Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 16 Jan 2020 08:15 WIB

TRAVEL NEWS

Teknologi Ancam Taman Nasional Ini

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Singa di Kapama, Taman Nasional Kruger (Kruger National Park)
Singa di Kapama, Taman Nasional Kruger (Kruger National Park)
Jakarta - Salah satu taman nasional terbesar di Benua Afrika, Kruger mengalami krisis teknologi. Perkembangannya malah dianggap mengancam ekologi yang ada.

Seperti diberitakan CNN, pihak taman nasional kini sedang mempertimbangkan aturan teknologi baru untuk melindungi pengunjung dan hewan yang ada di dalamnya. Itu dilakukan setelah terjadi serentetan insiden yang menimbulkan kekhawatiran tentang dampak pariwisata.

Dengan luas lebih dari 12 kilometer persegi, Taman Nasional Kruger adalah salah satu cagar alam terbesar di Afrika. Tempat safari ini sangat populer di kalangan pengunjung dengan fasilitas jalan raya.

Taman Nasional Kruger dikunjungi 1,8 juta wisatawan pada tahun 2019 dan menyebabkan berbagai masalah, termasuk kecelakaan lalu lintas. Bagian dekat pusat kota utama, seperti Pretoria dan Johannesburg, mengalami tekanan besar karena peningkatan jumlah pengunjung.


Pada bulan November, sebuah minibus turis menabrak jerapah yang kemudian menimpa kendaraan lain dan melukai pengemudinya. Tabrakan itu membunuh jerapah dan pengemudi hingga ada dorongan untuk memberi jalan khusus bagi hewan-hewan itu.

Perburuan liar tetap menjadi masalah karena masih ada 1.873 insiden di berbagai taman di Afrika Selatan pada tahun 2018. Kejadian ini tak lepas dari dampak teknologi seluler.

Teknologi Baru Ancam Taman Nasional Kruger AfrikaTaman Nasional Kruger (Foto: David Silverman/Getty Images/CNN)

Kata Anthony Colia, CEO MoAfrika Tours, aplikasi seluler yang mengungkapkan lokasi hewan adalah salah satu sumber masalah. Salah satunya Latest Sightings, aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengambil dan mengunggah foto-foto binatang dan menandai lokasi mereka di Taman Nasional Kruger.

Akibatnya, pengunjung lain terdorong untuk berlomba-lomba melihat binatang itu sendiri. Kata Isaac Phaahla, manajer pemasaran dan komunikasi Taman Nasional Kruger, mengamini hal tersebut.

Tak hanya itu, saluran radio yang digunakan untuk keadaan darurat juga disalahgunakan oleh para sopir dan berbagi informasi tentang lokasi hewan tertentu berada.

Nadav Ossendryver, CEO dan pendiri aplikasi Latest Sightings, mengatakan bahwa aplikasi itu memiliki tujuan untuk membantu orang melihat binatang tertentu. Oleh karenanya aplikasi itu memang memberi tahu lokasi hewan tertentu berada.

Latest Sightings juga memiliki fitur keadaan lalu lintas di suatu jalan dan batas kecepatannya. "Kami tidak memiliki kontrol atas bagaimana orang menggunakan aplikasi," katanya Nadav.

Karena ada kekhawatiran tentang perburuan, aplikasi ini tidak mengizinkan pengunggahan foto badak dan hanya foto gajah yang dapat diunggah, informasi lokasi juga tak bisa disertakan.


Colia mengatakan bahwa pengunjung harus diingatkan untuk mematikan geo-tagging ketika mengunjungi Taman Nasional Kruger. Nadav menunjukkan fakta bahwa dari sekitar 1.000 pengguna harian Latest Sightings lebih banyak yang berada di luar negeri.

Latest Sightings berkata bukan satu-satunya penyebab. Pengelola Taman Nasional Kruger mulai khawatir atas aplikasi di atas pada 2016 tapi tetap tidak mengubah aturan yang ada.

Ossendryver juga menekankan manfaat Latest Sightings juga untuk mengetahui hewan yang terperangkap. Dengan peningkatan jumlah pengunjung memang perlu perubahan agar wisatawan tak membahayakan hewan.

Kata Isaac, pengelola Taman Nasional Kruger sedang mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk membatasi akses ke aplikasi tertentu, untuk memperbaiki situasi. Ia tak merinci rencana tersebut tetapi mengatakan otoritas taman sedang mencari saran ahli.




Simak Video "Detik-detik Gedung Bank di Johannesburg Dihancurkan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA