Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 24 Feb 2022 23:04 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Rusia-Ukraina, Luka Lama Tragedi Chernobyl dan Obsesi Putin

KRAMATORSK, UKRAINE - FEBRUARY 24: A woman waits to cross a street on February 24, 2022 in Kramatorsk, Ukraine. Overnight, Russia began a large-scale attack on Ukraine, with explosions reported in multiple cities and far outside the restive eastern regions held by Russian-backed rebels. (Photo by Anastasia Vlasova/Getty Images)
Independence Square di Kota Kiev, Ukraina Foto: Getty Images/Anastasia Vlasova
Jakarta -

Kamis 24 Februari 2022 pagi waktu setempat Rusia mulai melancarkan serangan militer terhadap Ukraina. Akar konflik Rusia-Ukraina ini ada pada urusan politik yang tak lepas dari sejarah kedua negara.

Ukraina dan Rusia adalah negara dengan sejarah yang terkait erat sejak abad ke-9. Berawal dari Kievan Rus yang didirikan di tanah Slavia Timur oleh keturunan Viking (bangsa Varangian) dari Dinasti Rurik yang bermukim di Novgorod (sekarang Rusia). Pemimpin legendaris bernama Oleg memindahkan ibu kota dari Novgorod ke Kiev pada Abad 9 Masehi.

Jadi bangsa ini lah yang meletakkan dasar-dasar bagi Ukraina dan Rusia. Apa yang kita lihat saat ini di Rusia, sebenarnya berasal dari Kiev.

Abad ke 11, Kiev menjadi pusat politik dan kebudayaan terkemuka di Eropa Timur. Selanjutnya, Ukraina menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia hingga Uni Soviet.

Tahun 1930-an, Ukraina mengalami bencana kelaparan massal di bawah rezim Joseph Stalin.

Luka Lama akibat Ledakan Chernobyl

Ukraina memiliki sejarah gelap terkait nuklir. Pada 26 April 1986, terjadi ledakan di reaktor Unit 4 pembangkit listrik Chernobyl, Pryp'yat, yang kini merupakan wilayah Ukraina sebelum merdeka dari Uni Soviet. Ledakan dan kebakaran ini menyebabkan dampak radioaktif 400 kali bom Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Tragedi nuklir terbesar sepanjang sejarah seperti dilansir dari Encyclopedia Britannica ini membuat kerusakan atom dan DNA manusia yang terkena radiasi nuklir hingga kanker. Kendati berbahaya, pemerintah Uni Soviet saat itu merahasiakan tragedi ini dari mata internasional.

Pawai peringatan hari buruh 1986 di Ukraina saat itu juga tetap dijalankan warga tanpa diberi tahu otoritas Uni Soviet akan dampak radiasi yang tersisa. Dampak radioaktif pada korban-korban terpapar membuat Uni Soviet kehilangan kepercayaan dari masyarakat dan mancanegara.

Hingga saat ini, bahkan masih ada Exclusion Zone atau zona terlarang Chernobyl seluas 2.600 km persegi. Zona berbahaya ini masih terkontaminasi radioaktif paling tinggi di antara area terdampak tragedi Chernobyl 1986. Masyarakat dilarang beraktivitas di area ini.

Kendati dibayangi tragedi Chernobyl, Ukraina masih mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa di antara Mykolaiv dan Zaporizhzhia. Masing-masing memiliki penduduk 476 ribu dan 722, 7 ribu jiwa. Kawasan ini berdekatan juga dengan Donetsk.

Ukraina saat ini memiliki 15 reaktor nuklir yang menghasilkan setengah kebutuhan listrik satu negara. Hampir semua jasa dan bahan bakar nuklir Ukraina diperoleh dari Rusia. Namun untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Ukraina perlahan membeli bahan bakar dari Westinghouse, seperti dikutip dari World Nuclear Association.

Obsesi Putin

Setelah Uni Soviet bubar, Ukraina pada tahun 1991 menjadi negara tersendiri pula bersama negara-negara pecahan Soviet lainnya. Mereka tergabung dalam Persemakmuran Negara-negara Merdeka (PNM) atau Commonwealth of Independent States (CIS).

Di sinilah Presiden Rusia Vladimir Putin disebut-sebut terobsesi mewujudkan sejarah Rusia dan Ukraina seperti sebelum tahun 1991 sebagai satu negara.

Mengutip News7 Australia, pada bulan Juli 2021, Putin menulis esai 7.000 kata yang salah satu isinya mengklaim Ukraina adalah sepenuhnya Soviet dan bahwa Rusia dan Ukraina adalah satu bangsa. Ketika Uni Soviet runtuh, menurut Putin, Rusia benar-benar terampok. Kemerdekaan Ukraina dianggap sebagai hal yang salah.

"Saya yakin kedaulatan sejati Ukraina hanya mungkin terjadi dengan bekerja sama dengan Rusia. Karena kami adalah satu bangsa," ujar Putin.

Saat Rusia mencaplok Krimea, tingkat approval rating Putindi mata masyarakat Rusia mencapai rekornya. Saat itu hampir 9 dari 10 orang Rusia mendukung langkah yang dilakukan oleh Putin. Menurut orang Rusia, Pencaplokan Krimeajuga membuat citra Rusia kembali sebagai negara adidaya.

Masalahnya mayoritas masyarakat Ukraina tidak setuju dengan bagian sejarah itu. Malah hampir sepertiga warga Ukraina siap menggelar perlawanan sipil jika Rusia menyerang Ukraina. Salah satu faktor terpilihnya Volodymyr Zelensky sebagai Presiden Ukraina adalah dia selalu vokal mengkritik Rusia. Zelensky kini menjadi corong masyarakat Ukraina yang ingin tetap merdeka.

Simak juga Video 'Mencekam! Saat Pasukan Rusia Ambil Alih Pembangkit Listrik Chernobyl':

[Gambas:Video 20detik]



(ddn/fem)
BERITA TERKAIT