Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 09 Okt 2022 18:40 WIB

TRAVEL NEWS

Di Zaman Belanda, Rakyat Sukabumi Bayar Pajak Pakai Kopi

Siti Fatimah
detikTravel
Transaksi Kedai Kopi di Medan Naik 350% Berkat Tokopedia
Foto: Ilustrasi biji kopi
Sukabumi -

Biji kopi Sukabumi dikenal sebagai 'emas hitam' pada masa kolonial Belanda. Warga pribumi zaman dulu diwajibkan menanam kopi dan jadi alat untuk membayar pajak.

Hal itu disampaikan pegiat sejarah dan pelaku usaha kopi di Sukabumi. Ketua Yayasan Dapuran Kipahari, Irman Firmansyah mengatakan, kebijakan membayar pajak dengan komoditas kopi itu berlangsung dari tahun 1713 sampai 1800-an.

"Setahu saya leverantier zaman Preanger Stelsel adalah penyerahan wajib kopi. Kalau zaman Raffles dari hasil produk bruto pajaknya, komoditasnya tak hanya kopi," kata Irman belum lama ini.

Ada juga yang disebut dengan Contingenten, yaitu berupa pajak yang ditentukan VOC dari hasil komoditas termasuk biji kopi. Pada zaman VOC, kopi menjadi komoditas primadona sehingga pajak terbanyak yang diterima berasal dari kopi.

"Kalau preanger stelsel memang fokusnya Jawa Barat termasuk Sukabumi, karena VOC menguasai penuh sesudah diserahkan dari Mataram, sedangkan Culture Stelsel zaman Belanda ada juga di luar Jawa barat," sambungnya.

Rafindra Jabar (27) pengelola Mason Coffee menambahkan, berbagai literatur menyebutkan, tanah Sukabumi yang subur dimanfaatkan 'habis-habisan' oleh kolonial Belanda untuk menanam kopi.

"Waktu dulu zaman penjajahan itu orang ketika bayar pajak pada penjajah itu ya dia harus bayar dengan biji kopi," kata Rafindra.

Tanah yang dijadikan untuk menanam biji kopi itu disediakan pemerintah Belanda, sedangkan pribumi berkewajiban menanam bibit, membudidayakan, memanen hingga menyerahkan hasil panen kopi kepada mereka.

"Dia harus memiliki biji kopi tersebut. Jadi si penjajah menyediakan lahan, ditanam dan kita harus mengurus itu. Jadi setor ke penjajah," ujarnya.

Bukan tanpa alasan, biji kopi yang didapat dari pajak itu kemudian dijual ke luar negeri. Biji kopi Sukabumi menghasilkan citarasa khas hingga diminati mancanegara.

"Jadi dijual lagi ke luar negeri, mungkin dari segi tanah di kita subur banget, dengan cuaca yang sangat cocok, tingkat panasnya juga bagus. Nah itu bisa berpengaruh pada cita rasa si biji kopi tersebut," ucapnya.

Dia mengatakan, sejarah yang menggunakan biji kopi untuk membayar pajak memang sudah hilang. Akan tetapi, citra biji kopi Sukabumi harus tetap dipertahankan.

"Kita harus bisa bawa dampak ke petani untuk meng-upgrade proses baru, lestarikan kopi di daerah baru. Kita coba untuk mengembangkan daerah, khususnya Sukabumi," tuturnya.


----

Artikel ini telah naik di detikJabar dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Kata Ahli Gizi soal Viral Bayi Dikasih Kopi hingga BAB 9 Kali"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA