Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Rabu, 03 Nov 2021 19:37 WIB

TRAVEL NEWS

BKSDA Cek Video Penampakan Macan Tutul di Nusakambangan

Arbi Anugrah
detikTravel
Penampakan macan tutul yang disebut muncul di Nusakambangan, Rabu (3/11/2021).
Foto: Tangkapan layar video yang beredar di WA Group
Cilacap -

Beredar sebuah video di WhatsApp yang memperlihatkan penampakan macan tutul di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. BKSDA sedang memeriksa kebenarannya.

"Itu video sudah seminggu lalu, saya (dapat dari) dishare oleh teman. Saya masih melacak juga untuk mencari tahu dan memastikan video itu diambil dari tepian Nusakambangan (atau bukan). Kalau jenisnya betul macan tutul Panthera pardus," kata Kepala Resort BKSDA Dedi saat dihubungi detikcom, Rabu (3/11/2021).

Video itu merekam momen macan tutul berwarna oranye dengan totol hitam berjalan di samping kendaraan si perekam. Suara pria yang terekam dalam video itu berujar, "Mlaku (jalan) bareng macam tutul. Kerja ditemani macam tutul, jagalah macan tutul."

Dedi menambahkan berdasarkan informasi yang dia dapatkan, video tersebut diambil di sekitar Lapas Kembang Kuning ke arah timur. Masih berdasarkan informasi yang dia dapat, diperkirakan lokasi video itu direkam berada di sekitar tempat penambangan semen di Pulau Nusakambangan.

Dia menjelaskan jika kehidupan macan di Pulau Nusakambangan dari ujung barat hingga ujung timur relatif stabil.

"Tidak-tidak (tidak mengganggu manusia), karena memang sudah jadi instingnya satwa, dia bisa membedakan, mana pakannya, mana musuhnya, mana yang patut dihindari dan mana yang patut didekati," ujarnya.

Namun Dedi tak bisa mengungkap data detail soal populasi macan di Pulau Nusakambangan saat ini. Sebab menurutnya selama ini ada keterbatasan peralatan pemantauan misalnya kamera trap. Dedi mengatakan satu kamera trap idealnya digunakan untuk wilayah seluas 5 hektare.

"Tapi kami ada gambaran, karena kami memonitor secara rutin di ujung barat dan ujung timur serta data yang pernah di lakukan juga dengan monitoring dengan pemasangan kamera trap. Ada 18 ekor," ucapnya.

Selain itu, Dedi juga mengungkap pergerakan macan dapat berpindah-pindah meskipun mereka memiliki ring-ringnya tersendiri.

"Sehingga kita gunakan sistem acak, (pemasangan kamera trap) kesimpulan pendekatan metode ini digunakan karena keterbatasan alat," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA