Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 03 Jun 2020 18:50 WIB

TRAVEL NEWS

Ilmuwan Temukan Daerah dengan Udara Tebersih di Bumi

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Pengambil sampel udara dari Australian Marine National Facilitys R/V Investigator
Pengambilan sampel udara di Samudra Selatan, Antartika (Foto: CNN)
Jakarta -

Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan daerah dengan udara tebersih di Bumi. Mereka yakin telah mengidentifikasi udara yang terbebas partikel yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Diberitakan CNN, lokasi udara tebersih ini berada di atas Samudra Selatan, yang mengelilingi Antartika.

Dalam penelitian pertama dari jenis komposisi bioaerosol di Samudra Selatan, para peneliti dari Colorado State University mengidentifikasi wilayah atmosfer yang tetap tidak berubah oleh aktivitas manusia.

Cuaca dan iklim terkait erat, menghubungkan setiap berbagai belahan dunia dengan wilayah lain. Ketika iklim berubah dengan cepat karena aktivitas manusia, para ilmuwan dan peneliti berjuang untuk menemukan sudut Bumi yang tidak terpengaruh oleh manusia.

Namun profesor Sonia Kreidenweis dan timnya curiga udara di atas Samudra Selatan paling tidak terpengaruh oleh manusia dan debu dari benua di sekelilingnya.

Para peneliti menemukan bahwa udara di batas lapisan di atas Samudra Selatan, yang memberi makan awan, bebas dari partikel aerosol yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Tiada sisa pembakaran bahan bakar fosil hingga air limbah yang mungkin diangkut udara dari seluruh dunia.

Polusi udara disebabkan oleh aerosol, yang merupakan partikel dan gas padat dan cair yang tersuspensi di udara.

Para peneliti memutuskan mempelajari apa yang ada di udara, dan dari mana asalnya, menggunakan bakteri di udara sebagai alat diagnostik untuk menyimpulkan sifat-sifat atmosfer yang lebih rendah.

Ilmuwan dan penulis pendamping penelitian Thomas Hill menjelaskan aerosol yang mengendalikan sifat-sifat awan di Samudra Selatan sangat terkait dengan proses biologis laut. Artinya, Antartika terisolasi dari penyebaran mikroorganisme dan pengendapan nutrisi.

Ini menunjukkan bahwa Samudra Selatan adalah salah satu dari sedikit tempat di Bumi yang tak hanya sedikit dipengaruhi oleh kegiatan antropogenik.

Para ilmuwan mengambil sampel udara di tingkat batas laut, bagian atmosfer yang berkontak langsung dengan laut ketika kapal riset bergerak ke selatan ke tepi es Antartika dari Tasmania, Australia. Para ilmuwan kemudian memeriksa komposisi mikroba di udara, yang ditemukan di atmosfer dan sering kali tersebar ribuan kilometer jauhnya karena embusan angin.

Ketika menggunakan sekuensing DNA, pelacakan sumber dan embusan angin di lintasan, ilmuwan dan penulis Jun Uetake menemukan asal-usul mikroba adalah dari laut.

Dari komposisi bakteri mikroba, para peneliti menyimpulkan aerosol jauh dari massa tanah dan aktivitas manusia. Tiada polusi atau emisi tanah yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan karena itu tidak bergerak ke selatan.

Penelitian ini diterbitkan pada Senin lalu dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences. Para ilmuwan menggambarkan daerah itu sebagai kawasan yang benar-benar murni.

Polusi udara sudah menjadi krisis kesehatan global dan membunuh 7 juta orang setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penelitian telah menunjukkan bahwa polusi udara meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru.

Lebih dari 80 persen orang yang tinggal di daerah perkotaan dan terpapar polusi udara melebihi batas pedoman WHO. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menderita paparan tertinggi.

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian, polusi udara dapat melintasi batas geografis negara, dan mempengaruhi orang yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat asalnya.



Simak Video "Awas! Mobil Ber-AC Belum Tentu Aman dari Polusi"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA