Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 04 Mei 2020 03:17 WIB

TRAVEL NEWS

Sudan, Negara yang Selalu Menyelenggarakan Iktikaf secara Gratis

Masjid Sudan
Foto: (Faiz Alamsyah)
Jakarta -

Ramadhan merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Selain menjalankan puasa, umat muslim juga berlomba-lomba meraih keberkahan sebanyak-banyaknya.

Berpuasa di Sudan selalu memberikan kesan tersendiri bagi saya. Suhu panas sehari-harinya bisa dibilang selalu stabil di atas angka 40 derajat celcius. Sebagai warga Indonesia, perlu tenaga lebih untuk bisa berpuasa di Sudan. Selain panasnya yang jauh melebihi suhu di Indonesia, makanan yang tersedia untuk sahur dan berbuka juga tak seperti di Indonesia. Segala ujian yang ada membuat siapa pun yang bisa bertahan hidup di Sudan, rasanya ia dapat hidup di mana saja.

Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, mayoritas masjid-masjid besar di Sudan menyelenggarakan iktikaf. Yang menarik adalah masjid-masjid tersebut menyelenggarakan iktikaf secara gratis. Para peserta iktikaf tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Seluruh peserta iktikaf akan dijamin kebutuhannya, terutama sahur dan iftar. Jadi, seluruh peserta iktikaf bisa fokus dalam beribadah di penghujung Ramadan tanpa memikirkan kebutuhan lainnya.

Saya pernah dua kali iktikaf di salah satu masjid di Sudan. Masjid tersebut berada di wilayah Mansiyah, dekat dengan kantor salah satu provider telekomunikasi di Sudan, MTN Sudan. Saya lupa nama masjid tersebut. Kami hanya menyebutnya masjid MTN karena letaknya berada di dekat kantor MTN Sudan.

Untuk mendaftar menjadi peserta iktikaf di sana, panitia meminta identitas dan foto kita. Foto tersebut nantinya akan ditempel di semacam kartu tanda iktikaf. Ini yang akan membedakan jamaah masjid tersebut dengan peserta iktikaf. Panitia menyediakan wilayah khusus untuk tempat meletakkan barang bagi seluruh peserta iktikaf.

Suasana masjid MTNSuasana masjid MTN (Muhammad Faiz Alamsyah)

Panitia membagi seluruh peserta iktikaf ke beberapa kelompok untuk dibuatkan jadwal piket bergilir. Ketika jadwal piket, kelompok tersebut harus melayani peserta yang lain, seperti membersihkan tempat iktikaf, menyiapkan air minum, menyiapkan sahur dan iftar, menyiapkan makan malam, mencuci tempat makan dan lain-lain. Sebagai catatan, makanan sudah disediakan oleh panitia iktikaf. Kelompok yang sedang piket hanya bantu menyediakan ke tempat makan.

Untuk makan sahur, panitia tidak menyediakan aneka menu. Menunya hanya itu saja, entah kebudayaan sahur di Sudan atau memang budaya sahur ketika iktikaf di Sudan. Masalahnya, temanku yang iktikaf di masjid lain juga mendapatkan menu ini. Panitia menyediakan menu yang bernama Ruz bil laban.

Ruz merupakan kata dalam bahasa Arab yang berarti 'Nasi'. Bil berarti 'dengan', sedangkan laban berarti 'susu.' Singkatnya, Ruz bil laban merupakan nasi yang dicampur dengan susu. Itu adalah nasi yang dimasak menggunakan susu, ditambah gula dan terkadang kayu manis. Panitia juga sering menambahkan Kurma dan kismis sebagai menu sahur.

Kami sebagai warga Indonesia tentu tidak biasa memakannya. Saya pernah hanya memakan itu. Hasilnya, saya lemas sepanjang hari dan tidak fokus beribadah karena memang tidak selera. Bersama teman iktikaf yang lain, kami membeli mie instan Indonesia yang dijual di warung dekat masjid iktikaf kami. Mau tidak mau, kami setiap hari selalu sahur dengan mie instan itu.

Tahun depan di masjid yang sama, ada seorang dari kami yang membawa rice cooker agar kami bisa menyantap nasi normal setiap sahur. Tidak apa-apa walaupun lauknya mie instan lagi. Yang terpenting adalah kami bisa kenyang dengan nasi, dan bisa fokus beribadah.

Untuk iftar, tak usah khawatir, Kamu tidak pernah akan bingung untuk berbuka puasa di Sudan. Seluruh masyarakat Sudan berbondong-bondong menyediakan iftar untuk sema orang. Bahkan, mereka sampai memaksa orang-orang yang sedang melewati tempat mereka untuk mau berbuka dengan mereka, bahkan ada yang sampai baku hantam hanya karena berebut orang untuk berbuka dengan mereka.

Suasana berbuka di tempat itikafSuasana berbuka di tempat itikaf Foto: Muhammad Faiz Alamsyah

Masjid-masjid besar di Sudan mayoritas punya kebiasaan ketika melaksanakan tarawih. Sang Imam akan membaca satu juz setiap malamnya. Di malam-malam iktikaf, panitia iktikaf menyelenggarakan salah tahajud. Sang Imam membaca 3 juz setiap malamnya. Di hari terakhir Ramadan, masjid tersebut mengkhatamkan Al Quran dua kali, dari bacaan salat tarawih dan dari bacaan salat Tahajud. Salah satu kelebihan lainnya ketika iktikaf di Sudan adalah peserta bisa mendapatkan ini, selain khatam dari bacaan pribadi. Masyaallah.

Foto bersama peserta itikaf di masjid MTNFoto bersama peserta itikaf di masjid MTN Foto: (Faiz Alamsyah)

Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) sebagai organisasi induk yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia juga memfasilitasi mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang ingin iktikaf di 10 malam terakhir. Biasanya, PPI Sudan memilih masjid kampus International University of Africa sebagai tempat pelaksanaan iktikaf untuk mahasiswa-mahasiswi Indonesia.

Masjid itu dipilih karena pelajar Indonesia mayoritas belajar di kampus tersebut. PPI Sudan memfasilitasi makan sahur untuk para peserta iktikaf. Selain itu, PPI Sudan sebagai panitia juga mengadakan berbagai acara untuk para peserta iktikaf, seperti kajian harian, dan lain sebagainya Seperti kebiasaan iktikaf di Sudan, PPI Sudan juga tidak memungut biaya bagi mereka yang ingin mendaftar sebagai peserta.

Kajian dari PPI Sudan untk peserta ItikafKajian dari PPI Sudan untuk peserta Itikaf Foto: Muhammad Faiz Alamsyah

Iktikaf di Sudan membuat siapa yang sudah merasakannya akan ketagihan. Kita bisa fokus beribadah karena gratis, tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Bicara kebaikan masyarakat Sudan memang tidak ada habisnya, apalagi ketika bulan Ramadhan. Padahal, ekonomi masyarakatnya tidak sebaik Indonesia. Keadaan itu tak pernah mengendurkan mereka untuk berbuat baik kepada sesama. Semua orang berlomba-lomba meraih kebaikan. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi Sudan dan menjaga para penduduknya.

Ramadan kareeem...

Muhammad Faiz Alamsyah

Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences, Sudan

Ketua Departemen Media dan Informasi Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) tahun 2016-2017

-------

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc abdulfatahamrullah@ppi.id, dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.



Simak Video "LDR sama Keluarga, Bikin Hampers Sendiri Yuk! "
[Gambas:Video 20detik]
(elk/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA