Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Mei 2020 07:37 WIB

TRAVEL NEWS

Mengunjungi Suku-Suku Terpencil di Pelosok Dunia Sekali Lagi

Suku-suku paling terpencil sedunia
Suku Q'ero yang berbahasa Quechua di Hatun Q'eros, Peru utara, foto tahun 2018 (Foto: Jimmy Nelson/CNN)
Jakarta -

Perjalanan ini dilakukan oleh seorang fotografer. Ia mengunjungi suku-suku terpencil sedunia di berbagai benua.

Fotografer itu adalah Jimmy Nelson. Dialah yang menerbitkan monograf pertama, buku berisi foto 400 halaman berjudul Before They Pass Away, pada 2013, yang sekaligus menjadi monograf pertamanya.

Subjek buku ini menggambarkan hutan belantara hingga budaya suatu komunitas yang masih memegang erat adat kuno. Dia menemui komunitas yang terisolasi dan mengisolasi dari dunia luar.

Bukunya terjual lebih dari 250.000 kopi di seluruh dunia dengan harga puluhan ribu dolar. Pameran-pamerannya menjadi berita utama di seluruh dunia, mereka memuji hingga terkejut dan ada pula yang mengkritik tajam.

Sekarang, Nelson telah kembali dengan proyek terbarunya, Homage to Humanity. Ia membagikan foto-foto terbaru masyarakat adat berbagai suku di seluruh dunia, dari Siberia ke Sudan Selatan.

Suku-suku paling terpencil seduniaSuku Mandari dari Sudan Selatan, foto tahun 2016 (Foto: Jimmy Nelson/CNN)

Dia kembali tinggal berminggu-minggu dengan Suku Tsaatan, penggembala rusa kutub terakhir Mongolia yang masih hidup. Mereka tinggal di hutan sub-arktik paling terpencil di dunia.

Dia mengambil potret Chukchi, yang tinggal di tundra Kutub Utara Rusia, di mana kondisinya dapat turun di bawah -50 derajat Celcius. Dia memotret Drokpa di lembah Ladakh di Kashmir, Ni-Vanuatau Republik Vanuatu, rangakaian 83 pulau di barat daya Samudra Pasifik, dan sebuah suku dari Lembah Omo di padang pasir Ethiopia barat daya.

Monograf baru ini untuk menyikapi kritik pedas yang ia terima setelah merilis Before They Pass Away. Ia hanya ingin memberi perspektif baru dengan buku barunya itu.

Perjalanan Jimmy dimulai setelah menyelesaikan sekolah pada usia 17 tahun. Ia membeli tiket satu arah ke Tiongkok dan menghabiskan dua tahun di Tibet.

Foto-foto yang diambilnya diterbitkan oleh National Geographic. Setelah itu, Jimmy tak berhenti bepergian, ia menghabiskan puluhan tahun berikutnya dengan aktif mencari komunitas adat yang terpencil.



Simak Video "Sirih Pinang, Dagangan Utama Pasar Desa Boti Timor Tengah Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)
BERITA TERKAIT