Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 10 Okt 2019 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Guide Bali Viral: Marah-marah demi Pariwisata Lokal

Bonauli
detikTravel
Ilustrasi Money Changer (Selfie Miftahul Jannah)
Ilustrasi Money Changer (Selfie Miftahul Jannah)
Jakarta - Bali sedang viral karena kasus wisatawan yang mengaku kena tipu oleh sebuah money changer. Seorang pemandu wisata pun marah-marah karena merasa itu bisa mencoreng citra pariwisata Pulau Dewata.

Kasus penipuan uang dari wisatawan asing terjadi di Bali dan viral di berbagai media sosial. Aksi marah-marah dari seorang pemandu wisata menjadi ungkapan penyesalan atas kejadian tersebut.

Bonik Ingunau, pemandu wisata di Bali, adalah orang yang membantu wisatawan asing tersebut. Video tersebut bermula dari pesan Whatsapp yang diterima Bonik pada Senin (30/9) lalu.

Saat itu pukul 00.30 Wita, Thomas, mantan kostumer Bonik tahun lalu, meminta bantuan Bonik. Thomas mengaku kena tipu 300 EURO di money changer wilayah Kuta.

[Gambas:Instagram]



Paginya, Bonik bertemu dengan Thomas untuk meminta kronologi penipuan tersebut. Saat malam tiba, mereka berencana untuk menangkap basah pelaku dengan berpura-pura menukar uang.

Thomas diminta Bonik untuk pergi ke money changer tersebut seorang diri. Sementara Bonik berjalan cukup jauh di belakang, mengawasi.

Sampai di money changer, Thomas melakukan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Penjaga money changer keluar sebentar dari biliknya untuk memastikan bahwa Thomas datang seorang diri.




Setelah dipastikan seorang diri, penjaga money changer pun mulai menghitung uang yang akan ditukarkan. Dengan tiba-tiba, Bonik datang ke depan money changer.

"Kembalikan uang 300 EURO yang kemarin, cepat. Enggak usah hitung lagi, cepat, cepat" bentak Bonik dalam video yang viral.

Masih dengan nada gusar, Bonik meminta Thomas mengeluarkan semua uang yang ditukarkan kemarin. Harusnya, Thomas mendapat uang Rp 4,6 juta, namun yang diberikan hanyalah Rp 2,6 juta.

Uang dilemparkan ke atas meja. Bonik mulai naik pitam karena penjaga money changer mencoba untuk berkelit untuk menelpon seseorang. Tanpa memberi kesempatan, Bonik terus meminta penjaga tersebut mengembalikan semua urang Thomas.




Sang penjaga mengaku tak memiliki uang senilai 300 EURO. Thomas setuju jika uangnya dikonversi semua ke dalam rupiah. Thomas pun hanya meminta Rp 4,5 juta karena tak ada lagi uang yang dimiliki money changer tersebut.

"Bikin malu aja bro, udah nipu, apa lagi yang di cek. Kita setengah mati lho bangun reputasi Bali," ujar Bonik geram.

Benar, reputasi Bali menjadi salah satu alasan mengapa banyak wisatawan asing yang terus kembali liburan. Seperti halnya Thomas, ia kembali ke Bali karena begitu terpesona dengan kebaikan orang Bali dan alamnya yang indah.

Bonik sendiri kesal, karena penipuan seperti ini sudah sering terjadi. Tak cuma bule, wisatawan domestik sendiri banyak yang kena tipu.

Cara yang paling gampang memancing korban adalah dengan memasang rate yang tinggi. Ketika sudah mencapai kesepakatan, uang akan dihitung berulang kali di depan costumer.




Sementara kostumer dibikin yakin, penjaga money changer akan menjatuhkan uang atau menggunakan kecepatan tangan untuk mengurangi uang tersebut. Karena sudah merasa yakin, kostumer biasanya merasa 'tidak enak' menghitung di depan penjaga.

"Penipuan ini sudah sering terjadi, takutnya imej baik yang terbentuk lama-lama menjadi buruk. Desa adat harusnya melakukan sesuatu bukan membiarkan penipuan ini terus terjadi," cerita Bonik.

Maraknya penipuan ini memang belum terlihat dampaknya. Tapi kalau terus-menerus dibiarkan, penipuan berkedok usaha ini akan semakin menjamur dan merugikan wisatawan yang datang ke Bali. Kalau sudah rugi, rasanya ada rasa tak ingin kembali.




Simak Video "Doa Netizen Mengalir Pasca Gempa Bali Pagi Tadi"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA