Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 27 Agu 2022 20:40 WIB

TRAVEL NEWS

Walau Ada Turis, Pemulihan Pariwisata di Asia Tidak Merata

Syanti Mustika
detikTravel
QUANG NINH, VIETNAM - MAY 31: Junk boats carry tourists touring Ha Long Bay, after the Vietnamese government eased the lockdown following the coronavirus disease (COVID-19) outbreak, on May 31, 2020 in Ha Long, Quang Ninh Province, Vietnam. Though some restrictions remain in place, Vietnam has lifted the ban on domestic travel, certain entertainment facilities and non-essential businesses to revive its economy. As of May 31, Vietnam has confirmed 328 cases of coronavirus disease (COVID-19 ) with no deaths in the country, 279 fully recovered and no new case caused by community transmission for 46 days. (Photo by Linh Pham/Getty Images)
Ha Long Bay (Linh Pham/Getty Images)
Jakarta -

Wisata di Asia memang telah menerima turis dengan beberapa ketentuan. Namun, sepertinya kebangkitan wisata di Asia tidak merata dan lambat.

Kita bisa melihat bagaimana lonjakan turis di Amerika dan Eropa. Namun berbeda dengan Asia di mana pariwisatanya masih kekurangan turis.

Seperti yang dilansir dari TIME, Senin (22/8/2022) menurut United Nations World Tourism Organization, kedatangan turis internasional di Asia-Pasifik dari Januari-Mei 2022, 90% di bawah level 2019. Angka ini menjadikannya kawasan dengan kinerja terburuk secara global.

Para ahli memprediksi bahwa itu akan terus tertinggal. Lalu lintas domestik dan internasional di Asia-Pasifik tahun ini diperkirakan hanya mencapai 68% dari angka tahun 2019.

Bahkan menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) diprediksi hingga 2025 angkanya tidak akan mencapai tingkat pra-pandemi. Untuk beberapa tujuan, rebound mungkin membutuhkan waktu lebih lama.

Pariwisata di India tidak akan pulih sepenuhnya hingga tahun 2026, menurut sebuah laporan oleh National Council of Applied Economic Research (NCAER).

Kenapa Asia begitu lambat dalam bangkit kembali? Ternyata ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Liz Ortiguera, CEO Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA) mengatakan alasannya adalah pembukaan pasar secara bertahap, pemilihan rute dan kapasitas bertahap, dan persepsi konsumen yang bila bepergian ke daerah yang memiliki pembatasan Covid-19 akan mempersulit mereka.

Namun sepertinya masuk akal bahwa aturan pandemi Asia bisa merusak mood liburan. Bhutan ditutup untuk pengunjung hingga September. Singapura masih mewajibkan orang untuk memakai masker di dalam ruangan.

Vietnam juga membutuhkan masker di tempat-tempat umum. Sedangkan Hong Kong mewajibkan karantina di hotel selama tiga hari yang didanai sendiri diperlukan untuk semua kedatangan, diikuti oleh beberapa hari pengawasan medis di rumah. Yang terakhir melibatkan pemeriksaan suhu dua kali sehari, meng-upload hasil tes RAT harian ke situs web pemerintah, dan mengambil tiga tes PCR dalam periode lima hari.

Hal yang paling berpengaruh adalah ketiadaan pelancong China. Tiga belas negara Asia mengandalkan China sebagai sumber pengunjung utama mereka dan mereka adalah sumber terbesar kedua untuk enam ekonomi lainnya, menurut Indeks Siap Perjalanan dari Economist Intelligence Unit untuk tahun 2022.

Namun pemerintah China khawatir warganya dapat kembali ke rumah dengan virus dan membatasi perjalanan ke luar negeri yang tidak perlu sebagai bagian dari tindakan pandemi yang kejam. Terdamparnya ribuan pelancong domestik baru-baru ini di pulau resor China Hainan, setelah wabah COVID di sana, juga akan membuat banyak traveler berpikir ulang untuk mengambil risiko bepergian di dalam China sendiri.

Nasib agak baik dialami oleh Maldives yang sebagian besar menerima turis India. Mereka termasuk yang mengalami kebangkitan yang cepat.

Steven Schipani, spesialis industri pariwisata utama di Asian Development Bank mengatakan bahwa kedatangan turis internasional Maldive sekarang mendekati tingkat pra-pandemi. Hal ini didukung kampanye vaksinasi yang cepat, konektivitas udara yang baik dengan pasar sumber yang besar, dan persyaratan masuk yang tidak mempersulit.

Hal yang sama juga dialami Fiji, dimana angka kedatangannya di bulan Juli telah 73% dari sebelum pandemi. Begitu juga dengan kedatangan turis ke Bali, Indonesia yang juga menjunglang tinggi.



Simak Video "China Kirim Astronaut Generasi Ketiga pada Tahun 2023"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA