Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 20 Apr 2019 22:50 WIB

TRAVEL NEWS

Phajaan: Tradisi Kejam Menyiksa Gajah

Bona
detikTravel
Foto: Ilustrasi (Dok REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Foto: Ilustrasi (Dok REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Jakarta - Kamu pernah naik gajah? Hewan ini biasa digunakan jadi atraksi di tempat wisata. Di balik itu, ada sebuah ritual kejam yang dilalui gajah.

Bertubuh besar, bertelinga lebar dan memiliki gading, inilah gajah. Dalam industri pariwisata, gajah diberi label sebagai makhluk besar yang lembut dan menyenangkan.

Betul, gajah memang makhluk berhati lembut yang pantang untuk disakiti. Gajah memiliki daya ingat yang begitu hebat, bahkan akan diturunkan ke anak-cucu mereka. Hal lembut lainnya bisa terlihat dari gestur mereka saat berjalan.

Tapi tahukan traveler kalau di balik kelembutan gajah di kebun binatang atau sirkus, ada perjalanan yang begitu kejam yang harus mereka hadapi. Di Thailand, ada sebuah ritual untuk menghancurkan jiwa gajah liar menjadi penurut. Namanya Phajaan, seperti yang kumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (17/4/2019).

Dalam bahasa Thailand, Phajaan memiliki arti 'to crush' atau menghancurkan. Prosesinya diawali dengan penculikan bayi gajah dari hutan. Para pemburu akan membawa lari bayi gajah dari induknya.



Setelah diculik, bayi tersebut akan mulai menjalani prosesi Phajaan. Prosesi ini berupa siksaan untuk menghancurkan jiwa liar gajah. Gajah akan dipukuli dengan berbagai alat dan dipaksa untuk menuruti perintah.

Kalau tidak nurut bagaimana? Tentu saja akan terus disiksa. Kaki yang dirantai, dicambuk sampai berdarah dan tidak diberi makan adalah siksaan yang harus dialami oleh gajah.

Setelah bisa mengikuti perintah manusia, gajah juga tak lepas dari siksaan. Contohnya, saat dinaiki wisatawan, kepala gajah akan di pukul-pukul oleh pawang. Ini seperti memberi tanda bahwa gajah harus menuruti semua perintah pawang.

Walaupun berbadan besar, banyak yang tidak tahu bahwa struktur tulang gajah tidak untuk ditunggangi. Seekor gajah dipaksa untuk membawa kursi kayu dengan 2-3 orang di badannya. Sungguh ironi.

BACA JUGA: Lautan Darah Lumba-lumba yang Menyayat Hati

Praktek Phajaan sepertinya tidak jauh beda dengan cara menjinakkan gajah dibelahan dunia mana pun. Walau bukan jadi hewan peliharaan, namun gajah dijinakkan untuk membantu pekerjaan manusia sejak jaman dahulu kala.

Padahal gajah seharusnya berada di alam liar. Mereka membantu menjaga ekositem hutan dan kesimbangan alam. Tapi kini, mereka ada di sirkus dan kebun binatang untuk melakukan pertunjukkan. Menggambar, naik ke kursi, melakukan akrobat dan menjadi tunggangan adalah atraksi-atraksi yang sering jumpai.

Kembali lagi kepada memori gajah yang kuat. Gajah akan merekam dengan jelas semua siksaan yang dilakukan terhadap mereka. Bahkan gajah akan terus mengingat wajah orang-orang yang menyiksa mereka saat proses penjinakan.

Saat ini sudah banyak pihak yang memberikan dukungan pada pembebasan gajah dari kebun binatang dan sirkus. Salah satunya adalah kebun binatang di Perth yang tidak lagi memelihara gajah.

India pun turut menyuarakan kepeduliannya dengan mendirikan rumah sakit gajah pertama dunia. Kalau menurutmu, bagaimana traveler? (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED