Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 29 Mei 2019 09:20 WIB

TRAVEL NEWS

Kasus Pilot Vincent Raditya, Yuk Mengenal Pesawat Single Engine

Shinta Angriyana
detikTravel
Foto: Captain Vincent Raditya (Screenshot Youtube)
Jakarta - Pilot vlogger Vincent Raditya viral di Youtube karena video manuver zero gravity. Akibatnya izin terbang single engine-nya dicabut. Jenis pesawat apa ini?

detikcom menghubungi pakar penerbangan Ziva Narendra, untuk mengetahui jenis pesawat Single Engine yang digunakan Vincent Raditya untuk mengajak sejumlah public figure merasakan manuver zero gravity. Pesawat itu adalah Cessna 172 yang termasuk kategori single engine.

"Jadi kalau tipe pesawat ya memang ada beberapa kategori. Ada fixed wing, rotary wing (helikopter), lighter than air (balon udara), glider (terbang layang) dan sebagainya. Nah untuk topik ini kita cukup kerucutkan pesawat bersayap tetap atau fixed wing. Pesawat fixed wing itu ada yang tanpa mesin seperti glider dan ada juga yang bermesin tunggal (single engine) atau ada mesin ganda (multi engine). Multi engine pun ada yang bermesin 2, 3, 4 bahkan sampai 8 juga ada." ujarnya saat dihubungi detikcom via telepon, Selasa (28/5/2019).

Menurut Ziva, jenis pesawat bermesin pun memiliki klasifikasi yang berbeda. Ini yang membedakan umumnya pesawat satu dengan lainnya, ditambah sejumlah jenis-jenis lain.

"Mesin pesawat pun beraneka ragam. Ada yang bermesin piston, ada yang bermesin turbin setara dengan pesawat jet atau turboprop, radial seperti pesawat zaman dulu, dan jenis lainnya. Jadi kita pisahkan dulu dari jenis dan jumlah mesinnya," tambahnya.

Ziva mengatakan, bahwa engine atau mesin pesawat tidak membedakan untuk digunakan secara komersil maupun non-komersil. Sejumlah pesawat single engine pun dipakai dengan beberapa tipe dan fungsi khusus. Seperti latihan atau sekadar rekreasi.

"Zaman dahulu, saat penerbangan baru lahir pesawat komersil banyak juga yang bermesin tunggal. Sampai sekarang pun yang dipakai penerbangan perintis seperti Susi Air, kemudian untuk penerbangan di Papua misalnya, itu juga menggunakan pesawat single engine tipe turboprop, yang juga untuk operasi komersil," katanya.

"Tapi, banyak juga pesawat single engine itu dipakai untuk training atau rekreasi, seperti Cessna 172, 152, kemudian juga ada pabrikan namanya Cirrus, Piper, dan lain-lain. Pesawat jenis ini banyak digunakan karena ringan dan pengoperasiannya simpel. Juga biaya operasionalnya relatif murah maka banyak digunakan untuk keperluan training dan rekreasi," paparnya.

Bahkan, sejumlah armada yang digunakan untuk komersil juga bisa dipakai di beberapa fungsi. Dalam hal ini untuk penerbangan charter atau VIP yang difungsikan lebih privat kepada penumpang.

"Pesawat jet pun digunakan untuk non-komersil atau airline pun ada, misalnya kita bicara tentang Airbus A320 ya, itu ada juga tipenya yang ACJ (Aircraft Corporate Jet). ACJ ini tidak digunakan untuk penerbangan airline, tetapi untuk VIP, Jadi kayak private jet. Kayak Bombardier pun ada yang digunakan untuk penerbangan airline, ada juga penerbangan charter, ada juga VIP. Tapi yang membedakan penerbangan komersil dan non komersil adalah aspek komersilnya itu sendiri. Kalau komersil itu jual tiket, airline. Kalau charter juga komersil tapi tidak berjadwal," tambah Ziva.

Dalam hal ini, pesawat single engine pun dapat berperan komersial. Namun, pesawat harus didaftarkan kepada sebuah perusahaan maskapai, bukan flying club.

"Bisa saja (sebagai operasi komersial). Tetapi tidak bisa pesawatnya didaftarkan ke flying club. Pesawatnya harus didaftarkan ke maskapai," ujarnya.

Fungsi pilot dengan kapasitasnya pun berbeda dengan jenis pesawat yang digunakan. Dalam kasus Vincent Raditya, ia mengoperasikan pesawat Cessna 172 yang membutuhkan lisensi pengoperasian single engine. Namun, apabila ia mengoperasikan armada menaungi di bawah maskapai, ia berperan sebagai pilot komersil.

"Nah kalau Captain Vincent terbang sebagai pilot airline maka di sini beliau kapasitasnya berperan sebagai pilot komersil. Dia beroperasi dalam acuan regulasi penerbangan komersil. Tetapi jika terbang dengan pesawat kecil, karena didaftarkan sebagai pesawat pribadi, maka dia peranannya berubah menjadi pilot rekreasional atau pilot yang bergerak di dalam ruang General Aviation (GA)/penerbangan umum. Bukan komersil," papar Ziva.

Video: Kata Menhub Soal Pencabutan Lisensi Terbang Vincent Raditya

[Gambas:Video 20detik]



Jenis pesawat pun juga harus dioperasikan sesuai kemampuan pilot. Misalnya dalam konteks penerbangan rekreasi, sang pilot harus mampu menjalankan sejumlah manuver dengan kapasitas pesawat beserta menjamin keamanan penumpangnya.

"Kalau penerbangan rekreasi itu sah-sah saja melakukam beragam manuver selama pilotnya mampu, memiliki pengalaman, dan memahami batas-batas performa pesawat. Penumpangnya pun juga biasanya diberikan briefing sebelum melakukan manuver dan terakhir memperhitungkan aspek keselamatan termasuk keselamatan disekitarnya, dalam arti clear dari semua area berpopulasi dan tidak berisiko mencelakakan orang/properti di darat," tambahnya.

Selain itu, sebuah organisasi yang menaungi pesawat juga memiliki sejumlah aturan yang harus dipatuhi oleh pilot ataupun penumpang. Sehingga, fungsi pesawat harus berjalan sesuai dengan regulasi yang ada.

"Klub atau organisasi yang menaungi pesawatnya juga tentunya memiliki peraturan yang harus dipatuhi oleh si pemilik/operator pesawat. Bila klubnya mengatakan tidak boleh melakukan manuver-manuver tertentu seperti nol gravity misalnya ya, maka pemilik harus mematuhi," ujar Ziva. (bnl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA