Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 10 Mei 2020 09:23 WIB

TRAVEL NEWS

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Ini Anambas Nirwana di Laut China Selatan

Alfi Kholisdinuka
detikTravel
BRI
Foto: Okta Marfianto/detikcom
Anambas -

Pepatah tak kenal maka tak sayang dalam urusan cinta terkadang hanya jadi bualan, tapi lain halnya dengan sebuah pulau terdepan yang menjadi nirwana di perbatasan Laut China Selatan, yakni Kepulauan Anambas. Mari berkenalan lebih dekat untuk menyayangi mahakarya Tuhan nan mempesona ini.

Kepulauan Anambas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di tiga perbatasan negara, Malaysia, Vietnam dan Thailand. Namun banyak orang mengenal Natuna sebagai kabupaten induknya, wajar memang, sebab Anambas hasil pemekaran sejak 2008 silam.

Saat menginjak pertama kali di Anambas, rasa penasaran tentang kehidupan lokal dan budayanya mengalahkan lelahnya perjalanan pagi yang dilalui. Rupanya Kepulauan Anambas dikepalai oleh bupati bernama Abdul Haris.

"Anambas punya 255 pulau yang terdiri 10 kecamatan 52 desa dan 2 kelurahan. Tapi hanya 26 pulau yang dihuni oleh penduduk dari berbagai suku baik Melayu, China, Padang dan Suku Jawa yang mendiami daerah transmigrasi," kata Haris kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Sementara 229 pulau lainnya tidak berpenghuni, menjadikan Anambas kaya akan wisata bahari. Tak heran media internasional sekelas CNN Travel pernah mentahbiskan salah satu pulau di Anambas sebagai Pulau Tropis Terbaik di Asia Pasific, mengalahkan pulau cantik lain di negara tetangga.

Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Pulau-pulau kecil tropis memang menjadi ciri Kepulauan Anambas. Ratusan pulau tersebut tidak berpenghuni karena tidak mendukung pemukiman secara permanen, baik kurangnya ketersedian air bersih, sumber pangan hingga jarak antar pulau besar yang jauh.

Tapi inilah yang membuatnya eksotis. Bagi traveler yang ingin merasakan sensasi berkelana menemukan pulau perawan, Anambas lah tempatnya. Laut biru, pasir putih, ragam koral, biota laut yang melimpah serta sunyinya pulau tropis menjadi daya tarik tersendiri.

Pesona lain yang tak kalah indahnya yakni pemandangan pesisir pulau. Deretan warna-warni rumah penduduk yang terapung bak bersandar di bukit yang hijau, sungguh menenangkan dan mempesona. Di samping dermaga berjejer pula kapal-kapal nelayan sebagai kendaraan utama masyarakat Anambas.

Menurut Haris mayoritas mata pencarian masyarakat Anambas bergantung pada hasil tangkapan laut. Tak heran para nelayan lebih memilih kapal yang mereka sebut 'Pompong' ketimbang diberi mobil berkelas sekalipun.

"Jumlah penduduk yang ada di Anambas 47 ribu jiwa. Sekitar 90% berprofesi sebagai nelayan mereka bergantung pada laut, serta sebagian kecil itu menyebar kepada petani, pengusaha serta pegawai negeri," terangnya.

Bupati Kepulauan Anambas Abdul HarisBupati Kepulauan Anambas Abdul Haris Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Penduduk Anambas pun majemuk baik dari budaya maupun agama. Dalam kesehariannya, masyarakat berbahasa melayu mirip melayu Malaysia. Sementara mayoritas penduduk memeluk agama Islam dan sebagian desa mayoritas penganut kristen. Tak ada perbedaan, semuanya hidup saling berdampingan.

Sayangnya, besarnya potensi wisata, sumber daya laut hingga khasnya budaya Anambas, ternyata belum maksimal berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Anambas (dengan migas) sebesar -0,13%.

Jika mengeluarkan sektor migas, perekonomian Kepulauan Anambas tumbuh sebesar 4,99%, tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 3,28%. Hal ini menandakan perlu upaya maksimal dalam menggalakkan wisata agar bisa berkontribusi meningkatkan ekonomi daerah.

Sebabnya, keadaan geografis wilayah Kepulauan Anambas memiliki wilayah strategis ditinjau dari aspek geopolitik maupun geoekonomi. Dan berbatasan langsung dengan negara Malaysia, Thailand serta Vietnam, maka kedaulatan rupiah harus menjadi perhatian utama.

Menyadari hal itu, BANK BRI hadir di Anambas untuk meningkatkan inklusi keuangan. Di mana masyarakat dapat mengakses layanan perbankan dengan mudah di kepulauan tanpa mengkhawatirkan jarak melalui Bank Apung atau dikenal Teras BRI Kapal.

"Masyarakat dapat mengakses layanan perbankan dengan aman nyaman dan mudah sehingga segala jenis usahanya dan segala jenis tabungan yang dibutuhkan masyarakat bisa terakomodasi," ujar Pemimpin Kantor Cabang BRI Tanjung Pinang Raden Pandu Bagja Sumawijaya.

Pandu juga mengatakan BANK BRI sebagai agen development yang membantu perekonomian masyarakat di pesisir dan kepulauan berharap dengan hadirnya Teras BRI Kapal perekonomian Anambas bisa tumbuh dan berkembang lagi.

"Kita semua tahu Anambas ini adalah perbatasan negara dengan tiga negara, Vietnam, Thailand dan Malaysia, sehingga dengan Teras BRI Kapal ini BRI bisa menjaga kedaulatan rupiah," jelasnya.

Abdul Haris pun berharap hadirnya Teras BRI Kapal yang beroperasi di Pulau Lingai, Pulai Bayat, Pulau Telaga Kecil, Pulau Keramut serta Pulau Letung bisa mempermudah masyarakat dalam bertransaksi, menyimpan uang dan meminjam melalui program KUR BRI untuk meningkatkan usahanya.

"Mudah mudahan Teras BRI Kapal ini bisa terus bertahan dan melayari menyinggahi setiap pulau pulau yang ada penduduknya di Kepulauan Anambas. Dan semoga bisa mengembangkan usaha-usaha kecil, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya masyarakat yang ada di pesisir dan terpencil di Kepulauan Anambas ini," pungkasnya.



Simak Video "Bertemu PM Jepang, Jokowi Berharap Laut China Selatan Damai"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA