Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 19 Nov 2018 23:10 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Suka Duka Tukang Tato Keliling di Pantai Kuta Bali

Aditya Mardiastuti
detikTravel
Wayan Suarta, tukang tato keliling di Pantai Kuta, Bali (Ditya/detikTravel)
Wayan Suarta, tukang tato keliling di Pantai Kuta, Bali (Ditya/detikTravel)
Kuta - Tukang tato keliling sudah jadi bagian tak terpisahkan dari Pantai Kuta, Bali. Mereka mencari nafkah menawarkan jasanya buat para turis. Ini kisah suka dukanya:

Pantai Kuta, Bali merupakan salah satu obyek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan mulai dari menikmati sunset hingga berselancar. Tak heran, banyak pedagang yang berkeliling menjajakan dagangannya ke para wisatawan.

Salah satunya Wayan Suarta (56), warga asli Kintamani, Bangli, Bali. Suarta ini mengaku sudah menjajakan tattoo temporer sejak era reformasi.

"Sudah sejak reformasi dagang tattoo, kalau sebagai pedagang sudah 36 tahun. Tahun keemasan itu di bawah 2000, mata uang kecil tapi berarti. Dulu seribu sudah dapat nasi," kata Wayan saat berbincang di lokasi, Jumat (16/11/2018) pekan lalu.
Kisah Suka Duka Tukang Tato Keliling di Pantai Kuta BaliWayan Suarta (Ditya/detikTravel)


Wayan mengatakan banyak pedagang asal Bali yang berjualan di Kuta adalah warga Kintamani. Dia menyebut beberapa bulan belakangan ini jumlah wisatawan terasa menurun.

"Sehari kadang dapat 2 tattoo satu orang. Hari ini sudah keliling empat kali tapi belum (ada pembeli)," tuturnya.

Harga tato yang Wayan tawarkan bervariasi tergantung besar-kecil atau kerumitan tato tersebut. Dia juga melayani permintaan tato sesuai desain yang dibawa pelanggannya.

"Paling murah Rp 20 ribu, tapi kadang masih ditawar. Kalau yang gede itu paling Rp 100 ribu. Kadang ngikutin motif atau pelanggan bawa sendiri, kalau request ya mahalan dikit," jelasnya.

Kisah Suka Duka Tukang Tato Keliling di Pantai Kuta BaliPedagang lain di Pantai Kuta (Ditya/detikTravel)


Dia menambahkan persaingan antar pedagang tato temporer juga banyak. Selain itu, banyaknya tempat wisata baru diduga membuat wisatawan beralih lokasi.

"Banyak persaingan, ya dapatnya cuma segitu aja. Sekarang tempat wisata juga sudah banyak, dari dulu kan fokus ke sini semua sekarang dari mana-mana ada pecah lagi, apalagi ada instagram sama online ya," ucap kakek satu cucu ini.

Meski merasa jumlah kunjungan wisatawan menurun, Wayan tak terpikir mencari pekerjaan lain. Sebab, dia merasa masih betah bekerja di Kuta.

"Memang dari dulu senang di sini. Mungkin besok kalau fisik sudah tidak kuat ya ngaso, sambil main ajak cucu," tuturnya. (ams/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED