Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 18 Okt 2018 12:30 WIB

TRAVEL NEWS

Mengapa Kita Bisa Menangis di Pesawat?

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Ilustrasi penumpang pesawat menangis (Dok. Dirjen Perhubungan Udara/Shutterstock)
Ilustrasi penumpang pesawat menangis (Dok. Dirjen Perhubungan Udara/Shutterstock)
Jakarta - Tahu tidak? Seseorang bisa menangis atau mengeluarkan air mata di dalam pesawat. Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

Melansir CNN Travel, Kamis (18/10/2018), ada banyak hal yang mempengaruhi seseorang yang menangis di dalam pesawat. Survei dari Virgin Atlantic pada tahun 2011 yang menemukan bahwa lebih dari separuh responden (55%) setuju jika emosi penumpang akan meninggi ketika dalam penerbangan.

Dalam survei itu pula sebanyak 41% pria mengatakan bahwa mereka bersembunyi di bawah selimut untuk menyembunyikan air matanya. Berikut faktor-faktor yang menyebabkan kita menangis dalam penerbangan

1. Psikologis

Alasan pertama yang sederhana saat terbang itu, kita membawa segudang masalah kesehatan mental. Pada setiap usia, jenis kelamin, agama, ras dan latar belakang, banyak orang memiliki salah satu penyakit mental dasar, dari claustrophobia hingga agoraphobia, dan berbagai manifestasi kecemasan lainnya.

Hal di atas dijelaskan oleh Dr Robert L Quigley, wakil presiden senior dan direktur medis regional International SOS & MedAire. Tekanan dalam perjalanan cukup untuk memicu siapa saja yang memiliki tantangan kesehatan mental dasar mengeluarkan air mata apalagi mereka yang pergi meninggalkan serorang kekasih dan seorang diri melakukan perjalanan.


2. Fisik

Pesawat adalah transportasi yang memiliki pengaturan khusus terkait tempat duduk yang sering kali dianggap kurang nyaman karena terlalu sempit ruang gerak kakinya. Kata Dr Jodi De Luca, seorang psikolog klinis berlisensi di Colorado dan ahli di ketinggian dan emosi, pengaturan tempat duduk yang sempit dapat meningkatkan kecemasan.

Belum lagi kebutuhan dasar, seperti makanan hingga selimut yang tidak disediakan oleh maskapai pun dapat mempengaruhinya. Selanjutnya tekanan kabin pada ketinggian 5.000-8.000 kaki akan mempengaruhi fisik secara nyata.

"Ada banyak bukti bahwa Anda mengalami keadaan hipoksia (kekurangan oksigen) ketika dalam penerbangan. Yang mempengaruhi dan mungkin tidak disadari oleh penumpang adalah ada yang mungkin merasa cengeng, mengantuk," kata Quigley.

Tidak mengherankan jika kita menangis pada ketinggian 36.000 kaki. Bahkan, kata Stephen Groening, Profesor Sinema dan Media di Universitas Washington di Seattle, hiburan dalam pesawat bisa menjadi salah satu faktor pendukungnya karena kedekatan emosi dalam hiburan itu dengan penumpang.

3. Minuman

Alkohol dapat membantu mengurangi kecemasan terbang bagi sebagian orang, tetapi juga dapat memiliki sejumlah efek negatif. Minuman ini dapat membuat Anda tambah dehidrasi karena tekanan kabin.

Fisik dan psikologis akan sangat terpengaruh saat meminum alkohol dan tekanan kabin. "Alkohol dapat membuat Anda lebih emosional, begitu juga hipoksia," kata Quigley.

Jadi, saat Anda merasa sangat emosional saat terbang dan menjadi solusinya adalah menangis. Oleh karenanya, jika Anda merasa ingin menangis maka carilah tempat pribadi untuk menangis meski di dalam pesawat sekalipun.

Untuk menghindari menangis ketika bepergian dengan seseorang, maka bicarakanlah perasaan Anda. Jika Anda solo traveling adalah mengalihkan perhatian sehingga otak dipaksa untuk berpikir hal tersebut, dengan contoh memainkan permainan yang ada di dalam handphone.

Lalu, bagaimana dengan traveler, pernah menangis atau mengeluarkan air mata di dalam penerbangan kah? Solusinya apa? Tulis di kolom komentar ya.

Mengapa Kita Bisa Menangis di Pesawat?Foto: (Dok. Dirjen Perhubungan Udara)
(msl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED