Perang Cendol Dawet Digelar Warga Temanggung demi Meminta Hujan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Perang Cendol Dawet Digelar Warga Temanggung demi Meminta Hujan

Eko Susanto - detikTravel
Sabtu, 26 Sep 2026 16:13 WIB
Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026).
Perang cendol dawet di Temanggung untuk meminta hujan (Eko Susanto/detikJateng)
Temanggung -

Warga Temanggung punya tradisi unik untuk meminta datangnya hujan. Mereka akan menggelar perang cendol dawet. Seperti apa keseruannya?

Warga Desa Kemiriombo di Kecamatan Gemawang, Kabupaten Magelang menggelar tradisi perang cendol dawet dan salat Istisqa setelah berbulan-bulan tak turun hujan di wilayah mereka.

Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh warga untuk meminta hujan. Tradisi ini digelar di perkebunan kopi, tepatnya di pepunden bon gede atau bon agung di Dusun Gabug, Desa Kemirirejo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedari pagi, warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani kopi sudah memadati lokasi acara. Baik ibu-ibu, bapak-bapak maupun pemuda datang dengan membawa dawet.

ADVERTISEMENT

Ada yang datang dengan ember, panci maupun membawa dawet dengan dibungkus plastik. Acara dimulai dengan salat Istisqa yang diikuti sebagian warga. Setelah salat, dilangsungkan doa bersama.

Kemudian warga tanpa dikomando saling melempar cendol dawet yang sudah mereka bawa sebelumnya. Cendol dawet tersebut disebar. Ada juga yang dilempar mengenai warga lainnya.

Warga nampak saling tertawa saat lempar-lemparan cendol dan dawet itu. Mereka nampak gembira meski bajunya basah kuyup dan lengket karena gula.

"Acara hari ini, pertama kita melakukan salat Istisqa agar diberi hujan. Karena di desa kita sudah beberapa bulan tidak turun hujan. Setelah itu, kita slametan dan lempar-lempar candil dawet (perang cendol dawet)," kata Kepala Desa Kemiriombo, Nur Wahyu kepada wartawan di lokasi, Jumat (25/9).

Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026).Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

Tradisi ini disebut hanya digelar jika kemarau berkepanjangan. Terakhir, warga menggelar tradisi ini tiga tahun lalu, saat El Nino seperti saat ini.

"Terakhir dilangsungkan tahun 2023. Kekeringan di sini sudah berlangsung sekitar 4,5 bulan. Tapi karena dengan kondisi cuaca ekstrem sangat panas banyak pohon-pohon kopi yang sudah mati dan mengering," sambungnya.

Nur pun tak mengetahui sejarah awal mula tradisi ini digelar. Ia menyebut warga hanya mengikuti tradisi turun temurun yang telah dilakukan sejak dulu.

"(Kenapa dipilih cendol dawet bukan yang lain) Lha itu sudah pesenan ataupun tradisi dari nenek moyang menggunakan cendol dawet. Kita balang-balang cendol itu turun temurun kita laksanakan," imbuhnya.

"Kita ambil pas di Jumat Kliwon. Karena itu menjadi hari sakral di untuk Desa Kemiriombo," katanya.

Ia berharap usai tradisi ini digelar hujan segera turun di wilayahnya. Sebab, kemarau panjang cukup menyulitkan bagi mayoritas warganya yang merupakan petani kopi.

"Ada 90 persen petani kopi jenis robusta," tambahnya.

"Harapannya agar segera diberi hujan dan para petani bahagia ketika hujan turun. Dan seluruh tanaman kembali tumbuh dengan baik. Kemarau bisa tidak dilaksanakan khusus ketika tanaman sudah banyak kering kita laksanakan tradisi ini," tambahnya.

Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026).Suasana perang cendol dawet untuk meminta hujan di Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng

Sementara itu, salah satu warga, Tumini (67) warga Gabug, mengatakan, ini acara tradisi dari nenek moyangnya. Ia membuat cendol dawet hanya secukupnya.

"Karena kemarau (tradisi) ini untuk meminta hujan. Segera turun hujan semoga membawa berkah," katanya.

"Tradisi ini sejak zaman dulu. Saya buat cendol dawet kemarin sore," ujarnya.


--------

Artikel ini telah naik di detikJateng.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads