Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Jul 2020 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Perbatasan Ditutup, Australia Kehilangan Pelanggan Wine dari China

Rizka Elfira
detikTravel
wine dinner
Ilustrasi wine (iStock)
Jakarta -

Industri wine Australia terkena dampak dari penutupan pembatasan wilayah. Negeri Kanguru kehilangan pasar China.

Calabria Family Wines di New South Wales Riverina, Australia adalah produsen wine dan mengekspornya ke China. Mereka terdampak langsung oleh larangan bepergian yang secara umum juga telah memukul industri wisata Australia. Termasuk, pelanggan tetap mereka, para mahasiswa ataupun yang sudah kembali ke China.

"Mahasiswa China datang ke Australia dan sering tinggal di sini untuk tiga atau empat tahun dan memiliki cara hidup dan kebiasaan baru, termasuk mengonsumsi minuman beralkohol," kata Direktur Penjaualan dan Pemasaran Calabria Family Wines, Andrew Calabria, seperti dikutip ABC.

Andrew bilang red wine atau anggur merah sebenarnya telah populer di China sejak lama, namun mahasiswa itu mulai mencoba varian lain dari wine Australia.

"Mereka memesan lagi wine Australia, dan bukan hanya red wine, tapi juga varian lain seperti sauvignon blanc atau moscato dan itu sangat cocok dengan lidah mereka," dia menambahkan.

"Ini merupakan sebuah langkah jangka panjang, namun menjadi bagian penting untuk membangun citra wine Australia di China," ujar Andrew.

"Kehilangan mahasiswa asing di negara ini menjadi celah besar untuk berkembang," dia menambahkan.

Menilik situasi saat ini, Calabria Family Wine bakal kehilangan pelanggan dari China itu untuk waktu yang cukup lama. Itu setelah pemerintah Australia mengindikasikan menutup perbatasan negara hingga 2021. Satu harapan terbuka dengan adanya rencana untuk membuka pintu lagi bagi mahasiswa asing pada dua universitas terkemuka bulan depan.

Direktur dari Pusat Penelitian Ekonomi Wine di Universitas Adelaide, Kym Anderson, menegaskan Australia telah terkena dampak buruk akibat kehilangan pelanggan dari China. Siswa-siswa dari China di tempat-tempat kursus wine itu secara tidak langsung menjadi agen pemasaran saat pulang ke negara mereka.

"China merupakan bagian besar dari turis asing dan kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu di daerah wine dan mengunjungi gudang wine dan mendapatkan cita rasa baru untuk wine Australia," ujar Anderson.

"Beberapa dari siswa kami di tempat kursus adalah orang China," dia menambahkan.

Saat siswa datang untuk belajar mengenai pemasaran wine, mereka akan kembali ke asalnya dan itu dapat menjadi salah satu cara kita dalam memasarkan produk yang ada.

China telah menempatkan 80 persen tarif dari pertumbuhan gandum Australia dan untuk industri wine akan menjadi target selanjutnya.

"Kebanyakan perkebunan anggur dari Australia memiliki pasaran yang solid lebih dari satu dekade yang lalu di China," ujarnya.

"Kami telah melihat bagaimana tarif dapat berdampak pada penyaluran pemasaran, kami sangat cemas,"

Anderson mengatakan bahwa Industri wine Australia sangat rentan.

"Kami hanya harus mengikuti upaya pemasaran dan berharap kekuatan makro ini tidak mengarah pada wine sebagai salah satu produk yang ingin ditargetkan oleh orang China," ujar Anderson.

Mereka berharap ini akan reda dan tidak menjadi masalah jangka panjang antara Australia dan China. Sebab, prospek pasar wine Australia untuk China sangat besar sehingga mereka tak bsai mengabaikannya.



Simak Video "Rekor! Australia Catat 501 Kasus Baru Corona Sehari"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA