Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 24 Feb 2022 11:17 WIB

TRAVEL NEWS

Film Downfall, Mengorek Borok Boeing yang Merendahkan Lion Air

Pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 dikandangkan di Ngurah Rai (dok. Otban Wil 4 Bali Nusra)
Pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 dikandangkan di Bandara Ngurah Rai (Foto: dok. Otban Wil 4 Bali Nusra)
Jakarta -

Film dokumenter Downfall: The Case Against Boeing adalah kritik habis-habisan buat pabrikan ternama AS itu. Kamu pasti dibuat geregetan saat melihatnya.

Di awal cerita, sutradara menceritakan tentang kenyamanan naik pesawat. Perlu diketahui bahwa transportasi ini adalah yang paling jarang mengalami kecelakaan.

Ada puluhan ribu penerbangan di seluruh dunia di tiap harinya. Dan Boeing begitu perkasa di bisnis ini hingga petaka melanda, yakni kecelakaan Lion Air dan satu dari Ethiopia dengan pesawat sejenis.

Disebutkan bahwa, hingga awal tahun 2018, transportasi udara sangatlah aman. Tiada kecelakaan berarti selama sejarahnya karena Boeing terkenal dengan pesawat yang dapat diandalkan dan aman.

Hampir empat tahun lalu, Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di lepas pantai Karawang, Jawa Barat. Kejadian 29 Oktober 2018 pagi itu membuat gempar Indonesia dan juga dunia.

Dalam investigasi yang begitu lama, pabrikan menyangkal akan adanya masalah di pesawatnya. Boeing 737 Max 8 dinyatakan laik terbang hingga terjadi kecelakaan kedua yang menyebabkan total ratusan penumpang tewas.

Dua kecelakaan baik di Indonesia dan Ethiopia sama. Maskapai menggunakan Boeing 737 Max 8 dan saat kejadian cuaca sedang cerah. Hingga terkuaknya penyebab, aneka pendapat menyalahkan Lion Air hingga regulator di Indonesia dan tak ada yang menyalahkan pesawat.

Penemuan 2 black box

Lalu setelah black box ditemukan, terungkap data adanya kegagalan pada indikator kiri sudut serang. Sensor ini terletak pada kedua sisi pesawat yang mengukur sudut hidung pesawat selama penerbangan.

Saat terjadi malfungsi, stick shacker akan menggetarkan kolom kendalinya untuk memberi sinyal akan terjadinya stall. Namun itu peringatan palsu. Saat itu terjadi banyak distraksi bagi pilot karena banyaknya pengumuman yang tidak tepat hingga hal mengerikan terjadi yakni hidung pesawat terus ditekan ke bawah.

Para pilot melawan dan menaikkan pesawat tapi kejadian itu berulang hingga tak ada waktu lagi untuk naik ke udara.

Lalu, di balik layar, Boeing menyatakan pilot Amerika Serikat tak akan mengalami masalah ini. Dan, awak pesawat Indonesia tidak menjalankan prosedur yang berlaku.

Faktanya, pilot Lion Air menyelesaikan latihan di AS. Hingga akhirnya Boeing merilis pernyataan bahwa pesawat Lion Air mengalami masalah aktivasi MCAS (maneuvering characteristics augmentation system).

Dijelaskan bahwa MCAS adalah perangkat lunak yang terhubung dengan sensor sudut serang untuk mengakomodir karakteristik terbang model Max yang baru. Sistem ini bekerja di balik layar, dan tak akan diketahui pilot jika belum melalui pelatihan.

Jadi, saat sudut serang pesawat terlalu besar di kecepatan tertentu, pesawatnya cenderung mengalami stall. MCAS didesain secara otomatis menurunkan hidung pesawat dan dalam kasus Lion Air JT-610, sudut serangnya rusak yang tanpa sengaja mengaktifkannya berulang kali.

Boeing mengatakan kru tidak melakukan dan merespon sesuai harapan. Lalu semuanya terkejut akan fakta bahwa Boeing tak pernah memberi tahu para pilot akan adanya sistem MCAS di pesawatnya.

Akar dari masalah kecelakaan Lion Air JT-610 menggunakan Boeing 737 Max 8 sangatlah mendasar dan rumit bila dirunutkan. Anda, avgeek, traveler tontonlah film Downfall: The Case Against Boeing untuk mengetahui semua faktanya.

Simak juga Video: Ngeri! Begini Penampakan Terbakarnya Mesin Pesawat Boeing 777

[Gambas:Video 20detik]



(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA