Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 19 Nov 2021 18:22 WIB

TRAVEL NEWS

Merasakan Terbang ke Bali di Tengah Pandemi

Wings Air
Foto: Rifki Ardita/detikcom
Nusa Dua -

Sudah beberapa tahun sejak saya terakhir kali mengunjungi Bali. Kali ini, perjalanan dinas memberikan kesempatan kembali ke Pulau Dewata, di tengah pandemi.

Melakukan perjalanan ke Bali di tengah pandemi sebenarnya sempat membuat saya berpikir berkali-kali. Maklum, meski COVID-19 tampak sudah lebih terkendali di Indonesia, tapi kekhawatiran akan terjadinya gelombang ketiga sudah banyak berembus termasuk dari para pakar.

Tapi ada sedikit perasaan aman ketika mengetahui bahwa protokol selama bekerja di Bali nanti begitu ketat, bahkan menerapkan sistem gelembung. Persoalannya kini tinggal perjalanan ke sana.

Penerbangan langsung ke Bali niscaya akan lebih baik. Sayangnya tak ada tiket langsung dari Yogyakarta menuju Bali, seluruhnya harus transit minimal sekali. Singkat cerita, saya akhirnya mendapatkan tiket perjalanan dengan transit sekali di Bandara Juanda, Surabaya.

Demi memenuhi syarat untuk masuk ke lokasi acara Indonesia Badminton Festival yang menerapkan sistem gelembung, saya melakukan tes PCR. Itu sekaligus menjadi pegangan perjalanan. Meski pemerintah telah membolehkan tes Swab antigen untuk perjalanan, tapi cara ini lebih hemat karena sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Beruntungnya, saya mendapatkan penerbangan dari bandara Adi Sutjipto, Sleman pada Kamis (11/11/2021) lalu, yang relatif lebih sepi dan dekat ketimbang di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo. Untuk masuk ke dalam bandara, terlebih dulu kami melakukan pemindaian barcode PeduliLindungi untuk menunjukkan hasil tes.

Wings AirTerbang saat pandemi landai tetapi di bawah kekhawatiran gelombang ketiga Covid-91. (Rifki Ardita/detikcom)

Mulai dari check-in, pemeriksaan barang, hingga di ruang tunggu, situasinya relatif tak padat oleh penumpang. Meski demikian, pesawat ATR-300 yang saya tumpangi dalam kondisi terisi penuh. Kami kemudian transit di Surabaya, yang ternyata, jauh lebih padat dari Yogyakarta.

Antrean cukup panjang terjadi setelah kami penumpang transit melapor untuk melanjutkan perjalanan. Di dalam ruang tunggu pun, kepadatan penumpang terasa sementara sejumlah orang tak terlalu peduli lagi soal aturan jaga jarak.

Tak ada lagi pemindaian hasil tes PCR/Antigen untuk kami yang transit. Pesawat yang menuju ke Bali, kali ini menggunakan Boeing 737-900, juga terisi penuh.

Setelah perjalanan yang agak sedikit berguncang karena turbulensi, saya tiba di Bali dengan aman. Para penumpang harus mengisi e-Hac terlebih dahulu sebelum mengambil bagasi dan keluar bandara. Tak ada pemeriksaan lainnya setelah itu, sehingga hasil tes PCR/Antigen hanya dicek sekali ketika sebelum berangkat di Yogyakarta.

Setibanya di penginapan yang masuk dalam area gelembung, saya dan rekan-rekan dari daerah lainnya didata untuk check-in. Hasil tes PCR dan sertifikat vaksin dicek, dicocokkan dengan kartu identitas.

Yang menarik, rekan satu kamar saya yang tiba dari Jakarta menyebut justru pemeriksaan di bandara Soekarno-Hatta lebih longgar. Tak ada pemeriksaan hasil tes PCR hingga ia masuk ke pesawat.

"Pas saya tanya di mana menunjukkan hasil tesnya, petugas bilang di dalam. Tapi di dalam enggak ada tuh dicek, sampai saya naik pesawat," kata Aldi.

Sementara itu, di dalam gelembung, semua orang mesti rutin menjalani tes PCR dan swab antigen. Ya, dua tes itu dilakukan secara simultan. Tes PCR dilakukan per tiga hari, sementara swab antigen nyaris per hari untuk memastikan keamanan.



Simak Video "Kata Kemenkes RI soal PeduliLindungi Eror Pagi Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA