Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 18 Agu 2020 19:09 WIB

TRAVEL NEWS

Profil Suku Tidung yang Baju Adatnya Tampil di Uang Rp 75.000

Putu Intan
detikTravel
Warga dari Suku Dayak Tidung menarikan tarian tradisional di sanggar Busak Malay, Desa Sei Fatimah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (6/10). Berbeda dengan Suku Dayak Tidung lebih mengarah ke Melayu. Ini dapat dilihat dari corak musik dan gerak tari para penari sanggar. Tidung sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi. Tidung sendiri memiliki  arti tanah tinggi atau bukit.
Suku Tidung. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Baju adat Tidung di uang Rp 75.000 ramai diperbincangkan karena dituduh berasal dari China. Padahal baju adat ini adalah milik suku Tidung dari Kalimantan. Mari kita berkenalan dengan suku Tidung.

Suku Tidung merupakan suku yang mendiami wilayah Kalimantan Utara. Suku ini disebut sebagai suku asli Kalimantan dan masih menjadi bagian dari suku Dayak.

Merujuk pada buku Pakaian Adat Sebagai Identitas Etnis: Rekonstruksi Identitas Suku Tidung Ulun Pagun yang ditulis oleh Neni Puji Nur Rahmawati dan Septi Dhanik Prastiwi, suku Tidung lebih dikenal sebagai suku Dayak yang telah beragama Islam.

Namun tak seluruh kelompok masyarakat Tidung menyebut diri mereka sebagai keturunan Dayak. Ada juga yang disebut sebagai Tidung Ulun Pagun yang beragama Islam dan hidup di daerah pesisir.

Asal-usul suku Tidung

Warga dari Suku Dayak Tidung menarikan tarian tradisional di sanggar Busak Malay, Desa Sei Fatimah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (6/10). Berbeda dengan Suku Dayak Tidung lebih mengarah ke Melayu. Ini dapat dilihat dari corak musik dan gerak tari para penari sanggar. Tidung sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi. Tidung sendiri memiliki  arti tanah tinggi atau bukit.Suku Tidung. Foto: Pradita Utama

Menurut Amir Hamzah dalam bukunya berjudul Sekilas Mengenai Suku Bangsa Tidung, terdapat setidaknya 3 versi asal-usul suku Tidung. Menurut versi orang Tidung sendiri, mereka meyakini bahwa nenek moyangnya berasal dari benua Asia yang bermigrasi sekitar abad ke-5 sampai 1 SM.

Nenek moyang mereka diduga mendarat di pantai timur Kalimantan Utara yang kini dikenal dengan daerah Labuk dan Kinabatangan. Mereka kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Tarakan, Bulungan, Nunukan, hingga Pulau Sebatik.

Berbeda lagi dengan versi Hindia-Belanda yang menyebut suku Tidung berasal dari Dayak Kayan. Hindia-Belanda mengakui suku Tidung asli sebagai mereka yang tinggal di Sesayap dan Malinau. Sementara yang tinggal di wilayah lain diabaikan.

Lalu menurut versi Pemerintah Indonesia, suku Tidung adalah Dayak Pantai yang asalnya dari pegunungan Menjelutung. Sedangkan suku Tidung yang tinggal di wilayah pinggiran sungai dan pesisir seperti Nunukan, disebut sebagai ulun pagun atau orang kampung.

Menariknya, ada pula cerita yang menyebut suku Tidung merupakan keturunan Malaysia. Hal itu disebutkan dalam tesis Usman Idris berjudul Ulun Pagun: Konstruksi Identitas Orang Tidung di Pulau Sebatik.

Menurut versi Malaysia, suku Tidung adalah perpaduan antara dua etnis yaitu Dayak Murut dan etnis Suluk. Dikisahkan, Kerajaan Suluk yang berasal dari Sabah mengekspansi Dayak Murut sehingga proses islamisasi terjadi.

Hasil akulturasi itu melahirkan orang-orang yang dinamai suku Tidung yang sebenarnya merujuk pada nama sebuah daerah di dataran tinggi. Ini menguatkan dugaan bahwa suku Tidung berasal dari wilayah pegunungan meskipun kini tersebar di wilayah pesisir.

Karena wilayahnya dekat dengan Malaysia, orang Tidung memiliki bahasa daerah yang juga mirip Melayu. Bahasa Tidung dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu bahasa Tidung, bahasa Bulungan, bahasa Kalabakan, bahasa Murut Sembakung, dan bahasa Murut Serudung. Beberapa kosakata juga mirip dengan bahasa Kalimantan pada umumnya.

Nilai-nilai budaya suku Tidung

Warga dari Suku Dayak Tidung menarikan tarian tradisional di sanggar Busak Malay, Desa Sei Fatimah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (6/10). Berbeda dengan Suku Dayak Tidung lebih mengarah ke Melayu. Ini dapat dilihat dari corak musik dan gerak tari para penari sanggar. Tidung sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi. Tidung sendiri memiliki  arti tanah tinggi atau bukit.Suku Tidung. Foto: Pradita Utama

Sama seperti suku lain di Indonesia, suku Tidung juga memiliki nilai-nilai yang masih mereka pegang sampai saat ini. Nilai tersebut juga dipengaruhi ajaran Islam yang mereka anut. Hal itu dijelaskan dalam Jurnal Orang Tidung di Pulau Sebatik; Identitas Etnik, Budaya, dan Kehidupan Keagamaan karya Muhammad Yamin Sani.

Nilai pertama yang masih dianut adalah menghargai adat istiadat setempat atau dalam bahasa Tidung disebut dimanae tana biyam, dengino kuanan sinantuk (dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung). Sehingga setiap pendatang diwajibkan untuk mengikuti aturan dari suku Tidung.

Kemudian ada juga Tourotus yang artinya suku Tidung memiliki empati mendalam untuk menolong dan memperhatikan kerabat yang membutuhkan bantuan. Suku Tidung juga terkenal akan kesederhanaan dan kekerabatannya yang erat. Mereka senang berkumpul untuk memperkuat solidaritas atau disebut nilai Belimpun.

Nilai lainnya adalah Berinut dimana dalam bekerja mereka lebih memilih untuk melakukannya secara perlahan. Selanjutnya adalah nilai Kutika yang menjadi pedoman mereka dalam bekerja dan dianggap membawa keberuntungan.

Nilai yang tak kalah penting dianut suku Tidung adalah Kepunan. Artinya mereka menjunjung keramahtamahan pada tamu. Suku Tidung akan menyodorkan makanan dan tamu harus mencicipi hidangan tersebut.

Tradisi Unik

Warga dari Suku Dayak Tidung menarikan tarian tradisional di sanggar Busak Malay, Desa Sei Fatimah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (6/10). Berbeda dengan Suku Dayak Tidung lebih mengarah ke Melayu. Ini dapat dilihat dari corak musik dan gerak tari para penari sanggar. Tidung sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi. Tidung sendiri memiliki  arti tanah tinggi atau bukit.Tari Liaban. Foto: Pradita Utama

1. Tradisi Pupuran dalam pernikahan

Calon pengantin suku Tidung wajib untuk mengikuti tradisi Pupuran yang bertujuan untuk menghilangkan segala kotoran dan bau tidak sedap. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Selain untuk merawat kecantikan kulit, Pupuran juga diyakini ampuh menghilangkan hal negatif di calon pengantin.

Prosesinya dimulai dengan kedua calon pengantin ditutup kain kuning yang melambangkan kehormatan. Kemudian keduanya akan dibasuh dengan air kembang tujuh rupa sambil diiringi lagu-lagu Islami.

Setelah dibasuh, kedua mempelai juga dibasuh dengan pupur yang diracik keluarga mempelai wanita. Mereka kemudian dimandikan dan diantarkan untuk melakukan akad nikah secara Islam.

2. Tari Liaban

Tari Liaban merupakan tarian khas suku Tidung yang menggambarkan kehidupan suku Tidung yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Tarian itu menggunakan liaban atau tampi yang digunakan menampi padi.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA