Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 30 Sep 2020 10:31 WIB

TRAVEL NEWS

Sekilas Asal-usul Warung Burjo, Penyelamat Mahasiswa di Tanggal Tua

Satrio Mur Bayu
detikTravel
Warmindo atau warung burjo
Warmindo atau warung burjo di Yogyakarta (Foto: Satrio Mur Bayu/d'Traveler)
Jakarta -

Traveler pasti tahu dan familiar dengan warung burjo atau warmindo. Wisata kuliner ini menjamur di daerah-daerah kampus, contohnya di Yogyakarta.

Warung burjo, sangat identik ditelinga dan lidah anak kos. Burjo sendiri merupakan singkatan dari bubur kacang ijo. Warung burjo sangat mudah untuk ditemui di setiap sudut Yogyakarta.

Mendengar nama itu, banyak yang penasaran dengan asal-usul warung yang identik dengan pedagang berlogat Sunda dan menjamur di Kota Gudeg ini.

Salah satu pedagangwarung burjodi Yogyakarta bernama Mustofa, menceritakan mengenai asal-usul dari warung di Kota Gudeg.

Mustofa merupakan pedagang warung burjo yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Dirinya pergi merantau ke Yogyakarta sekitar 2010, untuk memulai usaha warung burjo.

"Saya kan awalnya penasaran, kenapa warung burjo itu banyak sekali di Yogyakarta. Selain itu juga pedagangnya mayoritas dari Kuningan. Nah, saya nanya ke orang tua saya," kata Mustofa saat ditemui penulis di warungnya.

Kebetulan, orang tua dari Mustofa juga memiliki usaha warung burjo. Kemudian orang tua dari Mustofa bercerita jika orang Kuningan pertama kali yang berjualan bubur kacang hijau bernama Rurah Salim.

"Dulu dia itu jualan burjo dipanggul. Dia jualan bareng istrinya yang berasal dari Kuningan juga," ungkapnya.

mung bean porridgeIlustrasi bubur kacang hijau (Foto: iStock)

Kebetulan burjo buatannya sangat diminati warga Yogyakarta saat itu.

Mustofa juga mengatakan, jika saat itu warung burjo murni hanya berjualan bubur kacang hijau. Tak seperti sekarang ini, kebanyakan warung burjo sudah tidak menjual bubur kacang hijau.

Warung burjo sekarang sangat identik dengan berjualan mi instan. Menurut mustofa hal ini dimulai sekitar tahun 1990-an, hingga banyak yang berganti nama menjadi warmindo atau warung makan Indomie.

Meskipun warung burjo dan pedagangnya berasal dari Kuningan, pada kenyataannya sangat sedikit untuk menemukan warung burjo di kota itu.

Menurut Mustofa, mayoritas orang Kuningan yang berjualan warung burjo menyebar di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Jakarta.

Sementara itu, Mustofa juga mengungkapkan jika jumlah warung burjo yang ada di Yogyakarta tidak bisa dihitung. Dia mengira mungkin jumlahnya mencapai ratusan.

---

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, Satrio Mur Bayu, dan sudah tayang di d'Travelers Stories.



Simak Video "Taman Alam Umbul Sidomukti Ungaran Semarang, Bermain Air Di atas Gunung "
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA