Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 03 Mei 2021 19:48 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Tradisi Weh Buweh Setiap Malam 21 Ramadhan di Demak

Demak -

Mengenal tradisi weh buweh atau saling menukar jajanan di malam 21 Ramadhan di Demak, Jawa Tengah. Seperti apa?

Setiap rumah di wilayah kampung Sampangan, Kelurahan Bintoro, Demak menyediakan makanan dan jajanan yang ditaruh di atas meja depan rumah. Bukan untuk dijual, namun bebas dinikmati tetangga.

Anak-anak ditemani ibu dan sanak keluarganya nampak antusias membawa dan mencari jajanan yang ia sukai untuk ditukarkan.

Kepala Museum Glagah Wangi UPTD Dindikbud Kabupaten Demak, Ahmad Widodo, menjelaskan tradisi weh buweh tersebut bertujuan memberikan edukasi terhadap anak untuk bersedekah. Adapun pelaksanaan tradisi tersebut setiap malam 21 Ramadhan, mulai setelah Maghrib hingga menjelang waktu sholat Isya.

Tradisi turun temurun weh buweh atau saling menukar jajanan di malam 21 Ramadhan di Demak, Jawa Tengah.Tradisi turun temurun weh buweh atau saling menukar jajanan di malam 21 Ramadhan di Demak, Jawa Tengah. Foto: Mochamad Saifudin/detikTravel

"Weh Buweh ini tujuannya memberikan edukasi kepada anak-anak kaitan dengan sodaqoh atau sedekah. Karena weh buweh ini pelakunya anak anak, jadi anak-anak tukar menukar jajan. Makanya disebut weh buweh, weh itu memberi buweh itu menerima, jadi saling memberi saling menerima, ijolan atau tukar makanan, yang ditukar adalah jajanan," kata Widodo saat ditemui di kantornya, Senin (3/5/2021).

Widodo menambahkan jajanan yang ditukar oleh anak tersebut tidak memandang harga dan rasa, semuanya sah untuk ditukarkan. Kendati menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan setiap malam 21 Ramadhan, dia memperkirakan tradisi tersebut sudah sejak zaman kerajaan Demak Bintoro.

"Jajan bentuk apa saja, entah itu mahal, tidak mahal, tidak punya yang mahal ditukar dengan yang mahal itu diperbolehkan. Saling memberi saling menerima, weh buweh. Kegiatan itu sudah berlangsung dari generasi ke generasi, entah kapan itu yang jelas saya sejak lahir sudah ada, cerita dari mbah-mbah dan leluhur saya juga sudah ada," ujar Widodo yang juga kecil lahir di Kampung Sampangan tersebut.

Dia menambahkan ada cerita Dukuh Sampangan dulu dihuni oleh masyarakat Sampang-Madura. Jadi, lanjutnya, penduduk muslim Sampang zaman era Brawijaya ketika itu dibatasi dalam ruang lingkup bergama.

Ia mengatakan orang Sampang banyak yang berdomisili di Demak. Menurutnya, orang Sampang yang beragama Islam yang menetap di Demak mengedukasi anak-anaknya untuk bersedekah.

"Jadi tradisi itu sudah terjadi era kerajaan Demak Bintoro, sekitar abad 14," ujarnya.

Selain itu, mulanya tradisi tersebut penyebarannya dari gang 1, 2, 3 Dukuh Sampangan, namun saat ini sudah ke kampung dan desa lain. Dia menyebut seperti kampung kampung di sekitar Kampung Sampangan, seperti halnya Kampung Ratan Anyar, Tukangan, Kembangan, Tirtoyudan, Domenggalan, Beguron, Pandehan, Sempal Wadak, Tembiring, sebagian Setinggil, Kauman dan lainnya.

"Rupa-rupanya tidak di wilayah Kelurahan Bintoro saja yaitu sudah merambah ke desa lain, yaitu Mangunjiwan. Bisa jadi orang Sampangan yang saat ini bermukim di situ," dia menjelaskan.

Tradisi turun temurun weh buweh atau saling menukar jajanan di malam 21 Ramadhan di Demak, Jawa Tengah.Tradisi turun temurun weh buweh atau saling menukar jajanan di malam 21 Ramadhan di Demak, Jawa Tengah. Foto: Mochamad Saifudin/detikTravel

Terpisah, seorang warga di Dukuh Sampangan RW 4, Talkhish menambahkan tradisi ini mengajarkan kepada anak-anak untuk tidak pelit. Nampak selain jajanan, dirinya juga menyediakan balon untuk diambil anak-anak dalam kegiatan Weh Buweh tersebut.

"Saya menyediakan balon karena anak kecil identik dengan balon, ada yang tidak kebagian sampai mengantre. Iya, paling diminati anak kecil. Selain itu, para orang tua tidak menghendaki ada anaknya yang menangis. Saya sendiri bisa menyelami apa yang menjadi kesenangan anak, biar mereka puas," ujar Talkhish yang juga seorang imam Musala Adhhar Kampung Sampangan.

Dirinya mengaku tradisi tersebut sudah berlangsung turun temurun, namun tidak bisa menyebut pasti kapan dan mengapa tradisi itu bisa berlangsung setiap malam 21 Ramadhan.

"Sudah berjalan sejak dulu. Saya kecil pun sudah ada," kata pria kelahiran 1960 tersebut.

Sementara warga lain, Ratih Purwaningsih nampak antusias melayani dan menerima pemberian anak-anak kecil di "lapaknya". Dia mengaku senang lantaran kegiatan tersebut hanya terjadi satu tahun sekali yang diikuti anak-anak kecil.

"Iya, setiap rumah menyediakan makanan bisa berupa apa saja, nasi, jajanan dan lain-lain saat tradisi weh buweh," ujar Ratih.

(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA