Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 20 Feb 2018 23:10 WIB

TRAVEL NEWS

Ketika Pangeran Inggris Jatuh Cinta dengan Afrika

Bona
detikTravel
Foto: (AFP)
Foto: (AFP)
Nairobi - Afrika tak hanya sekedar safari tapi juga rumah kedua bagi pangeran Inggris, Harry dan William. Dua pangeran Inggris ini mengaku jatuh cinta dengan Afrika.

Baru-baru ini, Pangeran Harry melakukan perjalanan ke Afrika. Afrika memang menawarkan pengalaman alam liar yang berharga.

Kecintaan Pangeran Harry pada Afrika ternyata sudah terjadi sejak lama. Afrika menjadi tempat yang nyaman dan bisa membuat Pangeran Harry menjadi diri sendiri.

"Afrika adalah tempat dimana saya merasa lebih seperti diri saya daripada di manapun di dunia ini. Saya pertama kali datang pada tahun 1997, langsung setelah ibu saya meninggal. Ayah saya memberi tahu saudara laki-laki saya dan saya untuk mengemasi barang-barang kami. Kami pergi ke Afrika untuk melepaskan diri dari semua itu," ujar Pangeran Harry, seperti dilihat di Dailymail, Selasa (20/2/2018).

Mulai dari saat itu, Pangeran William memulai perjalanan ke Lewa Downs di Kenya. Tempat ini Pangeran William mulai mengenal konservasi alam dan berteman dengan anak-anak Afrika seumurannya.

Pangeran William ikut berpartisipasi dengan salah satu konservasi alam, yaitu Lewa Conservancy. Saat itu, Pangeran William mulai mengenal akan status badak dan gajah yang harus dilindungi.

Pangeran Harry pun mengikuti jejak abangnya. Ia menemukan passionnya di Lesotho untuk mencurahkan perhatiannya pada anak-anak yang terkenak AIDS. Pangeran Harry bersama Pangeran Seeiso dari Lesotho, dia membentuk badan amal Sentebale untuk mereka.

Dari Lesotho, Pangeran Harry terus menjangkau daerah-daerah lain sampai Botswana. Seperti William, dia telah menggabungkan cintanya dengan negara ini dengan keinginan untuk dilibatkan dalam konservasi satwa liar.

Afrika Selatan adalah salah satu habitat liar terakhir dimana badak Afrika bertahan. Ada sekitar 25.000 badak hitam dan putih yang tersisa di benua ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir sindikat perburuan internasional telah membunuh mereka karena tanduk mereka.

Jika pembunuhan ini terus berlanjut, kepunahan spesies ada. Jadi, seperti gajah, translokasi badak ke daerah aman terus diadakan. Para badak ini akan dipantau dan diberi pengawasan 24 jam oleh penjaga bersenjata. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED