Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 19 Nov 2019 05:20 WIB

TRAVEL NEWS

Turis Dipenjara Gara-gara Narkoba Cair yang Ternyata... Madu

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Foto: Ilustrasi madu (iStock)
Foto: Ilustrasi madu (iStock)
Baltimore - Seorang turis dipenjara selama 82 hari gara-gara membawa 3 botol cairan yang diduga narkoba. Tapi ternyata, cairan tersebut adalah madu.

Leon Haughton, wisatawan dari Amerika Serikat ditangkap polisi sepulang liburan dari Jamaika. Di dalam tasnya, ditemukan 3 botol cairan yang diduga narkoba, padahal sebenarnya itu adalah madu yang dia beli sebagai oleh-oleh.

Dihimpun detikTravel, Senin (18/11/2019), cerita bermula ketika Leon pulang liburan dari Jamaika. Setahun sekali, Leon pasti pergi liburan ke Jamaika untuk mengunjungi ibunya.

Setibanya di Baltimore Washington Airport, tiba-tiba Leon ditahan oleh kepolisian setempat. Itu setelah anjing pelacak milik petugas TSA (Transportation Security Administration) mulai mengendus-endus tas milik Leon.


Leon berasumsi anjing pelacak itu tertarik dengan bau ayam KFC yang ada di dalam tasnya. Tapi rupanya, anjing tersebut lebih tertarik pada 3 botol cairan yang ada di dalam tas Leon.

"Mereka bilang, saya akan dituntut karena membawa Metamphetamine. Saya bertanya, 'Apa itu methamphetamine?" kata Leon seperti dikutip dari ABC 7.

Turis Dipenjara Gara-gara Narkoba Cair yang Ternyata... MaduLeon Haughton (dok. Istimewa)


Kata petugas TSA, cairan tersebut positif narkoba. Leon pun diborgol dan dibawa ke penjara Maryland, dimana dia dipenjara selama lebih dari 2 bulan dan terancam hukuman hingga 25 tahun penjara.

Namun setelah tes laboratorium kedua di Georgia, ternyata baru terbukti bahwa cairan yang dibawa Leon dari Jamaika bukanlah narkoba, melainkan madu. Di dalam madu itu juga tidak terdapat kandungan narkoba. Leon pun dibebaskan dari tuntutan hukum apapun.


Tapi sayang, gara-gara masalah itu Leon harus kehilangan pekerjaannya sebagai tukang bersih-bersih dan pekerja konstruksi. Leon juga kehilangan tunjangan dan asuransi, padahal dia bertanggung jawab menafkahi 6 orang anaknya.

Leon pun trauma untuk traveling lagi. "Mereka menempatkanku di neraka. Aku hanya ingin dunia tahu, bahwa sistem ini tidak benar," tegas Leon.

Sementara itu, pihak TSA menolak adanya dugaan kesalahan di pihak mereka. "Tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh agency manapun," pungkasnya.

Simak Video "Drama Pengejaran Perampok Perhiasan Disertai Penyanderaan di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA