Ketika finis, peserta disambut dengan ragam atraksi di Kabupaten Majene. Atraksinya pun beragam. Mulai dari Tari Kipas, Sayang Sayang Puisi, hingga Pakkacaping.
"Kegiatan ini diharapkan dapat mencapai tiga tujuan utama, yaitu sebagai sarana promosi budaya bahari Mandar, pelestarian artefak bahari Mandar, dan meningkatkan kunjungan wisatawan di Sulawesi Barat," ujar Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Barat, Farid Wajdi, dalam keterangan tertulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mandala Bintang Tamu berhasil menjadi sandeq yang meraih juara 1 dalam festival ini. Sandeq sendiri merupakan perahu tradisional Mandar sekaligus ikon Sulbar dan telah diketahui dunia. Bahkan Festival Sandeq Race sudah tercatat di agenda nasional Kementerian Pariwisata.
"Ini dapat membantu promosi daerah kami. Untuk itu harus dilestarikan dengan mulai mendidik putra-putra Sulbar agar tahu membuat perahu sandeq tradisional. Ke depannya diharapkan para wisatawan lokal maupun internasional akan lebih tertarik berkunjung ke Sulbar," katanya.
Foto: Dok Kemenpar |
Farid juga mengatakan Festival Sandeq Race akan dijadikan atraksi andalan demi menggaet wisatawan nusantara dan mancanegara. Bahkan Sulbar siap membuat program pelestarian kapal sandeq dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada anak muda sebagai regenerasi.
"Kami akui saat ini tidak banyak yang bisa mengendarai sandeq. Kita punya banyak kapal sandeq, tapi kekurangan jokinya. Karena itu kita akan melatih anak-anak muda terkait sandeq ini. Ke depannya, kapal sandeq akan kita tawarkan kepada wisatawan minat khusus," paparnya.
Festival Sandeq Race, lanjutnya, juga memberikan pengaruh pada perekonomian masyarakat. Sebab, penginapan hingga restoran lebih laris dari biasanya.
"Pedagang kaki lima ikut kecipratan rezeki sehingga Festival Sandeq Race selalu menjadi ajang yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat," jelasnya.
Foto: Dok Kemenpar |
Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan sport tourism efektif dalam mempromosikan pariwisata berbagai daerah di Indonesia.
"Sport tourism efektif karena nilai media value atau media branding-nya tinggi. Media value yang didapat minimal bisa dua kali lipat dari direct impact turis yang datang karena dipromosikan oleh media nasional dan internasional sebelum, sesaat, dan sesudah acara," katanya.
Arief pun memberi contoh, jika Moto GP kelak diadakan di Indonesia, maka potensi keuntungan minimumnya hingga Rp 2 triliun dengan modal Rp 130 miliar. Moto GP akan bisa mengundang 100.000 wisatawan dan menghasilkan nilai ekonomi Rp 1 triliun. Sedangkan media value-nya minimal mencapai Rp 2 triliun.
"Memang pemerintah daerah butuh modal besar di awal akan berkorban dulu, tapi memang seperti itu biasa. Uniknya, sport tourism ini modalnya tidak hanya dari pemda, akan banyak sektor yang terlibat," pungkasnya. (ega/fay)












































Foto: Dok Kemenpar
Foto: Dok Kemenpar
Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama