Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Jun 2019 09:47 WIB

TRAVEL NEWS

Menakar Daya Tarik Rute Domestik 10 Bali Baru di Mata Maskapai Asing

Shinta Angriyana
detikTravel
Foto: Danau Toba di Sumatera Utara (Shinta Angriyana/detikcom)
Foto: Danau Toba di Sumatera Utara (Shinta Angriyana/detikcom)
Jakarta - Wacana mengajak maskapai asing untuk membuka rute domestik menuai polemik. Pariwisata pun memiliki peran besar menjadi nilai jual.

Pemerintah ingin mengajak maskapai asing untuk membuka rute domestik di Indonesia demi menyelamatkan harga tiket pesawat yang dianggap sudah tidak bisa dijangkau karena melambung tinggi. Namun, Indonesia juga butuh memikirkan berbagai aspek yang bisa dijual, salah satunya pariwisata.

Kementerian Pariwisata RI pun mencetuskan 10 destinasi prioritas dengan julukan 'Bali Baru'. Yakni Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Kepulauan Bangka Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Kepulauan Seribu di Jakarta, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Morotai di Maluku Utara.

Tentunya, ini bisa menjadi nilai jual untuk maskapai asing membuka rute domestik. Namun, seberapa efektifkah?

Menurut pakar penerbangan Ziva Narendra, bila Indonesia ingin menjual destinasi ini agar maskapai asing tertarik masuk harus memastikan fasilitas yang dimiliki sudah baik. Agar bisa menjamin turis tertarik sehingga maskapai tersebut berani membuka rute domestik.

"Kalau kita lihat dari sisi penerbangan, kita lihat dulu brandingnya Danau Toba misalnya, salah satu dari 10 Bali baru. Mungkin kita sebagai WN sini tahu, fapi kalau luar negeri mesti banyak dipromosikan lagi," ujarnya saat ditemui detikcom di Hotel Millenium, Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Ia mengatakan harus jelas bagaimana moda transportasi publiknya, bagaimana, sisi kulinernya, kebersihannya, fasilitas publiknya. Informasi-informasi ini yang membuat destinasi 10 Bali baru tersebut menarik

Menurut Ziva, hal ini juga dibarengi dengan kapasitas maskapai itu sendiri. Misalnya dari maskapai domestik yang kini telah membuka ke sejumlah destinasi tersebut, sehingga maskapai asing bisa menjadikan jumlah load factor maskapai lokal sebagai bahan pertimbangannya.

Ziva memaparkan, masuknya maskapai asing ini juga harus memperhatikan proteksi pasar domestik. Maskapai asing sebagai pemilik plat atau registrasi asing juga dibatasi di bandara-bandara besar, seperti imigrasi dan lainnya. Kecuali ada kerjasama bilateral dan lainnya.

"Tapi kalau dari sisi attractiveness atau kemampuan pasarnya, sekarang misal Labuan Bajo, apakah Scoot Airline dari Singapura akan semerta-merta membuka ke sana. Kan juga melihat potensinya seperti apa, mereka bisa dapat fasilitas apa, keamanannya bagaimana," paparnya.

Semua ini tentunya dari pemerintah daerah dan operator wisata tersebut harus pintar membranding juga sehingga menjadi destinasi menarik. Namun, dari skala 1 hingga 10, menurut Ziva, destinasi tersebut masih memiliki nilai 6 untuk dijual kepada maskapai asing untuk membuk rute domestik. Pemerintah Indonesia pun juga harus mempertimbangkan insentif yang diberikan agar menarik maskapai asing.

"Menurut saya dengan informasi yang ada kurang dari 6. Karena maskapai cost-nya besar untuk membuka rute," imbuh dia.

Biaya itu menurut Ziva mengalokasikan yang sudah ada, misalnya pesawat yang sudah dimiliki. Artinya destinasi baru ini akan menghilangkan potensi di destinasi lain, atau disebut juga opportunity cost, karena belum cukup banyak insentif yang ditawarkan. Load factor maskapai lokal bisa menjadi ukuran.

Sama seperti Ziva, anggota Ombudsman RI dan pakar penerbangan Alvin Lie juga menilai Indonesia belum memaksimalkan promosu pariwisata. Pemerintah dan pelaku wisata juga harus menjamin ketersediaan kebutuhan wisatawan di sejumlah destinasi tersebut

"Daya tarik indusri pariwisata itu apa saja pendukungnya, termasuk makanannya, apa yang dilihat, apa yang dilakukan, apa yang dibeli. Ada hotelnya nggak, ada local transport-nya, kultur, macam-macam. Saya menilai upaya marketing pariwisata kita masih sangat primitif. Menteri Pariwisata targetnya 20 juta (wisman) dari negara mana saja? Dari China misalnya, 5-6 juta," kata dia. (sna/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED