Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 12 Sep 2018 21:45 WIB

TRAVEL NEWS

Mau Jadi Pilot Garuda Indonesia, Ini Tahapannya

Ahmad Masaul Khoiri
Redaksi Travel
Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia (Shinta Angriyana/detikTravel)
Ilustrasi Pesawat Garuda Indonesia (Shinta Angriyana/detikTravel)
Jakarta - Sejumlah tahapan panjang harus dilalui jika kamu ingin menjadi seorang pilot. Di Garuda Indonesia sendiri ada 9 tahapan yang harus dilewati.

Dijelaskan VP Learning and Development Garuda Indonesia Training Center (GITC), Martunis, jika seseorang yang ingin menjadi pilot merupakan lulusan SMA sederajat harus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Setelah lulus dan memperoleh sertifikat baru bisa mengikuti seleksi pilot Garuda Indonesia.

"Untuk mereka jadi pilot katakanlah lulusan SLTA otomatis dia harus ikut pendidikan flying school, itu banyak di Indonesia. Ada beberapa flying school mereka bisa cari di mana aja standarnya sama itu mungkin dalam waktu 1-1,5 tahun setelah mereka lulus mereka mendapat sertifikat CPLIR sama multi engine jadi persyaratan sekarang mereka harus punya dua itu," jelas Marunis di GITC, Jalan Raya Duri Kosambi, Senin (10/9/2018).

"Setelah dari situ, mereka akan melamar ke operator-operator yang membuka aplikasi pilot. Seperti di Garuda Indonesia, membuka peluang bagi anak anak flying school menjadi pilotnya," imbuh dia.

BACA JUGA: Latihan Keras di Balik Paras Cantik Pramugari Garuda

Lebih lanjut, Martunis menjelaskan bahwa ada sembilan tahapan untuk menjadi pilot Garuda Indonesia. Mulai dari berat dan tinggi badan hingga tingkah laku menerbangkan pesawat akan ada di dalam tahapannya.

"Lalu mereka harus melewati tahap seleksi itu ada 9 tahapan, mulai dari seleksi penimbangan berat badan dan tinggi badan. Setelah itu mereka harus ikut return test untuk knowledge mereka nanti harus juga mengikuti tes Bahasa Inggris, ikut lagi ada semacam psikotes kita, di TNI AU punya nanti ada lagi background check lalu kompetensi ceck lalu medical check lalu masuk ke attitude. Mereka menjadi pilot yang memiliki sertifikat dua tersebut dia masuk ke kami Garuda mereka di tes bagaimana perilaku menerbangkan pesawat ada juga dari situ selesai kita. Terakhir itu masuk tahapan akhir (pantauan akhir) nah di Garuda ada di situ," urai dia.

Selain tahapan di atas ada juga sistem gugur jika ingin menjadi pilot Garuda Indonesia. Setelah lulus mereka akan masuk training center dan memilih apakan akan menerbangkan pesawat Airbus atau Boeing.

"Kita seleksi juga pakai sistem gugur training juga pakai sistem gugur juga. Iya baru ke training centre untuk pesawat yang dia pilih dia bisa ke Airbus 320 atau Boeing 737," jelas Martunis.

Saat masuk GITC, para calon pilot Garuda Indonesia akan menjalani sejumlah pelatihan. Rata-rata, dalam tahap ini mereka harus menghabiskan waktu selama hampir setengah tahun.

Simulator kokpit (Ahmad Masaul/detikTravel)Simulator kokpit (Ahmad Masaul/detikTravel)

"Kalau semuanya berjalan sesuai schedule itu enggak ada halangan itu antara 5 bulan sudah selesai. Itu simulasi lalu yang kita lihat di Gedung B, class room di sana belajar self learning pakai komputer base trianing sudah itu mereka masuk ITP, lalu mereka mempraktikkan apa yang mereka baca apa yang mereka pelajari SOP-nya setelah mereka lulus itu ya tergantung ada yang 9 sesion. Ada yang 14 mungkin tergantung tipe pesawat itu mereka di tes lulus, mereka baru masuk ke simulator," kata Martunis

Tes simulator pesawat sendiri selama 9 hingga 12 sesi tergantung tipe pesawat. Setelah lulus, dicek lagi oleh otoritas di luar GITC.

"Tapi nanti dia masuk ke lain operation mereka statusnya masih training," kata dia.

(Ahmad Masaul/detikTravel)(Ahmad Masaul/detikTravel)

Total biaya saat training?

"Tergantung tipe (pesawat), tapi moreless 450 juta per 1 pilot tapi variasi tergantung tipe pesawatnya," jelas Martunis.

Maskapai Garuda Indonesia sendiri menyesuaikan jumlah penerimaan pilot berdasar armada yang dimiliki. Begini hitungan dalam penerimaan pilotnya.

"Ya untuk kebutuhan pilot itu sebetulnya tergantung flip flat-nya berapa banyak kita punya pesawat. Kalau suatu saat kita beli pesawat, kebutuhanya akan banyak tapi kalau kita tidak beli pesawat kita akan steady yang sudah tua kita kembalikan lagi berarti akan bertambah juga, kalau gitu kita perlu tambahan," ucap dia.

"Butuh ada flip plan (per tahun). Katakanlah untuk 737 rasionnya 1 pesawat butuh set crew otomatis kan 10 pilot. Kalau kita misalnya ada 80 pesawat, 80 kali 5 sama dengan 400 orang," tutup dia. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED