Konteks pariwisata sering dikaitkan dengan plesiran, mempelajari hal baru, mengunjungi tempat menyenangkan bahkan membangun bisnis yang kuat untuk membangun ekonomi agar manusia tetap dapat tumbuh sejahtera. Pernahkah terpikirkan oleh Anda, dampaknya bagi alam?
Kita mulai dari hal positifnya. World Travel and Tourism Council (WTTC) dalam laporannya Travel and Tourism Economic Impact 2019 menjabarkan bahwa 10,4 persen aspek GDP secara internasional berasal dari pariwisata. Bahkan di tahun 2019, pertumbuhannya mencapai 3,9 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(WTTC) |
Fakta yang mungkin cukup mencengangkan, bahwa 319 juta pekerjaan didukung oleh pariwisata dan kegiatan traveling lainnya. Dalam persentase, artinya 10 persen dari total pekerjaan yang ada di dunia ini memiliki pondasi dari pariwisata dan kegiatan perjalanan.
Anda belanja suvenir saat traveling? Tentu itu membantu. Jajan di warung lokal, menghidupi masyarakatnya. Hal sesederhana itu membantu perekonomian yang mungkin dapat memberikan dampak berkelanjutan. Sekali lagi, dampak itu berguna bagi kesejahteraan secara finansial.
Kepedulian orang-orang saat ini juga perlu diacungi jempol untuk alam. Lihat saja, berapa kafe yang Anda temui di kota-kota besar yang sudah menggunakan sedotan stainless atau kayu dengan landasan mengurangi sampah plastik? Atau mulai mengedukasi pelaku wisata di berbagai wilayah untuk mengolah limbah hasil wisatawan.
Namun ternyata, pariwisata juga punya dampak negatif. Bukan sekadar vandalisme di tempat wisata, membuang sampah, atau mencemarkan lingkungan yang dengan sengaja dilakukan.
Dampak negatif lain dari pariwisata adalah polusi. Polusi ini adalah ekses dari kegiatan penerbangan. Terpikirkah oleh Anda?
(iStock) |
Friends of the Earth, LSM yang bergerak di bidang lingkungan asal Amsterdam, Belanda mengemukakan dalam sebuah esai berjudul 'Aviation and Global Climate Change' bahwa perjalanan penerbangan menghasilkan karbondioksida yang berasal dari bahan bakar pesawat yakni avtur.
Dalam esai tersebut juga dijelaskan bahwa peningkatan besar dalam polusi dari pesawat sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat dalam lalu lintas udara. Peningkatan ini hampir 2,5 kali dari rata-rata pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1960.
Diperkirakan, jumlah orang yang terbang hampir dua kali lipat dalam 15 tahun ke depan. Artinya, akan ada peningkatan kapasitas bandara, lebih banyak frekuensi penerbangan, polusi, dan wilayah udara yang semakin ramai.
Dilansir dari Deutsche Welle, banyak perkiraan menempatkan pangsa penerbangan dari emisi CO2 global hanya di atas 2 persen. Itulah angka yang diterima oleh industri itu sendiri.
Namun menurut Profesor Stefan Gossling dari Linnaeus University dan editor dari buku 'Climate Change and Aviation: Issues' mengatakan bahwa hal tersebut hanya setengahnya benar. Emisi penerbangan lain seperti nitrogen oksida (NOx), uap air, partikulat, dan jejak kondensasi (jejak uap air yang muncul dari sisa pembakaran mesin pesawat-red) memiliki efek pemanasan tambahan alias berdampak kepada pemanasan global.
Bukan cuma pemanasan global, turbulensi akan semakin parah. Pemanasan global bukan cuma jadi bom waktu bagi habitat makhluk hidup. Ternyata, ini menjadi bumerang bagi penerbangan itu sendiri. Dampak pemanasan global juga bisa berpotensi tinggi pada turbulensi penerbangan.
Dikutip dari The Guardian, hal ini karena daya angkat ke atas yang dilakukan pesawat diciptakan dengan mengalihkan di sekitar sayap saat pesawat hendak naik. Hal ini, akan sulit dicapai ketika udara sangat panas karena udara panas lbih tipis dibandingkan udara dingin.
Sedangkan, perubahan suhu yang terjadi dapat memberikan tekanan lebih terhadap ketidakstabilan udara pada ketinggian tertentu. Akibatnya, tekanan udara berpotensi besar menyebabkan turbulensi.
Sebenarnya, turbulensi memiliki sejumlah tingkatan yang tidak sepenuhnya mengerikan. Mulai dari goncangan yang kecil, sedang, hingga besar. Potensi pesawat jatuh karena turbulensi pun kecil, namun penumpang harus tetap hati-hati dan menggunakan sabuk pengaman agar tidak cidera selama guncangan berlangsung.
Dari semua faktor penyebab masalah ini, sebenarnya mengurangi penggunaan pesawat bisa meminimalisir pemanasan global. Namun, tentunya industri ini membantu sektor lain untuk tetap hidup.
Mau tidak mau, pariwisata kini menjadi sumber penghidupan banyak orang. Tidak sedikit yang mencari makan dan menghidupi diri dari plesiran atau perjalanan. Tentunya, menjadi kebutuhan yang sulit diputuskan untuk dikurangi.
Menurut kamu, bagaimana?
(sna/fay)












































(WTTC)
(iStock)
Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun