Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Feb 2019 16:07 WIB

TRAVEL NEWS

Kisruh SJ Travel Pass, YLKI Jembatani Mediasi dengan Sriwijaya

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi (Masaul/detikTravel)
Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi (Masaul/detikTravel)
Jakarta - Kisruh konsumen dan maskapai Sriwijaya Air berlarut-larut. Pihak YLKI memediasi kedua belah pihak terkait SJ Travel Pass untuk pertama kali.

Pihak YLKI dalam hal ini memang hanya sebagai penengah. Pun kemudian menyerahkan keputusan ke anggota SJ Travel jika ingin melaporkan Sriwijaya Air ke pengadilan.

"Ada konsumen yang melapor. Tapi maksimal YLKI hanya memediasikan. Terserah konsumen kalau tidak ada titik temu akan memfollow upnya ke lembaga lain seperti pengadilan atau apa. Ini mediasi tahap pertama. Kalau belum ketemu bisa jadi di titik berikutnya," kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi di sela-sela mediasi di kantornya, Kamis (14/2/2019).

Tulus menyebut ada perwakilan Sriwijaya Air dalam pertemuan kali ini. Pihak itulah yang akan menyampaikannya ke direksi maskapai.

"Karena ini kan ada dari corporate secretary. Kalau belum sepaham nanti akan dikonsultasikan lagi ke manajemen dan putusan manajemen itulah yang akan dibawa ke titik mediasi berikutnya," jelas Tulus.

"Jadi nanti pada titik terakhir bisa saja kita anjurkan dirut yang kemudian memcahkan persoalan itu," imbuh dia.

BACA JUGA: Curhatan Traveler Terhadap Sriwijaya Travel Pass

Tulus menyebut dirinya sudah sering mengonsultasikan permasalahan ini ke jajaran direksi. Namun mereka belum bisa hadir di pertemuan ini karena beberapa kepentingan lain.

"Saya sudah beberapa kali bertemu dirut dan saya sampaiakan persoalan-persoalan ini. Dan mediasi ini sendiri diinisiasi oleh dirut. Sebenernya dirut mau hadir, karena ada acara nggak bisa hadir," kata dia.

Tulus menjelaskan bahwa para konsumen menuntut dan meminta kejelasan soal aturan-aturan yang selalu berubah-ubah dari pihak Sriwijaya Air. Dia menghitung perubahan itu terutama setelah maskapai ini bergabung dengan Garuda Indonesia.

"Nah itu kemudian dia minta kejelasan status dia sebagai konsumen sangat tidak dipastikan," ucap Tulus. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED