Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 26 Jun 2018 13:30 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Tempat-tempat Surfing Favorit Turis di Indonesia

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Ilustrasi peselancar di Nias (dok Kemenpar)
Ilustrasi peselancar di Nias (dok Kemenpar)
Jakarta - Diberkahi dengan alam bawah laut, Indonesia juga punya banyak destinasi surfing yang dicintai peselancar asing. Ini beberapa yang jadi favorit.

Sudah bukan rahasia umum, tak sedikit wisatawan asing datang ke Indonesia untuk main surfing. Hal itu pun diungkapkan oleh Arya Subyakto selaku juri World Surfing League Nias Pro 2018 dan Ketum Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) saat ditemui detikTravel pada acara peluncuran Festival Ya'ahowu Nias 2018 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Senin malam (25/6/2018).

"Sekitar 2,3 juta (surfer-red) per tahun 2007. Sekarang Bali berapa, mungkin lebih banyak," ujar Arya.

Arya Subyakto, Ketum PSOI (Randy/detikTravel)Arya Subyakto, Ketum PSOI (Randy/detikTravel) Foto: (Randy/detikTravel)

Dijelaskan oleh Arya, Indonesia begitu disukai oleh peselancar asing karena memiliki banyak ragam ombak. Mau jenis ombak apa saja, ada di Indonesia.

"Indonesia punya tipe ombak apa saja, bahkan kita punya ombak Bono yang berlangsung 2 jam," pungkas Arya.

BACA JUGA: Surfing di Sungai, Indonesia Punya!

Apabila Hawaii di Amerika disebut sebagai Mecca of Surf, maka untuk Indonesia Arya menganalogikannya sebagai 'surfing Disneyland'. Hampir semua ombak di Indonesia menarik bagi para peselancar.

"Aceh Simeulue, Kepulauan Banyak, Mentawai, Nias, Bengkulu, Pantai Krui (Lampung), Panaitan (Jabar), Cimaja (Pangandaran), Batu Karas, Jatim Pantai Merah, G-land. Itu salah satu ombak terpanjang di dunia, belum lagi Bali, Lombok, Sumbawa sampai Rote," terang Arya.

Di antara sejumlah spot surfing di atas, Arya menyebut nama Bali sebagai cikal bakal surfing di Indonesia. Sedangkan Mentawai adalah yang sedang naik daun.

"Bali gak bisa disanggah, karena surfing lahir di situ walau sekarang overcrowded. Sekarang Mentawai yang lagi naik daun. Kalau kalian beli majalah surf gak ada foto Indonesianya, potong leher saya," ujar Arya sambil tertawa.

Menariknya lagi, turis peselancar disebut tak ambil pusing untuk urusan akomodasi. Homestay sudah lebih dari cukup. Masa tinggalnya juga jauh lebih lama daripada turis diver.

"Yang penting ada air, mereka maunya back to nature. Surfer bisa sampai 2 bulan extend visa," ujar Arya.

Indonesia tentu boleh berbangga karena memiliki banyak destinasi surfing. Namun diakui oleh Arya, sampah jadi musuh terbesar bagi destinasi surfing di Indonesia. Tugas terberat kita adalah untuk menjaganya tetap bersih.

"Tapi musuh Indonesia kita-kita sendiri, sampah. Kalau pantai kotor mereka gak datang lagi," tutup Arya.



Tonton juga video '14 Negara Ikuti Kompetisi Kite and Wind Surfing di Pulau Tabuhan':

[Gambas:Video 20detik]




(bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED