Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 23 Mar 2022 19:05 WIB

TRAVEL NEWS

Delegasi G20 Dijamu Makan Malam ala Keraton Yogya di Royal Ambarrukmo

Sponsored
detikTravel
Royal Ambarrukmo
Foto: Royal Ambarrukmo
Jakarta -

Royal Ambarrukmo Yogyakarta dipercaya menjadi tempat pelaksanaan forum G20 Education Working Group Meeting pada Presidensi G20 Indonesia tahun 2022. Penyelenggaraan pertemuan tersebut di Yogyakarta dinilai tepat mengingat image Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan sekaligus sebagai pusat budaya Jawa atau yang kerap dijuluki sebagai 'The Heart of Java'.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Welcome Dinner kegiatan First Education Working Group Meeting G20 Indonesia 2022 di Bale Kambang, Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta pada Rabu (16/3) lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah DIY.

Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan selaku Chair of G20 Education Working Group Iwan Syahrir berterima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Pemda DIY atas dukungan dan bantuan yang diterimanya.

"Pandemi COVID-19 memunculkan tantangan yang justru menciptakan kepemimpinan global kolektif yang lebih kuat dari sebelumnya dan G20 diharapkan hadir untuk memimpin dunia, menavigasi tantangan pandemi untuk saling bergotong-royong dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya," kata Iwan.

Pada kesempatan Welcome Dinner tersebut, Royal Ambarrukmo sebagai hotel legendaris di Yogyakarta menghadirkan keindahan karya seni kuliner dan minuman kesukaan Raja-Raja Keraton Yogyakarta yang tercipta penuh makna di era Sri Sultan Hamengku Buwono VII hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang disebut Ladosan Dhahar Kembulbujana. Tak sembarang menu yang disajikan namun para tamu delegasi G20 serta tamu Kemendikbudristek pun diajak untuk menikmati kisah dan nilai filosofi dari menu-menu yang dihadirkan saat Ladosan Dhahar Kembul Bujana ini berlangsung.

Royal AmbarrukmoFoto: Royal Ambarrukmo

Ladosan Dhahar Kembul Bujana merupakan tradisi makan mirip dengan tatanan fine dining. Konsep makan ini mengadaptasi dari tradisi makan ala bangsawan Keraton Yogyakarta dengan melibatkan beberapa orang untuk memberikan pelayanan secara eksklusif. Ladosan Dhahar Kembul Bujana ini memiliki arti jamuan makan bersama dengan pelayanan khusus.

Mereka yang melayani jamuan ini khusus mengenakan pakaian tradisional yang identik dengan para abdi dalem asli. Pelayan wanita mengenakan kemben dan kain jarik, sedangkan pelayan laki-laki mengenakan busana peranakan, kain jarik, dan blangkon. Dalam sejarahnya, pelayan dalam tradisi Ladosan Dhahar Kembul Bujana ini merupakan para abdi dalem di Keraton Yogyakarta, tanpa mengenakan alas kaki, dan juga mengenakan Samir yang berbentuk menyerupai pita atau selempang kecil dengan hiasan gombyok di kedua sisi, yang menjadi penanda bahwa Abdi Dalem yang memakainya sedang menjalankan tugas.

Royal Ambarrukmo Yogyakarta yang mengadaptasi tradisi tersebut. Para pelayan yang bertugas membawa arak-arakan sajian dari Ladosan Dhahar ini tidak mengenakan samir, karena di Keraton Yogyakarta samir merupakan kelengkapan yang sangat penting dan tidak sembarang orang boleh memakainya.

Royal AmbarrukmoFoto: Royal Ambarrukmo

Prosesi Ladosan Dhahar Kembul Bujana yang dilakukan di Royal Ambarrukmo ini dilakukan dengan perarakan yang dimulai dari dapur utama diarak memasuki Gadri atau Bale Kambang oleh tujuh petugas perempuan dan laki-laki. Adapun menu yang disajikan sangat eksklusif dalam sajian set menu dengan setidaknya sepuluh menu-menu kesukaan Raja-Raja dari era Sri Sultan Hamengkubuwono VII hingga IX, mulai dari hidangan pembuka hingga hidangan penutup.

Mereka yang bertugas membawa Jodhang ini dipimpin oleh satu orang bekel atau cucuk lampah pemimpin barisan, diikuti pembawa songsong di sebelah kiri beriringan dengan empat petugas pembawa jodhang, dan di barisan terakhir pelayan perempuan yang bertugas nantinya bertugas menyajikan hidangan di meja tamu.

Jamuan makan malam itu turut dimeriahkan dengan sajian tari klasik Srimpi Pandhelori yang dibawakan oleh sanggar tari Royal Ambarrukmo. Srimpi Pandhelori merupakan tari klasik Yogyakarta yang bertemakan nilai-nilai baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Tari ini diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang berkuasa pada tahun 1877-1921.



Simak Video "Pasang Iklan Murah dan Mudah? Adsmart by detiknetwork Aja!"
[Gambas:Video 20detik]
(Content Promotion/Royal Ambarukmo)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA