau Dewata dalam hal menarik wisatawan.

"Pas kan. Ya sudah pas," kata Arief ditanya soal data dari BPS berupa kunjungan wisman yang kurang dari target, Kamis (1/2/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi sudah saya sering katakan, impact Bali itu 1-1,3 juta dan sekarang terjadi 14 juta atau 93 persen. 94 persen dari target. Dan itu bisa kita hitung. Tapi saya berikan rumusnya. Biar kalau kejadian di daerah lain anda punya rumusnya," imbuh dia mengawali penjelasannya.

BACA JUGA: Kunjungan Wisman 2017 Naik 21 Persen, Tapi Kurang dari Target

Pertama, orang yang datang ke Bali jikalau ada 10 orang, maka yang direct itu ada 6 orang. Jadi 60 persen direct dan 40 persen indirect ke Bali. Selanjutnya, pariwisata Bali itu sumbangannya ke Indonesia atau skala nasional sebesar 40 persen. Inilah kenyataan yang terjadi.

"Jadi apa yang terjadi di Bali itu kira-kira 400 ribu direct. 200 indirect. Indirect China-Manado-Bali. Lalu impact nasional, kalau ada travel warning ke Bali impact-nya tidak hanya orang ke Bali tapi juga ke nasional," jelas Arief.

"Kok bisa begitu, sama dengan kita. Misalnya ada bom di Paris, kita orang Indonesia, merasa seluruh Prancis tidak aman. Ini sama. Apalagi ini Bali terkenal, sama. Jadi impact nasional," tambah dia lagi.

Pihak Kemenpar beserta pihak terkait sudah menghitung rata-rata kerugian dari minus 1-1,3 juta wisman. Dikatakannya pula bahwa terjadinya 1 juta shortage (kekurangan) dibanding dengan target, padahal di hitungan nasional sampai bulan Oktober sudah sesuai target.

"Kita sudah rataskan dengan presiden. Kenyataannya seperti itu. Apa yang harus dilakukan, di Bali salah satu keputusan yang bagus adalah mencabut tanggap darurat. Karena tanggap darurat tidak elok untuk wisatawan. Mengerikan," tegas Arief.

"Tetap kita akan memberikan bantuan kepada yang terkena musibah, tetapi term yang menakutkan itu bisa dihilangkan," jelas dia lagi.

Kata Arief, bantuan yang diberikan BNPB saat Gunung Agung erupsi beberapa waktu lalu itu perharinya mencapai Rp 150 juta atau setara 15 ton beras. Sedangkan kalau Bali tutup sehari pariwisatanya, maka ruginya Rp 250 miliar.

"Lebih dari 1.000 kali (ruginya). Media harus mengerti, berita buruk yang kita bawa ruginya 250 miliar rupiah. Kalau term tanggap darurat kita gunakan dan itu membuat tamu-tamu kita ketakutan, ruginya lebih tinggi," jelas Arief.

"Jangan buat istilah-istilah menakutkan," pungkas dia.

Sebelumnya diberitakan perhitungan jumlah kunjungan wisman 2017 rampung sudah. Ada 14 juta wisman, masih kurang 1 juta wisman dari target Kementerian Pariwisata sebanyak 15 juta.

Hal itu dijabarkan dalam data statistik terbaru yang dirilis oleh BPS. Selama tahun 2017 tercatat jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 14.039.799. Masih kurang dari jumlah yang ditargetkan Kemenpar yaitu 15 juta wisman.

Walau begitu, angka itu sebenarnya sudah naik dari jumlah kunjungan wisman tahun 2016 lalu sebanyak 11.519.275 orang. Secara statistik, angkanya meningkat 21,88% dibanding tahun lalu. (rdy/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads