Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 30 Jul 2022 18:15 WIB

TRAVEL NEWS

Tiket Pesawat Mahal, Turis 'Malas' Main ke Pantai Lakey NTB

Faruk Nickyrawi
detikTravel
Dua orang wisatawan Mancanegara di Alis Bar Pantai Lakey di Desa Huu, Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB)
Dua turis di Pantai Lakey (istimewa)
Dompu -

Pantai Lakey terkenal dengan ombak surfingnya. Tapi sekarang, turis 'malas' main ke sini.

Pantai yang berlokasi di Desa Hu'u, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tak seramai dulu.

Setelah dilanda Pandemi COVID-19, pantai yang terkenal dengan ombak nomor 2 terbaik di dunia itu sepi dari kunjungan para wisatawan Mancanegara.

"Angkanya 60 persen lebih sedikit dibandingkan dengan pada tahun sebelum COVID-19," kata salah seorang pelaku wisata di pantai Lakey, Muhammad Ali pada detikBali Sabtu (30/7/2022).

Ali menuturkan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab wisatawan mancanegara ogah untuk berwisata ke pantai Lakey lagi. Pertama adalah persoalan manajemen transportasi dan akomodasi Bandara yang kurang baik terhadap turis, fasilitas penginapan di pantai yang tidak memadai serta kebersihan pantai.

Ali menegaskan, setiap wisatawan mancanegara dengan tujuan pantai Lakey dipersulit oleh manajemen akomodasi bandara dengan mematok harga jasa sewa transportasi yang mencapai Rp 800 ribu per mobil.

"Manajemen bandara bima yang memonopoli transportasi, penumpang yang masuk di bandara bukan milik bandara bima, harusnya diberi opsi untuk memilih kendaraan, itu hak tamu. Belum lagi dengan harga yang dipatok sampai Rp 800 ribu per mobil dengan jumlah penumpang 5 orang. Itu sangat mahal," jelas Ali.

Selain itu kondisi juga perparah oleh harga tiket yang mahal. Hal itu diketahui setelah Ali yang memiliki rekanan turis guide dari luar negeri menggabarkan hal itu sehingga mereka yang ingin ke Lakey berpikir dua kali.

"Tiket pesawat dari Bali ke Bima Rp 2 juta lebih. Belum lagi bagasinya, satu papan selancar Rp 200 ribu, ini sangat memberatkan mereka. Transportasi dari bandara ke Lakey Rp 800 ribu itu sangat mahal," tuturnya.

Ali yang memiliki usaha hotel dan Bar mengaku merugi karena tidak ada wisatawan yang datang sehingga harus putar otak agar tidak gulung tikar.

"Usaha kami stagnan, Pemda harus ada terobosan dalam menggelar kembali event selancar dunia. Kita sudah punya, tinggal menjual saja, karena dengan event ini kita dapat memompakan kembali nama Lakey di mata dunia," ucapnya.



Simak Video "Momen Mencekam Pilkades di Bima, Kantor Desa Dirusak dan Dibakar"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA