Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 13 Okt 2020 21:07 WIB

TRAVEL NEWS

Amerika Serikat Pertama yang Jadi Porter di Gunung Everest

Porter di Gunung Everest
Porter di Gunung Everest (Foto: Babin Dulal/CNN)
Kathmandu -

Ini adalah kisah pria Amerika Serikat yang menjadi porter di Gunung Everest. Ia berasal dari kalangan berada namun memilih jalan itu untuk mendaki gunung tertinggi di dunia.

Diberitakan CNN, ia bernama Nate Menninger. Pemuda petualang ini berasal dari Boston.

Ia memilih menjadi porter untuk mendaki Gunung Everest dibanding memakai agen yang terorganisir. Pria berusia 26 tahun itu juga jadi warga luar pertama yang menjadi porter di Gunung Everest.

Dalam sehari, Nate dibayar USD 15 atau setara Rp 221 ribu dan harus mengangkut beban sekitar 100 kilogram. Ia harus mampu berjalan di jalanan terjal dan tidur di gubuk beku di mana porter lain beristirahat.

Nate tak menyia-nyiakan perjalanannya itu. Film dokumenter pun tercipta yang menjelaskan betapa besar peran porter dalam pendakian di Gunung Everest dan cara mereka mendapat nafkah di tempat paling keras di dunia.

Porter di Gunung EverestPorter di Gunung Everest (Foto: Babin Dulal/CNN)

Awal mula menjadi porter Gunung Everest

Nate tak langsung menjadi porter kala datang ke Nepal. Sebelumnya, ia menjadi guide di sana, belajar bahasa dan kemudian tertarik mendalami kehidupan para porter.

Di sisi lain, Nate juga ingin mendaki Gunung Everest namun tak mampu membayar izin pendakian hingga fasilitas pendukung untuk menggapai puncak. Ia lalu berpikir menjadi porter adalah jalan gratis menggapainya.

"Ketika saya memandu musim panas itu, saya melihat bagaimana kehidupan porter untuk pertama kalinya. Saya melihat mereka tidur di lantai. Saya melihat bagaimana mereka makan, dan begitu kuatnya mereka," kata dia.

"Dan saya menyadari jika saya mendaki Everest sebagai porter, saya tidak perlu membayar USD 65.000 atau Rp 958,6 juta. Malah akan dibayar," jelas dia.

"Itulah satu-satunya cara yang memungkinkan saya dapat mencoba mendaki Gunung Everest pada usia saya," imbuh dia.

Pada akhirnya, ia tak berencana ke puncak Everest lagi. Ia memutuskan membuat film dokumenter yang mengangkat kehidupan porter selama pendakian 11 hari yang dimulai dari Kota Lukla, di ketinggian 2.865 MDPL, menuju ke Everest Base Camp.

"Tujuan saya adalah mendapatkan pengalaman yang sama persis dengan porter, apa pun yang terjadi," jelas Nate.

"Saya ingin melihat apakah saya kuat menanggung pekerjaan ini dan apakah saya bisa sekuat porter," kata dia.

Pengalamannya yang melelahkan itu direkam dalam film dokumenter berdurasi satu jam. Judulnya 'The Porter'.

Porter di Gunung EverestPorter di Gunung Everest (Foto: Babin Dulal/CNN)

Porter Gunung Everest begitu tangguh

Dalam penggambaran sebagai porter asli, Nate harus mengangkat beberapa tas yang diikat menjadi satu. Ia juga harus tidur di rumah porter yang ramai.

Makanan selama menjadi porter juga sangat sederhana, makan nasi dengan lentil. Hidup dengan pola makan nasi dengan lentil, membuat berat badannya turun hingga 9 kilogram dan tidak mandi selama lebih dari tiga minggu.

Nate ingin larut dalam kehidupan para porter. Namun, apa yang dirasakannya itu masih baru sebatas permukaan saja.

"Saya memiliki pengalaman yang sangat berbeda dari porter biasa karena saya hanya datang untuk satu kali perjalanan. Itu hanya snapshot. Saya tidak terlalu bergantung pada uang," kata dia.

Tiap hari, para porter harus bangun sekitar pukul 07.30 dan pergi ke hotel klien untuk mengambil tas. Lalu, beberapa tas itu diikat dan dimulailah perjalanannya.

"Satu porter membawa tas dua klien, begitulah cara kerjanya. Kamu bergerak sangat cepat. Hampir sepanjang hari," ujar dia.

Selanjutnya: Pengeluaran dan penghasilan porter >>>

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA