Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 27 Nov 2018 09:25 WIB

TRAVEL NEWS

Kenapa Tenun Gringsing Bali Harganya Jutaan Rupiah?

Foto: Bu Kadek mendemonstrasikan proses medbed (membuat motif) benang diikat rafia (Aditya/detikTravel)
Karangasem - Wisatawan jangan kaget ya, kain tenun gringsing khas Desa Tenganan, Bali, harganya jutaaan rupiah. Semua itu ada alasannya.

Perbekel Desa Tenganan I Putu Yudiana menjelaskan proses pembuatan tenun gringsing itu dimulai dari pengolahan benang dari bahan kapas asli. Benang itu dicelupkan ke dalam minyak kemiri selama sekitar 5 minggu.

"Benang dicelup dengan minyak kemiri, terus proses ngelembengan (panjang), dan proses ngrengan (lungsi). Kemudian pembuatan motif dengan cara medbed," kata Yudiana pada detikTravel saat ditemui di Karangasem Festival akhir pekan lalu.

Proses medbed dilakukan dengan mengikatkan tali rafia untuk menyusun motif, sehingga usai diberi warna benang itu sudah memiliki motif. Setelah proses medbed selesai, benang tersebut kemudian dicelup menggunakan pewarna alam, seperti indigo untuk warna biru dan merah dari akar mengkudu.

Yudiana mengatakan, pencarian bahan pewarna alami ini pun semakin sulit. Salah satunya akar mengkudu. Dia menyebut bahan terbaik akar mengkudu dari Nusa Penida.

"Ada kepercayaan tanaman yang tumbuh di tanah berkapur warna merahnya bagus lebih menyala, termasuk kunyit," terangnya.

Teknik pembuatan tenun gringsing yang tak mudah (Aditya/detikTravel)Teknik pembuatan tenun gringsing yang tak mudah (Aditya/detikTravel)
Proses pewarnaan itu pun tak semua dilakukan di Tenganan. Saat pemberian warna biru indigo pewarnaan itu dilakukan di luar desa. Sebab aroma dari tanaman tersebut menyengat dan menimbulkan pencemaran.

"Dibuat motif dengan medbed, setelah itu dicelup dengan warna biru dari indigo, sekarang gringsing nggak ada biru. setelah biru ini jadi tidak boleh dicelup di Tenganan, karena baunya luar biasa," tuturnya.

Setelah proses pewarnaan rampung, bagian-bagian tali yang diikat itu kemudian dibuka dan diberi tepung mengkudu untuk mengeluarkan warna merah. Setelah proses itu selesai diberi jeda selama tiga bulan untuk kembali mengulang proses yang sama.

"Bagian yang diikat tadi dibuka, kemudian dikasih tepung mengkudu yang bagus kan dari Nusa Penida. Indigo dikasih tepung kepundung, yang biru jadi merah, ini prosesnya lama karena menggunakan warna alami. Sekarang dicelup dan dikeluarkan, dicelup degan warna yang tadi kan bersih dikeringkan baru tiga bulan dicelup lagi tergantung pengrajinnya sampai ketemu warna gringsing merah, hitam, putih atau hitam dan putih," urainya.

Yudiana mengatakan setelah keluar warna merah yang diharapkan, barulah proses menenun dimulai. Namun, benang yang berwarna itu masih harus melalui proses lagi.

"Setelah merah masih lama prosesnya belum bisa langsung ditenun. Nyikat (benang) dikasih air tanak nasi biar presisi, kaku, kalau terlalu lentur nggak bagus, 5-7 helai dia masuk mempertemukan motif lungsi dan pakara, itu pakai tulang kerbau atau tulang bukal (kelelawar besar) supaya nggak putus. Makanya tulang kerbau atau bukal itu berharga bagi orang Tenganan," urainya.

Tulang kerbau yang dipakai sebagai penggaris benang (Aditya/detikTravel)Tulang kerbau yang dipakai sebagai penggaris benang (Aditya/detikTravel)
Senada dengan Yudiana, salah satu penenun gringsing, Made Wiryani mengatakan setiap proses itu membutuhkan waktu yang berbeda-beda tergantung pembuatnya. Hanya saja untuk proses pewarnaan memang ada hitungan waktu.

"Pewarna pertama biru dulu, 3 bulannya lagi merah dari akar mengkudu selama 3 hari dicuci dan dikeringkan, dan didiamkan 3-4 bulan. Baru pewarnaan kedua 3-4 bulan, kalau yang lebih lebar kita tunggu 4 bulan. selama 4 kali, warnanya kadang nggak sama meski dari air yang sama, kalau yang bagus 3 kali proses saja warnanya sudah bagus, kalau kualitasnya kurang sampai 4 kali celup warna. Habis itu masih ada proses nyahak, ngisi warna putih, hitam untuk pinggiran biar manis. Baru ditenun yang cepet ada yang selesai seminggu," tuturnya.

Wanita yang karib disapa Kadek itu mengatakan saat ini bahan baku untuk pewarnaan itu semakin mahal dan harus didatangkan dari daerah lain. "Bahan warnanya sekarang mahal sekali, kulit akar mengkudu sekarang kita beli dari Lombok, ada bencana ngaruh juga," terangnya.

Waktu pengerjaan satu kainnya bisa tahunan loh (Aditya/detikTravel)Waktu pengerjaan satu kainnya bisa tahunan loh (Aditya/detikTravel)
Kadek menyebut tak semua warga desanya menenun, masing-masing memiliki keahlian tertentu dan dibayar sesuai jasanya.

"Satu desa itu ada yang ngikat, nenun, ada yang proses (benang). Kalau ngiket itu dibayar Rp 120 ribu/desain, kalau untuk nenun Rp 450 ribu/lembar untuk ukuran medium. Proses itu sekalian dengan bahan bakunya, dan sekarang kemiri mahal dulu Rp 25 ribu sekarang Rp 50 ribu," urainya.

Dengan runtutan proses tersebut, Yudiana mengatakan waktu paling cepat untuk menyelesaikan sehelai kain yaitu 2-2,5 tahun bahkan bisa lebih tergantung ukuran maupun warna kain yang diharapkan. Tak hanya proses yang lama, kain itu pun memiliki filosofis yang dalam.

"Konsep gringsing ini kan semua motif simetris dan seimbang, antara atas-bawah, kanan-kiri, ada tiga unsur warna merah, hitam, dan putih. Masing-masing itu melambangkan manusia, pencipta, dan alam. Maknanya seimbangkan kamu dengan sesamamu manusia, kamu dengan alam, dan kamu dengan Tuhan pencipta, kalau ini dipatuhi tidak akan sakit," terangnya.

Untuk diketahui hak indikasi geografis ini diterima Desa Tenganan pada 2016 lalu. Hak eksklusif itu dikantongi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) setempat.

Harga sehelai kain tenun gringsing ini pun dihargai mulai Rp 700 ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung ukuran, maupun motif kain tersebut. Memang mahal, namun sepadan dengan kerumitan prosesnya. (ams/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA