Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 03 Apr 2020 16:40 WIB

TRAVEL NEWS

Suhu di Antartika Kian Panas

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Antartika
Antartika (Foto: CNN)
Jakarta -

Para ilmuwan kembali mencatat gelombang panas pertama di Antartika. Lokasi kejadiannya di sebuah pangkalan penelitian di Antartika Timur.

Diberitakan CNN, Jumat (3/4/2020), ilmuwan iklim memperingatkan bahwa suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti itu dapat berdampak pada hewan dan tumbuhan di wilayah tersebut.

Para peneliti dari Program Antartika Australia mencatat gelombang panas di Stasiun Penelitian Casey yang terletak di bagian utara Semenanjung Bailey di Pantai Budd. Pencatatan gelombang panas terjadi antara tanggal 23 dan 26 Januari, jatuh pada musim panas di kawasan itu.

Selama tiga hari, para ahli menemukan bahwa daerah itu mengalami suhu tertingginya. Memecahkan rekor, yakni bersuhu 9,2 derajat Celcius di Casey pada 24 Januari.

Selama tiga hari, suhu minimum naik di atas nol, dan suhu maksimum mencapai di atas 7,5 derajat Celcius.

"Gelombang panas terjadi selama tiga hari berturut-turut dengan suhu maksimum dan minimum ekstrem," kata ahli biologi, Dr Sharon Robinson dalam jurnal Global Change Biology.

Para ilmuwan mengatakan bahwa suhu di atas nol mempercepat pencairan es. Wilayah Antartika memanas dengan cepat karena polusi dan gas rumah kaca.

Pemanasan yang diamati di daerah tersebut juga memiliki konsekuensi global yang serius. Utamanya yakni bagi jutaan orang yang tinggal di pesisir, rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Ekolog Antartika, Dr Dana Bergstrom memperingatkan bahwa musim panas yang menghangat di sana dapat mengakibatkan gangguan jangka panjang pada populasi lokal, komunitas, dan menimbulkan ancaman bagi ekosistem yang lebih luas.

"Banjir lelehan air dari es memang dapat menyediakan air tambahan untuk ekosistem gurun di Antartika. Itu mengarah pada peningkatan pertumbuhan dan reproduksi lumut, mikroba, dan invertebrata," kata dia.

"Namun banjir lelehan es yang berlebihan dapat mematikan tanaman dan mengubah komposisi invertebrata dan mikrobanya," imbuh dia.

"Jika es mencair sepenuhnya di awal musim, maka ekosistem itu akan mengalami kekeringan selama sisa musim berikutnya," tegas Bergstrom memperingatkan.

Rekor suhu telah dicatat di seluruh daratan Antartika selama musim panas. Pada bulan Februari, para ilmuwan di stasiun penelitian Esperanza Argentina mencatat suhu hampir 18,3 derajat Celcius, itu di ujung utara Antartika dan itulah suhu terpanas yang pernah dicatat di Antartika.



Simak Video "Suhu di Indonesia Terasa Lebih Panas, Ini Penjelasan BMKG"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA