Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 21 Sep 2019 18:05 WIB

TRAVEL NEWS

Potensi Wisata di Hutan Hujan Terluas Pulau Jawa

Syahdan Alamsyah
detikTravel
Foto: (Syahdan Alamsyah/detikcom)
Foto: (Syahdan Alamsyah/detikcom)
Bogor - Taman Nasional Gunung Halimun Salak berpotensi menjadi destinasi wisata. Jika dikelola, taman nasional ini bisa mejadi sarana edukasi alam dan wisata.

Udara dingin langsung menyergap saat rombongan Biro Humas Kementrian Lingkungan Hidup (KLHK) dan awak media termasuk detikcom mulai memasuki area Resort Cikaniki Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di hutan hujan terluas di Pulau Jawa ini kami berburu potensi wisata di zona pemanfaatan TNGHS. Dari hamparan seluas 87.699 hektar, zona pemanfaatan hanya mengambil luas 3 persen- 5 persen saja.

"Ada empat zona, masing-masing zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan dan zona tradisional budaya. Untuk wisata sendiri hanya boleh di zona pemanfaatan. Penentuan zona itu sudah dengan kriteria indikator tertentu, mana zona inti harus benar-benar di protect begitu juga untuk penentuan indikator zona rimba dan pariwisata," kata Juliyanti, Kasubdit Pengelolaan Jasa Lingkungan Wisata Alam (PJLWA) Ditjen KSDAE- KLHK, Sabtu (21/9/2019).

(Syahdan Alamsyah/detikcom)(Syahdan Alamsyah/detikcom)


Untuk zona rimba dijelaskan Juliyanti bisa dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam tapi terbatas. Misalkan tidak boleh adanya pembangunan sarana kecuali untuk sarana pengelolaan.

"Lebih ke minat khusus, tidak untuk mass tourism," imbuhnya.



Zona pemanfaatan menjadi salah satu aset yang menyetor pemasukan kepada negara melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sepanjang tahun 2018 saja TNGHS menerima PNBP sekitar Rp 2 milyar dari tiket masuk dan kegiatan lainnya.

Saat ini pemerintah memberikan peluang untuk invetastor membangun sektor wisata di zona pemanfaatan taman nasional. Alasannya kondisi saat ini pemerintah mempunyai keterbatasan anggaran untuk mengembangkan yang akhirnya investor bisa ikut masuk untuk mengelola.

"Dengan catatan investor yang melakukan pengembangan wisata harus memperhatikan azas kelestarian dan azas untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

(Syahdan Alamsyah/detikcom)(Syahdan Alamsyah/detikcom)



Era Back To Nature

Berstatus sebagai kawasan hutan hujan, TNGHS dihuni beragam jenis hayati, 700 jenis tumbuhan, 264 jenis burung serta tiga spesies kunci, Macan Tutul, Owa Jawa dan Elang Jawa. Di kawasan Halimun Salak khususnya di daerah Cikaniki pada era Marzuki Usman dibangun resort sekaligus pengukuhan kawasan TNGHS sebagai pusat konservasi keanekaragaman hayati dan ekowisata.

"Untuk kawasan resort di Cikaniki ini dibangun tahun 1996 sampai 2009 digunakan untuk penelitian, fungsinya untuk research base tourism alias wisata yang memang fokus kepada penelitian seperti Bird Watching, Raptor Watching juga ada Primata Watching lokasi ini kaya dengan lokasi-lokasi khusus kepada penelitian," kata Wardi Septiana, petugas Pengendali Ekosistem Hutan, Balai TNGHS.

 (Syahdan Alamsyah/detikcom) (Syahdan Alamsyah/detikcom)


Ia menjelaskan tujuan dari Ekowisata atau ekotourism ada ekologi, ekonomi dan edukasi atau bagaimana mengembangkan sektor pariwisata yang berwawasan lingkungan. Tentu saja ini dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

"Jadi bagaimana pengunjung tidak sekedar datang bersenang-senang lalu pulang, tapi minimal bagaimana bisa merubah sikap mereka untuk ramah lingkungan atau ikut berpartisipasi menjaga kawasan konservasi," ucapnya.

"Potensi wisata di wilayah Cikaniki, ada Perkebunan Teh Malasari, Jamur fosfor atau Glowing Mushrom, Canopy Trail untuk wisata air ada Curug Macan dan Curug Kuda Paeh. Tren wisata saat ini back to nature kembali ke alam, ada pengunjung sengaja datang ke sini berbicara tentang kondisi udara Jakarta yang tidak sehat ketika sampai di sini mereka menikmati bahkan sampai menginap selama 3 hari," tandas dia.




Simak Video "Di Balik Wacana Pembentukan Provinsi Bogor Raya"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA