×
Ad

ESDM dan BMKG Beberkan Penyebab Banjir di Sumatera

Retno Ayuningrum - detikTravel
Minggu, 30 Nov 2025 16:37 WIB
Banjir di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh (Dok. Pribadi/Sudirman/Antara)
Jakarta -

Badan Geologi Kementerian ESDM dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan faktor penyebab banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah di Sumatera. Curah hujan menjadi faktor paling dominan.

"Kami di Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah," kata Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dilansir detikFinance dari laman Kementerian ESDM, Minggu (30/11/2025).

Lana menyebut bencana yang terjadi di lima kabupaten, yaitu Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara dipicu oleh tiga faktor utama, yakni cuaca ekstrem dengan curah hutan yang tinggi, kondisi geomorfologi serta litologi yang lapuk.

"Curah hujan tinggi hingga ekstrem sebagai faktor dominan. Kondisi geomorfologi yang curam hingga sangat curam serta litologi yang lapuk dan mudah tererosi turut memperparah kerentanan wilayah tersebut," ujar dia.

Lana menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas masyarakat di desa rawan bencana melalui edukasi tanda-tanda awal longsor, penentuan jalur evakuasi, dan pemulihan vegetasi di area lereng. Selain itu, pengaturan tata guna lahan di lereng curam-termasuk pembatasan pembukaan lahan baru dan perbaikan drainase-merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko di wilayah permukiman.

"Peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui identifikasi tanda awal longsor, jalur evakuasi, serta revitalisasi vegetasi lereng menjadi fondasi pencegahan di tingkat tapak. Pengendalian tata guna lahan pada lereng curam termasuk pembatasan pembukaan lahan baru dan perbaikan drainase permukaan merupakan langkah struktural yang sangat menentukan dalam menurunkan risiko pada kawasan permukiman," ujar dia.

Mengenai longsor yang melanda dua kabupaten di Sumatera Utara, Lana menyebutkan bahwa titik-titik kejadian umumnya berada di area perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curam yang mengelilingi Kota Sibolga, terutama di bagian timur dan selatan.

"Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, secara umum Kota Sibolga berada pada zona potensi gerakan tanah menengah-tinggi, yang berarti wilayah ini dapat dan atau sering mengalami kejadian gerakan tanah," ujarnya.

Senada, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan analisis tidak jauh berbeda. Dia menyampaikan bahwa BMKG mengamati perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B yang muncul sejak 21 November 2025 di wilayah perairan timur Aceh dan Selat Malaka.

Analisis itu menunjukkan bahwa keberadaan 95B memperkuat potensi cuaca ekstrem berupa hujan deras hingga sangat lebat dan angin kencang di kawasan Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, serta wilayah di sekitarnya.

"Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dampak dari Bibit Siklon 95B. Saat ini BMKG terus memantau intensitas 95B dan meminta stakeholder terkait untuk memastikan langkah mitigasi demi meminimalisir hal yang tidak diinginkan," kata dia.

***

Selengkapnya klik di sini.

Baca artikel detiksumut, "ESDM Beberkan Penyebab Banjir di Sumatera: Hujan Ekstrem Faktor Dominan" selengkapnya https://www.detik.com/sumut/berita/d-8235637/esdm-beberkan-penyebab-banjir-di-sumatera-hujan-ekstrem-faktor-dominan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/



Simak Video "Video: BNPB Bicara soal Heboh Minimarket di Sibolga Dijarah Warga"

(rea/fem)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork