Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 20 Okt 2021 18:15 WIB

TRAVEL NEWS

Diam-diam Bikin Hanyut, Inilah Blue Hole 'Kuburan Penyelam'

bonauli
detikTravel
A DSLR underwater photo of a woman scuba diving in Tiputa Pass, Rangiroa, French Polynesia. She is tilted down swimming to the bottom. Above her is the water surface brightly lit by sunshine. The water is superbly clear turquoise blue.
Ilustrasi penyelam (iStock)
Jakarta -

Perairan yang satu ini cantik tiada dua. Tapi siapa sangka, yang masuk ke dalamnya bisa hilang tak muncul kembali.

Adalah Blue Hole, di Dahab, Mesir. Pesisir Laut Merah ini terkenal sebagai area snorkeling-diving sampai freedive. Seperti namanya, ada lubang bawah laut dengan lebar sekitar 80 meter di sana.

Dari angkasa Blue Hole memang tampak menggiurkan, tapi kedalamannya lebih dari 100 meter. Sementara area terdangkalnya sekitar 6 meter, yang diberi nama The Saddle.

Setelah itu, ada lengkungan mirip terowongan sepanjang 26 meter di kedalaman 55 meter, yang dinamakan The Arch. Dari The Arch menuju lautan lepas, kedalamannya kembali turun menjadi lebih dari 1.000 meter.

Lanskap bawah laut di Blue Hole berupa karang, sehingga bisa ditemukan banyak kawanan ikan karang di sini.

Di balik keindahannya, Blue Hole terkenal sebagai 'kuburan penyelam'. Selama sepuluh tahun terakhir, sudah tercatat 200 kasus kematian akibat kecelakaan penyelaman di sini.

Pada kedalaman 56 meter, ada lengkungan yang bisa dilewati yang mengarah ke perairan terbuka. Spot ini paling diminati. Walau perairannya terlihat tenang, Blue Hole bukan untuk amatiran.

[Gambas:Instagram]

Banyak dari mereka yang meninggal mencoba berenang di The Arch. Terowongan itu menembus ke Laut Merah. Pemandangannya, disebut Heyes, sangat indah, Mirip kemegahan katedral di bawah laut.

Tetapi penyelam bisa disorientasi selama berada di sana. Dikatakan Heyes, penyelam telah melaporkan melihat cahaya muncul dari terowongan dan, percaya itu adalah permukaan, kemudian berenang ke arah sana.

Pada kedalaman ini, ada kemungkinan untuk menyerah pada kondisi yang dikenal sebagai narkosis nitrogen, di mana menghirup gas dari tabung oksigen yang dibawa pada tekanan tinggi menyebabkan gangguan mental, dan terkadang fisik.

Menurut Dr James Caruso, dokter yang hobi menyelam, narkosis sering disebut "efek martini" di mana saat penyelam masuk lebih dalam, tingkat keracunan meningkat dengan cara yang mirip dengan minum lebih banyak alkohol.

Sama seperti alkohol, narkosis nitrogen mempengaruhi setiap orang secara berbeda, tetapi Caruso mengatakan, "tidak ada yang kebal dari kondisi ini, terutama yang menyelam terlalu dalam".

Narkosis nitrogen diperparah dengan beban yang diangkut penyelam, misalnya ukuran tabung oksigen atau peralatan kamera, sehingga membuat penyelam tak leluasa berenang ke atas saat mulai kehabisan napas.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pembatasan Dilonggarkan, Warga Mesir Padati Pantai di Alexsandria"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA