Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 14 Agu 2021 12:30 WIB

TRAVEL NEWS

Kesenian Alamadad, Tradisi Tolak Bala Warga Pandeglang Sebelum Gelar Hajatan

Rifat Alhamidi
detikTravel
Kesenian Alamadad di Pandeglang
Foto: (Foto: Dokumentasi Acang)
Pandeglang -

Ragam tradisi Indonesia yang membuat kaya, Banten contohnya. Di sana ada tradisi menolak bala yang dilakukan menjelang hajatan.

Banten selalu memiliki beragam kesenian tradisional yang menarik untuk dipelajari. Bukan hanya terkenal soal debusnya saja, ragam seni tradisional lainnya juga kerap dipertunjukan oleh masyarakat, salah satunya yakni kesenian yang disebut Alamadad.

Kesenian Alamadad sendiri masih terus dilestarikan oleh warga di Kampung Kalahang Masjid, Desa Kadudodol, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang, Banten. Warga kampung itu percaya jika tradisi ini tak dijalankan sebelum menggelar hajatan, maka akan timbul bala bencana yang menimpa sang pemilik hajat.

"Kesenian ini sudah diwariskan kepada kami oleh orang tua kami terdahulu. Apa yang diwariskan orang tua kami ini ya wajib dilaksanakan, kalau tidak akan ada dampaknya," kata Acang, salah satu pengurus kesenian Alamadan di Kecamatan Cimanuk, Pandeglang, Banten saat berbincang dengan wartawan di padepokannya, Sabtu (14/8/2021).

Kesenian Alamadad di PandeglangKesenian Alamadad di Pandeglang Foto: (Foto: Dokumentasi Acang)

Pernyataan Acang memang terdengar sangat aneh dan mustahil terjadi di zaman seperti sekarang. Namun percaya atau tidak, sejumlah warga di kampungnya yang tak mengindahkan tradisi Alamadad ini pernah mengalami kesialan tersebut saat mereka hendak menggelar acara hajatan.

Dimulai dari hidangan makanan yang menjadi basi dan tak sedap untuk dimakan, hingga peralatan dapur yang tiba-tiba hancur dengan sendirinya. Bahkan, ada cerita yang menyebut salah satu warga pernah mengalami kesurupan hingga mengakibatkan dirinya terancam oleh bahaya saat ia berada diluar kendali tersebut.

"Alamadad ini masih kami lestarikan di kampung kami, bahkan sudah menjadi kewajiban. Soalnya ini amanah orang tua terdahulu, kalau enggak dilaksanain biasanya akan timbul hal-hal aneh diluar nalar sama akal sehat kita," terangnya.

Terlepas dari itu semua, Acang menyebut sebetulnya kesenian Alamadad sudah dilestarikan sejak zaman Kesultanan Banten sekira 350 tahun yang lalu. Melalui Sultan Maulana Hasanuddin dan Syekh Maulana Yusuf, kesenian ini digunakan untuk kepentingan syiar Agama Islam di wilayah Banten hingga tiba di Pandeglang.

Untuk memainkannya pun hanya dibutuhkan peralatan yang cukup sederhana, bahkan hampir mirip dengan kesenian debus. Tapi bedanya, Alamadad diiringi oleh ragam salawat dengan dipadukan musik rebana dan hanya menggunakan satu alat khusus yang nantinya akan ditancapkan ke bagian tubuh pemainnya yang diberi nama Sultan.

Kesenian Alamadad di PandeglangKesenian Alamadad di Pandeglang Foto: (Foto: Dokumentasi Acang)

Sultan sendiri merupakan alat yang berbentuk seperti gasing besar yang di bagian kepalanya terbuat dari kayu dengan diberi rantai di sekelilingnya. Sementara, batangnya terbuat dari besi tajam yang kemudian akan ditancapkan ke bagian tubuh pemainnya menggunakan palu besar yang juga terbuat dari kayu.

Dalam memainkan Sultan, keanehan yang lain juga terjadi. Sang pemain yang diberi tugas untuk menancapkan alat tajam menyerupai paku besar tersebut ke bagian tubuhnya malah tidak mengalami luka sedikit pun. Padahal, ujung dari alat yang diberi nama Sultan itu berupa besi tajam dan dipukul sekuat tenaga oleh pemain lainnya.

"Sebelum memulai pertunjukan, biasanya keluarga yang punya hajat diwajibkan menggelar tahlil dengan mengirimkan doa untuk sesepuhnya yang sudah meninggal. Doa-doa itu dikirimkan untuk meminta keselamatan bagi kita semua kepada Allah SWT," tandasnya.

Sementara, peneliti sejarah dari Banten Heritage Dadan Sujana menyebut kesenian Alamadad sebetulnya merupakan tradisi yang kerap dilakukan warga Banten untuk meminta pertolongan dan permohonan kepada Allah SWT Sang Maha Kuasa. Kesenian Alamadad ini tidak hanya populer di kalangan warga Pandeglang, tapi juga tersebar di wilayah Serang hingga Cilegon.

"Sebenarnya Alamadad itu sebutan kepada Syeikh Al-Madad dulunya, itu artinya pertolongan, memohon kepada Allah Yang Maha Penguasa. Nah di kita akhirnya mengalami pergeseran makna menjadi sebuah alat lalu menjadi sebuah pertunjukan yang sekarang dipakai oleh masyarakat dimanapun yang ada tradisi debusnya," katanya.

Terlepas dari kepercayaan masyarakat mengenai tradisi Alamadad, Dadan malah mendorong agar kesenian tersebut harus tetap dilestarikan oleh warga Banten. Pasalnya, para pemain seni tradisional ini masih kerap dimainkan oleh para orang tua dan jarang memikat anak-anak muda di wilayah perkotaan maupun di pelosok desa.

"Sampai sekarang kan tradisi ini masih dipercaya sebagai sesuatu yang sangat sakral, maka memang harus terus dipertahankan. Persoalannya sekarang apakah Alamadad itu digandrungi oleh masyarakat muda di Banten? Kan enggak, pemainnya saja malah mengandalkan orang-orang tua. Nah sebenarnya kita perlu inovasi supaya bagamaina caranya kesenian-kesenian ini tidak hilang dimakan zaman," pungkasnya.



Simak Video "Begini Pengakuan Pengikut 'Raja' di Pandeglang"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA