Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 30 Jun 2020 10:04 WIB

TRAVEL NEWS

4 Perubahan Tiket Kereta Api dari Zaman Belanda sampai Zaman Now

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Warga mengantre untuk membeli tiket Lebaran H-3 di Loket Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (8/5). PT KAI DAOP I telah membuka loket penjualan tiket khusus Lebaran, sehingga calon penumpang dapat memesan tiket keberangkatan dari H-90, melalui loket maupun pemesanan on-line internet. Untuk tiket kereta eksekutif dan bisnis pada tanggal-tanggal favorit menjelang lebaran habis terjual. Agung Pambudhy/detikfoto/file
Tiket kereta api lawas (Foto: agung pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Tiket kereta api sudah mengalami empat perubahan sejak zaman Belanda. Perkembangannya menyesuaikan teknologi yang ada.

Bentuk tiket kereta api yang dikeluarkan pertama kali amat sederhana. Kalau saat ini mungkin lebih seperti karcis masuk kawasan wisata atau karcis parkir.

"Perkembangan tiket menjadi bagian dalam evolusi layanan Kereta Api, dimulai dari bentuk tiket yang paling sederhana hingga pemanfaatan teknologi dan digitalisasi untuk mempermudah para penumpang. Nggak usah berlama-lama yuk disimak Lokopedia minggu ini dengan tema: Tiket Kereta Api Dari Masa ke Masa," jelas akun resmi Kereta Api Indonesia di Instagram.

1. Tiket Edmondson

Tiket dalam KBBI dapat dipahami sebagai karcis kapal, pesawat terbang dan sebagainya. Tiket pertama Kereta Api Indonesia bernama Edmondson yang dikeluarkan di Inggris pada tahun 1840.

Tiket kereta api ini ditemukan oleh Thomas Edmondson yang pada saat itu menjabat sebagai kepala stasiun di Newcastle dan Carlisle. Lebih dari 50 tahun kemudian, tiket Edmondson ini baru diaplikasikan di Indonesia pada masa Hindia-Belanda oleh NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) tahun 1897.

"Rute pertama tiket Edmondson yakni di jalur Semarang-Solo-Yogyakarta. Tiket ini terbuat dari karton berukuran 6x3 cm untuk menggantikan tiket sebelumnya yang ditulis tangan. Jenis tiket ini tetap dipakai setelah perkeretaapian diambil oleh Republik Indonesia hingga dicetak terakhir pada tahun 2009," jelas KAI.

2. Tiket KAI tahun 2009-2016

Tiket KAI keluaran tahun 2009-2016 ini dibuat dari kertas berukuran 20x7 cm dan dicetak dengan printer dot matrix.

Sejumlah tiket kereta api untuk libur Natal dan tahun baru telah ludes. PT Kereta Api Indonesia (KAI) pun akan menjalankan 20 kereta api (KA) tambahan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang jelang Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 ini.Tiket kereta api tahun 2014. Foto: Hasan Alhabshy

Tiket pada masa ini mengalami beberapa kali perubahan dari yang awalnya belum tertera nama penumpang, kemudian ditambahkan hologram di sisi kanan tiket.

Warga mengantre untuk membeli tiket Lebaran H-3 di Loket Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (8/5). PT KAI DAOP I telah membuka loket penjualan tiket khusus Lebaran, sehingga calon penumpang dapat memesan tiket keberangkatan dari H-90, melalui loket maupun pemesanan on-line internet. Untuk tiket kereta eksekutif dan bisnis pada tanggal-tanggal favorit menjelang lebaran habis terjual. Agung Pambudhy/detikfoto/fileAgung Pambudhy/detikfoto/file Foto: agung pambudhy

"Pada versi terakhir dicantumkan pula detail penumpang dan QR Code untuk meningkatkan keamanan tiket dari risiko pemalsuan," kata KAI.

Dalam rentang masa tiket ini sudah dikenal cetak tiket mandiri. Penumpang dapat langsung mencetak tiket kereta api di mesin setelah memasukkan kode booking atau kode pembayaran.

"Pada saat boarding, calon penumpang diwajibkan menunjukkan kartu identitas untuk proses verifikasi, kemudian petugas boarding akan membubuhkan stempel (Telah diperiksa) pada tiketnya," ujar KAI.

[Gambas:Instagram]

3. Tiket boarding pass

Tiket jenis boarding pass ini diperkenalkan pada tahun 2016 dan bahannya lebih tipis. Keunggulan dari jenis tiket ini adalah waktu cetak di check in counter yang lebih singkat, kurang dari dua detik per tiket.

Tiket boarding pass lebih cepat dicetak daripada tiket keluaran sebelumnya yang memakan waktu kurang lebih 10 detik per tiket. Antrean cetak tiket kereta api di mesin check in counter pun bisa dikurangi.

Tiket boarding pass memiliki bentuk sederhana dan dicetak menggunakan printer thermal. Ada detail data penumpang dan kereta api yang dipesan dimuat dalam tiket.

"Bentuk QR Code berubah memanjang dan akan dipindai oleh petugas boarding untuk verifikasi penumpang," jelas KAI.

4. E-boarding Pass

E-boarding Pass adalah tiket terbaru KAI yang menggunakan teknologi terkini. Inilah lompatan terbesar digitalisasi tiket kereta api yang mulai digunakan pada tahun 2017.

E-boarding Pass dikeluarkan oleh aplikasi KAI Access mulai dua jam sebelum keberangkatan kereta api. Setelah e-boarding pass terbit, penumpang dapat langsung melakukan proses boarding dengan memindai QR Code e-boarding pass dan menunjukkan kartu identitas kepada petugas untuk dilakukan verifikasi.

"Penumpang juga dapat menambahkan tiket yang dibeli melalui mitra resmi KAI, untuk menambahkan e-boarding pass lewat KAI Access pada menu 'Tambahkan Tiket'," jelas KAI.

Kereta api menjadi armada yang digunakan warga untuk mengisi libur Natal dan Tahun Baru ke kampung halaman. Seperti yang terlihat di Stasiun Gambir, Jakarta.Calon penumpang di Stasiun Gambir Jakarta Foto: dikhy sasra

"Jika penumpang telah memiliki e-boarding pass maka tidak perlu melakukan proses check-in (cetak boarding pass) di stasiun," imbuhnya.

Traveler pernah mencoba semua jenis tiket kereta api di atas?



Simak Video "Hore! Ada Promo Diskon Tiket Kereta Api Sambut HUT ke-75 RI"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA