Saat Petugas Kebun Binatang Digigit Tapir yang Terancam Punah

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Saat Petugas Kebun Binatang Digigit Tapir yang Terancam Punah

Bonauli - detikTravel
Sabtu, 05 Sep 2026 15:33 WIB
Visitors walk to enter the new Bird Paradise park in Mandai Wildlife Reserve during its official opening in Singapore on May 8, 2023. (Photo by Roslan RAHMAN / AFP) (Photo by ROSLAN RAHMAN/AFP via Getty Images)
Foto: Roslan Rahman/AFP/Getty Images
Singapura -

Kebun binatang Singapura melaporkan sebuah kecelakaan yang dialami oleh petugas dan hewan yang terancam punah.

Seorang petugas perawat di Mandai Wildlife Singapura harus dirawat di rumah sakit oleh tapir Malaya pada Rabu (26/8). Saat itu petugas sedang melakukan kegiatan rutin penutupan dan menggiring tapir Malaya ke kandang istirahat, seperti dikutip dari The Strait Times, Sabtu (5/9/2026)

Namun tiba-tiba saja, hewan liar itu menggigit petugas tersebut. Tapir yang terlibat dalam insiden itu adalah betina berusia 23 tahun yang masih berada dalam perawatan Mandai Wildlife Group.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru bicara kebun binatang menambahkan bahwa petugas kedua, yang juga berada di area pameran, turun tangan membantu rekannya, dan tapir itu berhasil diamankan di kandangnya tak lama kemudian.

"Petugas kebun binatang tersebut, yang saat ini berada di rumah sakit, sedang dalam proses pemulihan di bawah pengawasan medis yang ketat," kata juru bicara tersebut.

ADVERTISEMENT

Tapir pada umumnya adalah hewan yang pemalu dan tidak agresif, serta insiden seperti ini jarang terjadi, ujar juru bicara tersebut.

"Pada saat yang sama, insiden ini menjadi pengingat bahwa semua hewan liar, bahkan mereka yang sudah akrab dengan perawatnya dan umumnya terbiasa dengan kehadiran manusia, dapat berperilaku di luar dugaan dan berpotensi menyebabkan cedera," kata Mandai.

Tapir Malaya, satu-satunya spesies tapir yang berasal dari Asia dan diklasifikasikan sebagai hewan terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hal itu berarti spesies ini memiliki risiko tinggi untuk punah di alam liar.

Dalam pernyataannya pada 29 Agustus, juru bicara tersebut mengatakan pihaknya sedang meninjau insiden ini serta prosedur operasionalnya untuk menentukan apakah ada langkah-langkah tambahan yang dapat lebih meningkatkan keselamatan baik bagi staf maupun hewan.



(bnl/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads