Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 07 Jul 2019 08:45 WIB

TRAVEL NEWS

Pantai Pulau Santen Terkini di Banyuwangi, Tak Ada Pemisahan Pria Wanita

Ardian Fanani
detikTravel
Pantai Pulau Santen Banyuwangi (Ardian Fanani/detikcom)
Pantai Pulau Santen Banyuwangi (Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi - Sore di Pantai Pulau Santen Banyuwangi ramai pengunjung. Sempat viral lantaran pemisahan pengunjung pria wanita, ini kondisi terkini di sana.

Pantauan detikcom di pantai yang berhadapan langsung dengan Pulau Bali ini, wisatawan domestik terlihat membaur. Ada beberapa wisatawan yang sedang asyik makan bersama di pinggir pantai dan mandi di pantai ini.

"Sudah setahun ini tidak dipisah. Sudah membaur antara laki-laki dan perempuan," ujar Siswanto salah satu pengunjung kepada detikcom, Sabtu (6/7/2019).

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sampai saat ini tidak pernah sekalipun mengeluarkan aturan untuk memisahkan pengunjung pria dan wanita di Pantai Pulau Santen. Bahkan, papan petunjuknya pun sudah tidak ada, sejak 2017 lalu, sudah lebih dari dua tahun.

BACA JUGA: Melihat Lagi Pantai Syariah di Banyuwangi yang Dituding Arabisasi

Juga pantai ini tidak dipromosikan lagi setelah kedatangan Raja Salman ke Bali, pertengahan Maret 2017 lalu. Tidak ada event yang mengangkat Pantai Santen dan Wisata Halal di sana. Karena itu, aneh bin ajaib ketika ada isu arabisasi di Pantai Pulau Santen.

"Saya tegaskan lagi, bahwa saat itu, hanya untuk gimmick marketing! Untuk menangkap peluang baru, wisatawan keluarga Arab Saudi, yang spendingnya paling besar. Pas dengan momentum Raja Salman Arab Saudi ke Indonesia," ungkap Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda kepada detikcom.

"Dua tahun silam itu, 2017, adalah momentum bagus. Kita ini harus cepat bergerak di saat timing yang pas. Sekaligus, saat yang tepat untuk menata ulang Pantai Santen yang saat itu image-nya kurang bagus, kurang bersih, kurang terawat," tambah Bram, yang sungkan menyebutkan bahwa Pantai Santen saat itu menjadi tempat prostitusi.

(Ardian Fanani/detikcom)(Ardian Fanani/detikcom)
Bram menyesalkan tulisan dan framing yang diviralkan melalui media sosial. Banyuwangi bersusah-payah berjuang untuk menjadi seperti sekarang, pariwisata maju, ekonomi bergerak, masyarakat menerima dengan semangat. Investasi terus berkembang.

"Saya rasa harus diluruskan. Karena tidak pernah ada kebijakan dari Pemda Banyuwangi yang mengatur masalah pemisahan pria dan wanita di Pantai Santen. Tidak pernah ada peraturan mengenai hal itu," katanya.

"Sebagai daerah yang dekat dengan Bali tentu kita berharap Banyuwangi ikut dilirik saat Raja Salman berkunjung ke sana. Inisiatif kita adalah memasarkan dan mencuri perhatian dengan Patai Santen. Tapi bukan kemudian memisahkan atau menjadikan pentai ini syariah," imbuh dia.

Video: Kompetisi Surfing Kembali Digelar di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi

[Gambas:Video 20detik]



Kata dia, momentum itu digunakan untuk mengangkat Pantai Santen. Sekaligus, memperbaiki image pantai agar dikunjungi banyak orang. Dan tahun 2017 keinginan itu tercipta, sukses, karena Pantai Santen bersih lalu dikunjungi banyak orang, dan ada sisi uniknya.

Setelah pembenahan itu, Pemda telah menyerahkan kembali pengelolaan Pantan Pulau Santen ke pemilik pantai, yakni Kodim. Seluruh manajemen dikelola Kodim, pemda juga tidak mengeluarkan peraturan apapun terkait dengan pantai itu, dan tidak ada peraturan soal pemisahan.

"Apakah ini by design, kalau lihat sejarahnya, tidak sama sekali. Sekali lagi, itu hanyalah trik marketing saat Raja Salman datang ke Bali. Dan sudah dicopot sejak tahun lalu. Makanya kalau kemudian papan itu dipermasalahkan sekarang, rasanya sudah tertinggal. Dan itu akibat tidak pernah ada konfirmasi," paparnya.

Sementara Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Indonesia, Anang Soetono, menilai masih banyak pihak yang belum paham dengan konsep wisata halal. Menurutnya, wisata halal disebut sebagai layanan tambahan. Hal ini lebih terkait pada pengembangan 3A (amenitas, atraksi, dan aksesibilitas) wisata. 3A adalah juga fondasi untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia.

(Ardian Fanani/detikcom)(Ardian Fanani/detikcom)
"Wisata halal itu merupakan konsep pengembangan dimensi baru. Sasarannnya adalah komunitas dalam pariwisata. Lebih spesifik lagi, pariwisata itu ditujukan kepada siapa, pelanggan yang mana," katanya.

Wisata halal di Indonesia semakin berkembang belakangan ini karena adanya lonjakan wisatawan muslim. Semua wisatawan muslim memiliki kebutuhan. Dan destinasi berlomba menyediakan kebutuhan mereka, apa yang dibutuhkan dan apa yang mereka inginkan. Justru, Anang melihat hal ini merupakan peluang. pelaku wisata bisa menggarapnya.

Sejumlah lembaga menyebutkan bahwa wisatawan muslim akan mencapai 160 juta dengan pergerakan ke seluruh penjuru dunia. Jumlah ini menjadikan wisatawan muslim sebagai pasar yang luar biasa besar.

"Jadi konsep yang ditempuh adalah melengkapi fasilitas untuk wisatawan muslim. Bukan menjadi sebuah destinasi menjadi destinasi muslim. Pengertian itu salah. Sayangnya, pengertian yang salah ini yang menyebar," kata Anang.

Diterangkannya, Indonesia memiliki tiga indikator kuat untuk menangkap peluang tersebut. Pertama bahwa Indonesia memiliki destinasi yang luar biasa menarik, Indonesia juga menjadi salah satu preferensi dengan mayoritas atau hampir 88 persen berpenduduk muslim.

Selain itu, kuatnya ekosistem di Tanah Air terkait regulasi didukung keinginan dan dukungan masyarakatnya dalam pengembangan wisata halal.

"Banyak negara yang sadar dan paham potensi untuk menggaet muslim traveler. Seperti Thailand misalnya, pemerintahnya sangat detail untuk menggarap segmen itu dengan semakin fokus membangun infrastruktur pendukung wisata halal. Bahkan Vietnam menginstruksikan industri pariwisatanya untuk menyiapkan kebutuhan muslim traveler yang berkunjung ke negara itu. Turki tak perlu ditanyakan komitmennya dalam mengembangkan wisata halal," katanya.

Contoh lain adalah Jepang. Negeri Matahari Terbit sedang bersiap mendatangkan 2 juta wisatawan muslim ke negaranya. Negara-negara tersebut telah sangat yakin tidak menjadikan wisata halal sebagai polemik dan bahwa halal tourism akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pendapatan negara secara keseluruhan.

Simak Video "Libur Sekolah, Pantai Pulau Merah Diserbu Pengunjung"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA