Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Sep 2018 19:10 WIB

TRAVEL NEWS

Dear Pendaki Gunung, Hati-hati Kebakaran Hutan di Jawa

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Foto: dok.Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)
Foto: dok.Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC)
Jakarta -
Gunung-gunung di Jawa dan NTB menjadi destinasi wisata petualangan yang favorit. Tapi para pendaki harus hati-hati dengan ancaman kebakaran hutan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperingatkan para pendaki gunung-gunung di Jawa hingga Nusa Tenggara. Hal ini berkaitan dengan potensi adanya kebakaran hutan .

Dikabarkan BMKG, bahwa musim kemarau masih akan berlangsung hingga awal November nanti. Hingga kini sudah banyak gunung yang terbakar di Pulau Jawa, seperti Lawu, Andong, Sindoro, Sumbing, hingga yang terbaru adalah Ciremai.

Dijelaskan Agus Haryanta, staf Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan KLHK bahwa pihaknya juga terus memonitor keadaan ini. Karena kebakaran ini banyak terjadi di area konservasi atau hutan lindungnya.

"Dulu KLHK hanya menangani kebakaran hutan saja. Lalu berkembang ke lahannya," kata Agus dalam briefing bersama wartawan di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta, Rabu (19/9/2018).

"Di Jawa sampai Nusa Tenggara masih kemarau. Ramalan BMKG masih panjang sampai awal November," imbuh dia.

Kebakaran di gunung dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama adalah manusia itu sendiri, kedua campur tangan alam yang biasanya tak terjadi terus menerus dan ada di daerah-daerah tertentu.

"Biasanya kebakaran itu dari masyarakat mengolah lahan dan membakar sisa bahan yang nggak digunakan. Lalu ada pendaki yang kemping. Semua itu keteledoran mereka dalam menjaga api," ucap Agus.

"Kalau yang kesengajaan itu dari pembakaran buka lahan. Biasanya ya dari masyarakat lokal," imbuhnya.

Kebakaran lahan yang disebabkan alam bisa pula terjadi. Sebagai contoh kebakaran di Balikpapan yang berasal dari batubara di permukaan dan lava seperti di Gunung Merapi.

"Selain itu ya sumbernya dari manusia. Maka kita memperketat pengawasan penggunaan api. Mau bikin api unggun ada ketentuan khusus bikin api," pungkas Agus.
(msl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED