Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 01 Des 2020 06:50 WIB

TRAVEL NEWS

Marak Penyelundupan Lobster, Peneliti Minta Revisi Kebijakan Ekspor

Bonauli
detikTravel
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memasuki mobil usai melakukan penggeledahan di Kantor Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Jumat (27/11/2020). KPK melakukan penggeledahan usai ditangkapnya mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama enam tersangka lainnya dalam kasus dugaan suap terkait perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
KKP ( ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta -

Kasus suap ekspor benur (benih lobster) yang dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo membuat heboh masyarakat. Apa ada yang salah dengan kebijakan ekspor?

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan webinar Sapa Media dengan tema Memahami Potensi Lobster dari Prespektif Kelautan dan Sosial. Dalam acara tersebut sejumlah peneliti menjadi nara sumber yaitu Dr Rianta Pratiwi, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dr Sigit Anggoro Putro Dwiono, Peneliti Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI, Varian Fahmi, M.Si, Peneliti Balai Bio Industri Laut-LIPI, Anta Maulana, M.Han, Peneliti Pusat Penelitian Politik-LIPI.

"15 persen terumbu karang dunia ada di Indonesia. Sudah jadi pemahaman umum, terumbu karang yang sehat jadi habitat utama lobster dari segi ekologi maupun ekonomi. Lobster jadi penting karena bergantung tangkapan di alam," ujar Prof. Ocky Karna Radjasa, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI.

Dalam pemaparannya, para peneliti menjelaskan bahwa tentang budidaya lobster yang kini populer dikonsumsi oleh masyarakat. Selain mengenal budidayanya, para peneliti juga memaparkan tentang untung rugi tambak lobster.

Ternyata tidak semua lobster dapat dibudidaya di Indonesia, contohnya lobster karang. Penghasil lobster terbesar Indonesia adalah NTB, selatan Bali dan selatan Jawa.

Melihat masa depan cerah dari lobster, KKP mengeluarkan kebijakan ekspor terbaru yaitu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 12 tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia yang ditandatangani pada 4 Mei 2020.

Permen ini mencabut dan merevisi aturan sebelumnya yang dikeluarkan oleh Susi Pudjiastuti, yaitu Permen KP No. 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Sialnya, Menteri KKP sendirilah yang tersangkut masalah suap ekspor benur saat ini. Masyarakat pun menyangsikan adanya kekuatan dari kebijakan tersebut.

"Jadi pemerintah sudah sangat bagus dalam membuat permen. Ada 10 ketentuan yang harus dipenuhi eksportir benur terkait budidaya. Eksportir boleh melakukan ekspor tapi harus budidaya, 20 persen dari hasil budidaya dikembalikan ke alam sampai adanya budidaya berkelanjutan," ujar Anta Maulana, M.Han, Peneliti Pusat Penelitian Politik-LIPI.

Selanjutnya Permen soal Ekspor Lobster Harus Dievaluasi

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA