Dalam pendakian gunung es, tidak semua keputusan punya pilihan yang aman. Kadang, yang ada hanya dua risiko-dan keduanya bisa berujung fatal. Situasi inilah yang pernah dihadapi pendaki Indonesia Furky Syahroni saat berada di ketinggian ekstrem Mera Peak.
Kala itu di ketinggian sekitar 6.475 mdpl, tubuhnya mulai bereaksi terhadap kondisi ekstrem. Dingin menusuk, oksigen menipis, dan tubuh mulai kehilangan sensitivitas.
"Jari kaki dan tangan udah kaku (literally) karena udah nggak kerasa apa-apa. Gw kira gw akan kena frostbite waktu itu. Udah pasrah. Karena anginnya kencang banget," tulis Furky dalam unggahan Instagram-nya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kondisi di gunung tidak memberi ruang untuk diam terlalu lama. Dia dihadapkan pada dilema yang sangat berbahaya, yakni antara tetap bergerak dengan risiko frostbite, sebuah kondisi medis ketika jaringan tubuh membeku karena paparan suhu dingin ekstrem, biasanya pada suhu di bawah titik beku (0Β°C), atau bertahan di tenda dengan risiko Acute Mountain Sickness (AMS) yang bisa berdampak fatal pada otak.
"Saya pernah dihadapkan dengan kondisi sama-sama sulit. Tetap berjalan namun berisiko frostbite atau tetap berlindung di tenda tetapi risiko AMS yang bisa menyebabkan kerusakan fatal pada otak," kata Furky dalam wawancara dengan detikTravel.
Tidak ada pilihan yang benar-benar aman. Yang ada hanyalah keputusan dengan tingkat risiko berbeda.
"Di sana saya belajar bahwa hidup tidak selamanya memberikan pilihan baik atau buruk. Kadang juga hanya menyisakan pilihan buruk dan lebih buruk. Pastikan kita memilih yang paling sedikit kerusakannya (damage)," kata dia.
Situasi itu menjadi salah satu titik paling kritis dalam pengalamannya mendaki gunung es. Cuaca ekstrem, angin kencang, serta kondisi tubuh yang mulai melemah membuat setiap langkah terasa seperti pertaruhan.
Saat itu, Furky memilih untuk terus bergerak. Dalam kondisi yang sudah sangat terbatas secara fisik, ia bertahan selama beberapa jam untuk mencapai area camp.
Pengalaman itu tidak hanya menjadi ujian fisik, tetapi juga cara berpikir dalam kondisi ekstrem. Di dalam situasi itu, setiap keputusan harus diambil cepat, tanpa jaminan hasil yang aman.
Bagi Furky, momen-momen seperti itu justru menjadi refleksi paling jujur tentang manusia. Di gunung, dia belajar bahwa batas antara bertahan hidup dan menyerah sering kali hanya ditentukan oleh satu hal, keputusan dalam tekanan paling tinggi.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Furky menunjukkan bahwa keterampilan, kesiapan mental, dan kemampuan mengambil keputusan dalam tekanan menjadi hal yang jauh lebih penting daripada sekadar kekuatan fisik, terutama ketika berada di medan yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Dan, perempuan bisa melakukannya, seperti dia.
"Sejak aktif naik gunung, bagaimana saya memandang dan memecahkan masalah jadi lebih simpel dan tajam," kata Furky.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Kalau Budget Bukan Jadi Masalah, Mau Liburan ke Mana?
Visa Ditolak, Iran Tuduh AS Diskriminasi Delegasi Timnas Jelang Piala Dunia
Heboh Penampakan Bromo Diselimuti Salju untuk Pertama Kali di 2026