Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 09 Mar 2019 21:55 WIB

TRAVEL NEWS

Inilah Makna Mandi Lumpur Usai Nyepi di Bali

Aditya Mardiastuti
detikTravel
Foto: Tradisi mandi lumpur di Bali (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Badung - Warga Bali punya tradisi mandi lumpur yang sakral. Tradisi yang dikenal sebagai Mebug Buugan itu dilaksanakan setelah Nyepi.

Sehari setelah Nyepi, ada tradisi unik warga Desa Adat Kedonganan, Bali. Para warga desa mengolesi tubuh mereka dengan lumpur dari kawasan hutan bakau. Apa maknanya?

"Maknanya pembersihan sekala niskala, jadi lahir dan batin," kata Bendesa Adat Kedonganan Wayan Merta di Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (8/3/2019).

Merta mengatakan sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah luput dari dosa. Lumpur menjadi simbol dosa yang melekat pada manusia dan saat tahun baru Caka dibersihkan.

(Aditya Mardiastuti/detikTravel)(Aditya Mardiastuti/detikTravel)
"Selama satu tahun perjalanan, sekarang kan tahun baru Caka 1941, besok kita mulai (hari baru) pasti ada hal-hal tidak baik yang kita lakukan sadar atau tidak disadari. Sekarang saatnya Kami bersihkan hal-hal yang tidak baik yang kami lakukan setahun lalu," jelasnya.

"Refleksi ketidakbaikan ya lumpur itu, lumpur itu dimaknai hal buruk. Itu yang melumuri tubuh kami maka kami bersihkan di laut," sambung Merta.

(Aditya Mardiastuti/detikTravel)(Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Sebagai simbol pembersihan dari kotor dan dosa itu, warga melukat atau ritual pembersihan dengan mandi di laut. Setelah bersih dari lumpur, warga lalu diperciki tirta (air) suci oleh mangku.

"Secara fisik kita bersihkan tapi secara spiritual juga ada. Sebentar setelah itu, di sana ada percikan tirta, pembersihan niskala," terangnya.

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Turis Australia Ikut Nyepi di Bali

Merta mengatakan Mebuug Buugan ini merupakan tradisi lama yang kembali dibangkitkan sejak lima tahun terakhir. Rencananya tradisi ini akan dijadikan atraksi rutin tiap tahun setelah Nyepi di Kedonganan.

"Harapannya ini akan jadi pariwisata baru di Kabupaten Badung, sebab dengan berharap 20 juta wisatawan di 2019 itu tidak mudah. Salah satu yang kita lakukan atraksi wisatanya lebih banyak, agar wisatawan tahu di Kedonganan masih ada banyak aktivitas yang bisa dinikmati," jelasnya. (krn/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA