Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Feb 2020 15:48 WIB

TRAVEL NEWS

Ketinggian Pesawat Berpengaruh ke Perubahan Iklim

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Fotografi Pesawat
Contrails, jejak pembakaran pesawat (Michael Marston ePixel Images/CNN)
Jakarta -

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketinggian pesawat ternyata mempengaruhi perubahan iklim. Jika ketinggiannya saat ini diubah bisa dipercaya akan lebih ramah untuk iklim.

Dilansir CNN, pengubahan ketinggian pesawat bisa mengurangi dampak iklim. Ketika ketinggian pesawat diubah beberapa ribu kaki, kerusakan iklim dapat dikurangi hingga 59 persen.

Hal itu diungkapkan dalam sebuah studi oleh tim ilmuwan di Imperial College London. Fokus studi ini menghilangkan adanya contrails, yakni garis-garis kondensasi berwarna putih yang biasa dilihat setelah pesawat lewat di langit akibat sisa pembakaran.

Formasi seperti awan ini dapat memiliki efek pendinginan, bertindak untuk memantulkan sinar matahari yang akan memanaskan bumi. Contrails juga dapat menghalangi panas keluar dari bumi.

Pada November 2019, studi dari ilmuwan MIT menyimpulkan bahwa contrails menyumbang 14% perubahan iklim. Contrails tidak bertahan lama, maksimum sekitar 18 jam.

Imbauannya yakni menerbangkan pesawat lebih tinggi atau lebih rendah. Karena, hal itu dapat membantu menghilangkan contrails.

Ketinggian Pesawat Berpengaruh ke Perubahan IklimContrails, jejak pembakaran pesawat (Michael Marston ePixel Images/CNN)

Contrails hanya terbentuk di area dengan atmosfer yang lebih tipis, dengan kelembaban tinggi. Secara teori, dimungkinkan untuk menghindarinya dan bisa mendapat manfaat lingkungan.

Dalam simulasi komputer hingga menghasilkan simpulan itu digunakan data yang tersedia pada pesawat terbang di wilayah udara Jepang. Para ilmuwan menguji apa yang akan terjadi jika pesawat terbang lebih tinggi atau lebih rendah dari jalur penerbangan mereka saat ini.

Jika pesawat menyimpang dari jalur penerbangan maka akan terjadi peningkatan konsumsi bahan bakar. Tetapi kata para peneliti mengatakan bahwa kenaikannya itu kurang dari 0,1 persen.

Andrew Heymsfield, ilmuwan senior di Pusat Penelitian Atmosfer Nasional, mengatakan bahwa temuan itu masuk akal. Tapi, ia mempertanyakan bagaimana implementasinya dalam penerbangan komersil.

Heymsfield mengatakan bahwa pesawat tidak dapat terbang secara sembrono karena harus tetap di jalurnya. Jika perubahan diadopsi akan mengarah pada beberapa pengurangan emisi.

Dunia penerbangan saat ini berkontribusi antara 2-3% dari seluruh emisi CO2 global. Hal ini akan tetap menjadi masalah meski terbang di ketinggian yang berbeda.



Simak Video "Keren! Melihat Pembuatan Miniatur Pesawat di Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA