Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 29 Apr 2020 18:43 WIB

TRAVEL NEWS

Di Tengah Lockdown, Pasar Ramadhan di Malaysia Beralih ke Internet

Elmy Tasya Khairally
detikTravel
Mengintip Bazar Ramadhan di Bondowoso
Foto: Ilustrasi Bazar Ramadhan (Chuk S. Widarsha)
Jakarta -

Sore hari di bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk ngabuburit, berbagai jajanan makanan dan minuman tersedia. Bagaimana situasi di tengah pandemi?

Dikutip dari Reuters, Ramadhan secara tradisional menjadi waktu yang menguntungkan bagi penjual makanan di negara-negara mayoritas muslim. Banyak orang yang menghabiskan waktu di luar rumah sebelum waktunya berbuka, banyak pula yang menyempatkan waktu berbuka puasa bersama di luar rumah bersama kerabat atau keluarga.

Tak hanya di Indonesia, berbagai negara dengan mayoritas muslim seperti Malaysia merasakan perubahan yang signifikan di Ramadhan tahun ini. Terlebih pihak berwenang Malaysia memberlakukan lockdown sebagian hingga pertengahan Mei 2020.

Tak ada lagi ngabuburit, tak ada lagi pasar Ramadhan dan buka puasa bersama. Kerumunan orang biasanya datang mengunjungi pasar Ramadhan yang menyediakan berbagai makanan di Malaysia.

Pergerakan lockdown memaksa ribuan pedagang kaki lima untuk menggunakan platform digital. Jika di Indonesia menjadi hal biasa, di Malaysia hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi para pedagang kaki lima.

"Di Indonesia, Anda dapat memesan hampir semua yang Anda inginkan di aplikasi," kata presiden Asosiasi Pedagang Melayu Malaysia, Rosli Sulaiman.

"Di sini, kita harus melakukan sedikit lebih mendidik karena sebagian vendor terbiasa berada di jalan. Menjadi online atau berurusan dengan transaksi tanpa uang tunai akan menjadi sesuatu yang baru bagi mereka," tambah Rosli.

Dengan adanya virus Corona dan diberlakukan lockdown, pedagang kaki lima di Malaysia mendapat kerugian sekitar 50 juta ringgit untuk atau Rp 177 juta untuk 100.000 pedagang.

Untuk mengatasi dampak kerugian ini, beberapa perusahaan telah mengembangkan platform aplikasi online untuk membantu pedagang bermitra dengan perusahaan pengiriman dan menjangkau lebih banyak pelanggan secara online.

"Ini akan menjadi kurva pembelanjaan yang curam tapi...kami tidak punya pilihan," tambah Rosli.

Akan tetapi, banyak bisnis makanan kecil lebih suka memilih pemasaran secara langsung ke media sosial, karena mereka tidak mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk diberikan kepada perusahaan pengiriman. Sekarang, grup-grup bazaar Ramadhan telah bermunculan di Facebook yang menawarkan layanan pengiriman kepada pelanggan yang dekat dengan mereka.

Seperti bisnis keluarga Siti Zabedah Abdul Qahan yang sudah berjalan selama 15 tahun, kini pun telah beralih ke pemesanan online melalui Whatsapp dan Facebook beberapa minggu sebelum puasa dimulai. Bisnis ini menjual martabak, roti goreng isi daging di pasar-pasar Ramadhan populer di Malaysia.

"Ini adalah pertama kalinya kami berjualan secara online. Jadi kami ingin memulai lebih awal untuk memastikan pelanggan kami dapat menemukan kami," kata Siti Zabedah kepada Reuters.

Tak hanya di Malaysia, pasar Ramadhan online juga didirikan di Singapura.



Simak Video "Malaysia Perpanjang Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA